Senin, 26 Desember 2016

Sejarah Rasulullah saw Bagian 59

Gerakan Militer Ke Tabuk


Desas-desus itu menjadi begitu santer sehingga Rasulullah saw. memandang perlu untuk memimpin sendiri suatu pasukan Muslimin untuk menghadapi Siria. Masa itu masa paceklik. Arabia ada di dalam cengkeraman wabah. Panen tahun yang lampau buruk sehingga gandum dan buah-buahan tersedia hanya sedikit. Panen yang akan datang belum tiba waktunya. Waktu itu akhir September atau permulaan Oktober tatkala Rasulullah saw. bertolak dalam rangka misi itu. Kaum munafik tahu benar bahwa desas-desus itu  ulah mereka sendiri. Mereka mengetahui pula bahwa rencana mereka ialah memberi dorongan kepada kaum Muslimin untuk menyerang Siria jika orang-orang Siria tidak menyerang kaum Muslimin. Bagaimana juga halnya, suatu perkelahian dengan kerajaan Roma yang besar itu akan membawa akibat kehancuran kaum Muslimin. Pelajaran dari pertempuran Muta ada di hadapan mereka. Di Muta kaum Muslimin harus menghadapi balatentara yang begitu besar sehingga hanya dengan susah payah mereka masih mampu mengundurkan diri. Kaum munafik mengharapkan dapat mementaskan Muta kedua, saat ada kemungkinan Rasulullah saw. gugur. Sambil kaum munafik sibuk menyebar desas-desus tentang serangan Siria terhadap kaum Muslimin, mereka mengadakan segala upaya juga menanam rasa ketakutan dalam pikiran kaum Muslimin. Bangsa Siria dapat membentuk angkatan perang berkekuatan besar sehingga kaum Muslimin tak akan mengharap dapat menahannya. Mereka mendesak agar orang-orang Islam ikut dalam bentrokan senjata dengan Siria.

Pola rencana mereka ialah di satu pihak akan merangsang kaum Muslimin untuk menyerang Siria dan di pihak lain menakut-nakuti agar mereka tidak berangkat dalam jumlah yang besar. Mereka menghendaki kaum Muslimin berperang dengan Siria dan mendapat kekalahan. Tetapi segera sesudah Rasulullah saw. mengumumkan keinginan beliau memimpin sendiri gerakan militer itu, semangat kaum Muslimin meluap-luap. Mereka tampil kemuka, menawarkan diri berkorban untuk kepentingan agama. Kaum Muslimin berperlengkapan buruk untuk menghadapi peperangan yang berukuran begitu besar. Baitul Mal telah kosong. Hanya orang-orang Muslim yang kaya mempunyai sarana-sarana untuk membiayai keperluan perang. Orang-orang Muslim secara perseorangan berlomba-lomba dalam semangat pengorbanan untuk kepentingan agama. Diriwayatkan bahwa, ketika gerakan militer itu sedang bergerak dan Rasulullah saw. mengimbau untuk mengumpulkan dana, Utsman menyerahkan sebagian besar kekayaannya. Sumbangannya berjumlah kira-kira seribu dinar emas. Orang-orang Muslim lainnya pun menyerahkan sumbangannya menurut kemampuan masing-masing. Orang-orang Muslim yang miskin pun diberi binatang tunggangan, pedang dan tombak. Semangat menggelora. Pada waktu itu di Medinah ada serombongan Muslimin yang telah datang berhijrah dari Yaman. Mereka sangat miskin. Beberapa di antara mereka menghadap Rasulullah saw. dan menawarkan diri berkorban untuk gerakan militer itu. Mereka berkata, “Ya, Rasulullah, bawalah kami menyertai Anda. Kami tidak menghendaki apa-apa selain sarana untuk berangkat.”

Alquran mengisyaratkan kepada orang-orang Muslim ini dan penawaran diri mereka dengan kata-kata sebagai berikut :

Dan, tidak pula ada sebab untuk memberi celaan terhadap orang-orang yang – ketika mereka datang kepada engkau dan memohon agar engkau menyediakan angkutan bagi mereka – engkau mengatakan “Aku tidak memperoleh sesuatu yang dapat mengangkut kamu,” mereka kembali pulang dengan mata mereka berlinang-linang oleh air mata karena sedih, disebabkan mereka tidak memperoleh apa-apa yang dapat mereka nafkahkan di jalan Allah (9:92).

Maksudnya, mereka tidak dapat disalahkan karena mereka tidak memiliki sarana-sarana sehingga tidak dapat ikut ke medan perang, tetapi mereka mengajukan permohonan kepada Rasulullah saw. untuk memperlengkapi mereka dengan sarana angkutan ke medan perang. Rasulullah saw. tak mampu memberikan sarana angkutan, maka mereka sangat menyesal atas kemiskinan mereka dan tak mampu menyumbangkan diri untuk berperang antara kaum Muslimin dan bangsa Siria.

Abu Musa adalah pemimpin mereka. Ketika ditanyakan apa yang mereka minta, ia berkata, “Kami tidak minta unta-unta atau kuda-kuda. Kami hanya mengatakan tidak punya sepatu dan tidak dapat menempuh perjalanan jauh itu dengan kaki tak beralas. Jika kami punya sepatu, kami dapat ikut serta dengan berjalan kami dan ikut berperang, berdampingan dengan saudara-saudara Muslim lainnya.”

Ketika laskar itu bergerak menuju Siria, dan kaum Muslimin belum lupa akan penderitaan mereka di Muta, maka tiap-tiap orang Muslim sarat dengan kegelisahan dan kekhawatiran akan keselamatan Rasulullah saw. Wanita-wanita Medinah juga memainkan peranan mereka. Mereka sibuk mendorong suami dan anak-anak laki-laki mereka untuk ikut dalam peperangan. Seorang sahabat, yang saat itu kebetulan pergi ke luar Medinah, datang kembali ketika Rasulullah saw. telah berangkat bersama laskar. Sahabat itu masuk ke rumahnya dan mengharapkan sang istri akan menyambutnya dengan cinta dan keharuan layaknya seorang wanita yang berjumpa dengan suaminya sesudah mereka berpisah sekian lama. Ia mendapati istrinya tengah duduk di halaman rumah dan ia melangkah hendak memeluk dan menciumnya. Tetapi istrinya mengangkat tangan dan mendorongnya ke belakang. Sang suami yang terperangah memandang istrinya dan berkata, “Inikah perlakuan terhadap seseorang yang baru pulang sesudah lama berpisah?”

“Tidak malukah engkau?” jawab istrinya. “Rasulullah saw. harus berangkat dalam suatu gerakan militer yang berbahaya, dan engkau ini mau bercumbu dengan istri? Kewajiban engkau yang pertama ialah berangkat ke medan perang. Sesudah itu, kita lihat urusan lainnya nanti.”

Diriwayatkan bahwa sahabat itu segera meninggalkan rumah-nya, memasang pelana kudanya dan berangkat menyusul Rasulullah saw.. Pada jarak perjalanan tiga hari ia dapat menyusul laskar Islam.

Orang-orang kafir dan orang-orang munafik barangkali menyangka bahwa Rasulullah yang bertindak lantaran desas-desus yang mereka hembuskan dan siarkan itu, akan menyerbu tentara Suriah tanpa pertimbangan dahulu. Mereka lupa bahwa Rasulullah saw. bertujuan memberi contoh kepada anak-cucu para pengikut beliau di masa-masa yang akan datang. Ketika Rasulullah saw. telah sampai di dekat Siria, beliau berhenti dan mengirim orang-orang ke pelbagai jurusan untuk melihat keadaan. Orang-orang itu kembali dan melaporkan bahwa di mana pun tak terdapat pemusatan kekuatan tentara Suriah, Rasulullah saw. mengambil keputusan untuk kembali, tetapi tinggal beberapa hari. Pada hari-hari itu beliau menandatangani persetujuan-persetujuan dengan beberapa suku di perbatasan. Tidak ada perang dan tidak ada pertempuran. Perjalanan itu meminta waktu Rasulullah saw. dua setengah bulan. Ketika kaum munafik Medinah mengetahui bahwa rencana mereka untuk mengobarkan peperangan antara kaum Muslimin dan bangsa Siria itu gagal dan bahwa Rasulullah saw. ada dalam perjalanan pulang dalam keadaan sehat wal-afiat, mereka merasa takut bahwa tipu muslihat mereka akan terbongkar. Mereka takut akan hukuman yang sekarang patut diterima mereka. Tetapi mereka tidak menghentikan rencana jahat mereka. Mereka mempersiapkan suatu pasukan dan menempatkannya di kedua sisi jalan sempit, tak berapa jauh dari Medinah. Jalan itu begitu sempit sehingga hanya dapat dilalui satu runtunan. Ketika Rasulullah saw. dan laskar Muslim mendekati tempat itu beliau mendapat petunjuk, dengan perantaraan wahyu, bahwa musuh sedang menghadang di kanan-kiri jalan sempit itu. Rasulullah saw. memerintahkan para sahabat untuk mengadakan penyelidikan. Ketika mereka tiba di tempat itu mereka lihat orang-orang tengah bersembunyi dengan maksud yang jelas untuk menyerang. Tetapi orang-orang itu melarikan diri segera setelah mereka dipergoki rombongan penyelidik itu. Rasulullah saw. memutuskan jangan mengejar mereka.

Ketika Rasulullah saw. tiba di Medinah, orang-orang munafik yang telah sengaja menghindarkan diri dari ikut serta ke medan pertempuran mulai membuat-buat dalih yang lemah lagi dicari-cari. Tetapi Rasulullah saw. menerima dalih-dalih itu. Di samping itu beliau merasa bahwa waktunya telah tiba, ketika kemunafikan mereka harus dibongkar. Beliau mendapat perintah Ilahi untuk membongkar mesjid di Quba yang telah didirikan kaum munafikin untuk memungkinkan mereka mengadakan pertemuan rahasia mereka. Kaum munafikin terpaksa bersembahyang bersama-sama dengan orang-orang Muslim lainnya. Tak ada hukuman lain yang dikenakan kepada mereka. Sekembali dari Tabuk, Rasulullah saw. mendapat kabar bahwa orang-orang Taif pun telah baiat dan masuk Islam. Dalam waktu yang singkat Arabia berada di bawah kibaran bendera Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar