Senin, 26 Desember 2016

Sejarah Rasulullah saw Bagian 7

Kaum Mukmin Dianiaya


Tuhan mulai berfirman kepada Muhammad saw. dalam “bahasa lain”. Pemuda-pemuda bangsa mulai tercengang. Para pencari kebenaran mulai menjadi gelisah hati. Dan, cemooh dan ejekan mulai tumbuh jadi pengakuan dan kekaguman. Budak-budak, pemuda-pemuda, wanita-wanita yang dirundung malang mulai berkumpul di sekitar Rasulullah saw. Dalam Amanat dan ajarannya ada harapan untuk orang-orang hina-dina, untuk orang yang putus-asa dan untuk angkatan muda. Wanita-wanita memandang bahwa waktunya telah dekat untuk menegakkan kembali hak-hak mereka. Budak-budak melihat hari-hari kemerdekaan mereka telah datang  dan pemuda-pemuda merasa jalan-jalan kemajuan mulai terbuka lebar. Ketika ejekan mulai berubah menjadi penghargaan dan acuh tak acuh menjadi perhatian, pemimpin-pemimpin Mekkah dan pembesar-pembesar mulai khawatir. Mereka mengadakan pertemuan dan perundingan. Mereka mengambil keputusan bahwa ejekan bukan cara yang tepat untuk menghadapi ancaman itu. Obat yang lebih mujarab harus digunakan. Pengaruh baru itu harus ditekan dengan kekuatan. Diputuskan bahwa aniaya dan beberapa bentuk boikot harus diselenggarakan. Tindakan praktis dan nyata harus segera diambil dan Mekkah terlibat dalam perlawanan yang sengit terhadap Islam. Rasulullah saw. dan pengikut-pengikutnya yang kecil jumlahnya itu tidak lagi dipandang gila tetapi membesarnya pengaruh, yang jika dibiarkan tumbuh tanpa rintangan, akan menjadi bahaya terhadap kepercayaan, wibawa, adat, dan kebiasaan orang-orang Mekkah. Islam mengancam akan menumbangkan dan membina kembali tata hidup masyarakat Mekkah lama untuk menciptakan langit dan bumi baru yang kedatangannya membawa arti lenyapnya langit Arabia lama dan lenyapnya denyut jantungnya yang telah tua itu. Kaum Mekkah tak dapat lagi menertawakan Islam. Sekarang soalnya mati-hidup bagi mereka. Islam adalah tantangan dan Mekkah menerima tantangan itu, sebagaimana musuh nabi-nabi senantiasa menerima tantangan nabi-nabi mereka. Mereka memutuskan untuk menghunus pedang dan menghancurkan, untuk tidak menghadapi alasan dengan alasan, tetapi menghancurkan ajaran yang berbahaya itu dengan kekerasan, untuk tidak menandingi contoh baik Rasulullah saw. dan para pengikutnya dengan contoh dari pihak mereka, pula untuk tidak menjawab kata sopan dan lemah-lembut dengan cara yang sama, tetapi untuk menganiaya yang tak berdosa dan memaki-maki mereka yang bicara baik dan ramah-tamah. Sekali lagi di dunia mulai meletus pertentangan antara iman dan kekafiran; kekuatan setan menyatakan perang kepada laskar malaikat.

Orang-orang beriman yang masih berjumlah kecil, tak mampu melawan serangan-serangan dan keganasan kaum kufar. Suatu gerakan yang paling keji dan mengerikan telah mulai berkobar. Wanita-wanita dibunuh secara biadab. Laki-laki disembelih. Budak-budak belian yang telah menyatakan iman kepada Rasulullah saw. dihela di atas pasir dan bebatuan yang panas membara. Kulit mereka menjadi keras seperti kulit belulang binatang. Lama kemudian, ketika Islam telah tegak berdiri (berjaya) di mana-mana, salah seorang dari pengikut-pengikut pertama yang bernama Khabbab bin Al-Arat menanggalkan baju untuk memperlihatkan badannya yang terbuka. Kawan-kawannya melihat kulitnya keras seperti kulit belulang binatang dan bertanya, mengapa kulitnya begitu. Khabbab tertawa dan menjawab bahwa itu bukan apa-apa; itu hanya bekas yang mengingatkan ke zaman awal ketika budak belian yang masuk Islam dihela sepanjang lorong-lorong Mekkah di atas pasir dan bebatuan yang keras dan panas (Musnad, Jilid 5, hlm.110).

Budak-budak belian yang menerima Islam datang dari berbagai-bagai masyarakat. Bilal orang negro. Suhaib orang Yunani. Mereka pengikut berbagai agama. Jabar dan Suhaib tadinya orang Kristen. Bilal dan Ammar penyembah berhala. Bilal dibaringkan di atas pasir yang panas membara ditimbuni batu dan anak-anak disuruh menari-nari di atas dadanya dan majikannya, Umayya bin Khalf, menganiayanya demikian rupa dan kemudian menyuruhnya menanggalkan kepercayaan kepada Allah dan Rasulullah untuk memuja berhala-berhala Mekkah, Lat dan Uzza. Bilal hanya mengatakan, “Ahad, Ahad” ….. (Tuhan itu Tunggal).

Meluap-luap di dalam kemarahan, Umayya menyerahkan Bilal kepada anak-anak jalanan, menyuruh mereka mengikat tali pada lehernya dan menghela dia melalui kota di atas batu-batu tajam. Badan Bilal berlumur darah tetapi terus jua menggumamkan, kata, Ahad, Ahad ….. Kemudian, ketika kaum Muslimin telah berhijrah ke Medinah dan dapat hidup dengan tenang dan dapat beribadah dengan agak aman dan damai, Rasulullah saw. menunjuk Bilal sebagai muazin. Sebagai orang dari Afrika, Bilal menghilangkan bunyi huruf h dari kata Asyhadu (aku menyaksikan). Beberapa kaum Ansar tertawa mendengar pelafalan yang tidak sempurna Bilal, namun Rasulullah saw. menyesali mereka dan menerangkan bahwa Bilal  amat dihargai Tuhan atas keteguhan iman yang ditampakkannya di bawah tindakan aniaya kaum Mekkah. Abu Bakar membayar uang tebusan Bilal dan banyak lagi budak lain dan mengikhtiarkan pembebasan mereka. Di antara mereka terdapat Suhaib, seorang saudagar kaya, yang juga dianiaya terus oleh kaum Kuraisy sesudah ia dibebaskan. Tatkala Rasulullah saw. meninggalkan Mekkah guna berhijrah ke Medinah, Suhaib pun ingin mengikuti. Tetapi, kaum musyrikin menahannya. Ia tidak boleh membawa keluar dari Mekkah, kata mereka, kekayaan yang diperolehnya di Mekkah. Suhaib menawarkan usul untuk meninggalkan semua kekayaan dan harta miliknya lalu bertanya apakah kemudian ia diperbolehkan pergi. Kaum musyrikin Mekkah menerima syarat tersebut. Suhaib tiba di Medinah dengan tangan hampa dan menemui Rasulullah saw. yang telah mendengar ihwalnya dan mengucapkan selamat kepadanya sambil berkata, “Itu merupakan perniagaan terbaik selama hidupmu.”

Kebanyakan dari antara pengikut-pengikut yang tadinya budak-budak, tetap tegar dan teguh dalam menyatakan keimanan lahir dan batin mereka.

Namun, ada pula beberapa yang lemah. Sekali peristiwa Rasulullah saw. mendapatkan Ammar sedang mengaduh-aduh kesakitan seraya mengeringkan air mata. Rasulullah saw. menghampiri Ammar yang mengatakan bahwa ia telah dipukuli dan dipaksa murtad. Rasulullah saw. bertanya, ”Tetapi, adakah kamu masih beriman di dalam hatimu?” Ammar mengiakan dan Rasulullah saw. mengatakan bahwa Tuhan akan mengampuni kelemahannya.

Ayah Ammar, Yasir, dan ibunya, Samiyya, juga dianiaya oleh orang-orang kufar Mekkah. Pada suatu peristiwa yang serupa, Rasulullah saw. kebetulan lewat. Penuh dengan iba hati beliau bersabda, “Keluarga Yasir, bersabarlah; sebab, Tuhan telah menyediakan surga untuk kamu.” Kata-kata nubuatan itu segera menjadi kenyataan. Yasir gugur dalam penderitaan dan tak lama kemudian Abu Jalal membunuh istri Yasir tua, Samiyya, dengan tusukan tombak.

Zinnira, seorang sahaya-wanita, matanya rusak akibat kebengisan kaum kufar.

Abu Fukaih, budak Safwan bin Umayya, dibaringkan di atas pasir panas, sedang di atas dadanya diletakkan batu-batu berat lagi panas sehingga karena rasa sakit lidahnya terjulur ke luar.

Budak-budak lain di aniaya dengan cara serupa itu pula. Kekejaman-kekejaman itu tak terperikan hebatnya. Akan tetapi, orang-orang mukmin dari zaman awal itu dapat menanggung derita itu, karena hati mereka dikuatkan oleh ungkapan-ungkapan jaminan yang mereka simak tiap hari dan tiap malam dari Tuhan. Alquran turun kepada Rasulullah saw. tetapi suara Tuhan yang memberi keyakinan turun kepada semua orang beriman. Seandainya tidak demikian, orang-orang yang beriman tidak akan dapat menghadapi kekejaman-kekejaman yang mereka alami. Ditinggal oleh sesama, oleh sahabat dan sanak saudara, mereka tak punya siapa pun kecuali Tuhan dan mereka tak peduli kalau tak punya siapa pun lagi. Karena Dia, kekejaman-kekejaman itu seolah-olah bukan apa-apa, cacian kedengaran laksana doa dan batu-batu seperti beledu.

Penduduk kota yang merdeka tapi beriman tak kurang pula menderita keganasan. Tetua-tetua dan pemimpin-pemimpin mereka menganiaya mereka dengan macam-macam cara. Usman adalah seorang berumur 40 tahun dan berada. Tetapi, pada saat kaum Kuraisy mengambil keputusan mengadakan penganiayaan umum terhadap kaum Muslimin, pamannya, Hakam, mengikatnya dan memukulinya. Zubair bin Al’Awwam, seorang pemuda pemberani, yang dihari kemudian menjadi panglima Islam yang masyhur, diikat dalam gulungan tikar oleh pamannya, diasapi dari bawah dan sangat menderita oleh sesak nafas. Tetapi ia tak mau menanggalkan imannya. Ia telah menemukan kebenaran dan tidak melepaskannya lagi.

Abu Zarr dari suku Ghaffar mendengar tentang Rasulullah saw. dan pergi ke Mekkah guna penyelidikan. Kaum Mekkah mencoba menghalang-halangi dengan mengatakan bahwa mereka mengenal betul Muhammad dan bahwa gerakannya itu hanya bertujuan untuk kepentingan sendiri. Abu Zarr tidak terpengaruh, ia menjumpai Rasulullah saw. mendengar amanat Islam langsung dari beliau dan baiat, masuk Islam. Abu Zarr memohon diperbolehkan merahasiakan imannya terhadap sukunya. Rasulullah saw. menjawab bahwa ia boleh berbuat demikian beberapa hari. Tetapi, ketika ia berjalan di lorong Mekkah, didengarnya serombongan pemimpin-pemimpin Mekkah memaki dan mencemoohkan Rasulullah saw. dan melancarkan serangan-serangan kotor. Ia tak dapat menguasai dirinya untuk merahasiakan iman dan segera menyatakan, “Aku menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan tidak ada yang patut disembah selain Allah; dan Muhammad adalah Abdi-Nya dan Rasul-Nya.” Teriakan di tengah khalayak orang-orang kufar seolah-olah merupakan tantangan. Mereka bangkit dalam marah dan ia dipukuli sehingga jatuh pingsan. Paman Rasulullah, Abbas, yang pada waktu itu belum baiat lalu di situ dan berusaha secara lisan membela orang yang jadi bulan-bulanan itu. “Kafilah makananmu melalui suku Abu Zarr,” katanya, “dan marah atas perlakuanmu terhadap dia, kaumnya dapat membuat kamu mati kelaparan.” Hari berikutnya Abu Zarr tinggal di rumah, tetapi hari esoknya, lagi ia menuju kumpulan itu dan mendengar lagi mereka memaki dan mengutuk Rasulullah saw. seperti yang sudah-sudah. Ia pergi ke Ka’bah dan menjumpai orang-orang di sana berbuat serupa. Ia tak dapat menguasai dirinya, lalu berdiri dan mengucapkan pernyataan imannya. Sekali lagi ia diperlakukan dengan aniaya lagi ganas. Hal itu masih terjadi ketiga kalinya dan kemudian Abu Zarr pulang ke sukunya.

Rasulullah saw. sendiri pun tidak terkecuali dalam perlakuan kejam terhadap orang-orang beriman. Pada suatu waktu beliau sedang sembahyang. Serombongan kaum kufar melilitkan sehelai jubah kepada leher beliau dan menghela beliau; tampak mata beliau pun akan keluar dari kelopaknya. Abu Bakar kebetulan lalu dan menyelamatkan beliau sambil berkata, “Kamu mencoba mau membunuhnya karena ia mengatakan bahwa Tuhan itu sembahannya?” Pada peristiwa lain beliau sedang salat, ketika bersujud mereka meletakkan di atas punggung beliau jeroan-jeroan unta. Beliau tak dapat bergerak apalagi bangkit sebelum beban itu dilepaskan. Pada peristiwa lain lagi beliau sedang berjalan di jalan raya dan serombongan anak-anak jalanan mengikuti beliau. Mereka tak henti-hentinya memukuli kuduk beliau dan mengatakan kepada khalayak ramai, “Inilah orang yang mengaku nabi.” Demikianlah kebencian dan permusuhan terhadap beliau terus berlaku, dan demikianlah keadaan beliau tidak berdaya.

Rumah Rasulullah saw. dilempari batu dari rumah-rumah disekitarnya. Kotoran dan sisa binatang sembelihan dilemparkan orang ke dapur beliau. Pada banyak peristiwa, debu dihamburkan kepada beliau di waktu beliau bersembahyang sehingga beliau harus mencari tempat yang aman untuk melaksanakan salat berjamaah. Tetapi, kekejaman-kekejaman yang dilancarkan terhadap golongan lemah lagi tidak berdosa dan terhadap pemimpin mereka yang jujur dan bermaksud baik namun tak berdaya itu, tidak sia-sia. Orang-orang sopan menyaksikan hal itu semua dan tertarik kepada Islam. Rasulullah saw. pada sekali  peristiwa sedang istirahat di Safa, suatu bukit di dekat Ka’bah.

Seorang pemimpin Mekkah, Abu Jahal, musuh terbesar Rasulullah saw. lalu ke situ dan mulai melemparkan makian busuk kepada beliau. Rasulullah saw. tak berkata apa-apa dan pulang. Seorang budak-perempuan dari rumah tangga beliau menyaksikan kejadian yang menyedihkan itu. Hamzah, paman Rasulullah saw. seorang gagah yang ditakuti dan disegani oleh orang-orang sekota, baru datang, pulang dari berburu di hutan dan masuk ke rumah dengan megah, sedang busur bergantung pada pundaknya. Budak-wanita itu tak lupa akan peristiwa tadi pagi. Ia merasa jijik melihat Hamzah pulang dengan penampilan demikian. Ia mencelanya dengan mengatakan bahwa Hamzah boleh memandang dirinya gagah dan pergi kian kemari bersenjata, tetapi tidak tahu apa yang telah diperbuat Abu Jahal terhadap anak kemenakannya yang tak berdosa pagi tadi. Hamzah mendengarkan penuturan peristiwa pagi itu. Walaupun belum beriman, Hamzah bertabiat ksatria. Boleh jadi ia telah terkesan oleh ajaran Rasulullah saw. tetapi belum begitu jauh untuk mau masuk terang-terangan. Ketika didengarnya serangan Abu Jahal yang kasar itu, ia tak dapat menguasai dirinya lagi. Keragu-raguannya mengenai ajaran itu lenyap. Ia merasa sampai saat itu terlalu beranggapan mengenai urusan itu tidak penting. Ia langsung pergi ke Ka’bah, tempat para pemimpin Mekkah biasa berkumpul dan berunding. Diambilnya busurnya dan dipukulnya Abu Jahal dengan keras. ”Anggaplah aku dari mulai saat ini pengikut Muhammad,” katanya. “Kamu berani memaki-makinya karena ia tidak mau menimpali. Jika kamu gagah berani, mari kita berkelahi.” Abu Jahal tercengang membisu. Sahabat-sahabatnya bangkit hendak memberi pertolongan; tetapi, karena takut kepada Hamzah dan sukunya, Abu jahal mencegah dengan perhitungan bahwa perkelahian terbuka akan terlalu merugikan. Memang, katanya, dalam kejadian tadi pagi ia bersalah (Hisyam dan Tabari).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar