"Kami mengimani Allah, Kitab-Nya Quran Syarif, dan rasul-Nya Muhammad Mushthafa saw. dengan setulus hati. Dan kami juga mengerjakan shalat, puasa dan sebagainya. Lalu, apa perlunya kami beriman kepada Tuan?"
Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda:
“Lihat, seorang yang menyatakan beriman pada Allah dan Rasul-Nya serta kepada Kitab-Nya, lalu dia tidak mengamalkan rincian perintah-perintah-Nya -- seperti shalat, puasa, haji, zakat, takwa, thaharat (kesucian) -- dan dia meninggalkan perintah-perintah yang telah diturunkan mengenai tazkiyyah nafs (pensucian jiwa), meninggalkan keburukan, mengerjakan kebaikan, maka orang itu tidak berhak disebut Muslim, dan tidak dapat dikatakan bahwa dirinya telah dihiasi oleh perhiasan-perhiasan iman.
Demikian pula seseorang yang tidak mempercayai Masih Mau'ud (Masih yang dijanjikan), atau menganggap tidak perlu untuk mengimaninya, berarti dia sama-sekali tidak tahu-menahu tentang hakikat Islam, tujuan kenabian serta tujuan kerasulan. Dan dia tidak berhak untuk disebut sebagai orang Islam sejati serta sebagai pengikut sejati Allah dan Rasul-Nya. Sebab sebagaimana Allah Ta’ala melalui Rasulullah saw. telah memberikan perintah-perintah di dalam Quran Syarif, demikian pula Dia dengan sangat jelas telah mengabarkan tentang kedatangan seorang khalifah terakhir di akhir zaman. Dan Dia telah menamakan orang yang tidak mempercayai [khalifah] itu serta yang berpaling darinya sebagai orang fasiq (durhaka).
Perbedaan pada kata-kata yang terdapat di dalam Quran dan Hadits -- [sebenarnya bukan perbedaan, tetapi merupakan penjelasan atau tafsir kata-kata yang digunakan Al-Quran] -- hanyalah bahwa di dalam Quran Syarif yang digunakan adalah kata khalifah (lihat ayat Alqurannya), sedangkan di dalam hadits khalifah terakhir itu dinyatakan dengan nama Masih Mau'ud (Masih yang dijanjikan).
Jadi, seseorang yang mengenainya Quran Syarif telah menyatakan janji pengutusannya, dan dengan demikian Quran telah memberikan keagungan atas pengutusan orang itu, maka bagaimana mungkin orang-orang yang mengatakan bahwa mereka tidak perlu mengimaninya dapat dianggap sebagai orang Muslim?
Allah Ta’ala telah memberlakukan kedatangan para khalifah hingga kiamat, dan ini merupakan kemuliaan serta keistimewaan pada Islam, bahwa untuk mendukungnya dan untuk mengadakan pembaharuan di dalamnya, setiap abad selalu datang mujaddid (pembaharu [lihat Haditsnya]) dan akan selalu datang.
Lihat, Allah Ta’ala telah memberikan persamaan kepada Rasulullah saw. dengan Hadhrat Musa a.s., yaitu yang terbukti dari kata kamaa (sebagaimana). Khalifah terakhir dalam syariat Musawi adalah Hadhrat Isa, sebagaimana Isa sendiri mengatakan bahwa beliau adalah batu-bata terakhir [dalam dinding syariat Musawi], demikian pula di dalam syariat Muhammadi juga telah datang dan akan selalu datang para khalifah untuk melakukan pengkhidmatan dan untuk mengadakan pembaharuan di dalamnya.
Dengan demikian berdasarkan kesamaannya dan berdasarkan tugas-tugas pengkhidmatan yang diserahkan kepadanya maka khalifah terakhir ini telah dinamakan Masih Mau'ud (Masih yang dijanjikan). Dan tidak hanya itu -- bahwa uraian mengenainya biasa-biasa saja -- melainkan tanda-tanda kedatangannya secara rinci telah dipaparkan di dalam kitab-kitab Samawi. Di dalam Bibel, di dalam Injil, di dalam Hadits-hadits, dan di dalam Quran Syarif sendiri telah dipaparkan mengenai tanda-tanda kedatangannya. Dan seluruh umat – Yahudi, Nasrani, dan Islam – secara sepakat mempercayai dan menanti kedatangannya. Bagaimana mungkin pengingkaran terhadap hal itu dapat dikatakan Islam?
Kemudian, tatkala orang itu adalah seseorang yang untuknya Allah Ta’ala pun telah menzahirkan tanda di langit; di bumi juga telah Dia perlihatkan mukjizat-mukjizat, dan untuk mendukungnya pun telah datang wabah pes, gerhana bulan dan matahari telah terjadi tepat pada waktunya sesuai kabar gaib, maka apakah seseorang yang untuk mendukungnya langit telah memperlihatkan tanda dan bumi juga telah menyatakan bahwa itulah saatnya, dapat dianggap sebagai orang yang biasa-biasa saja, sehingga sama saja bila mengimaninya atau tidak mengimaninya? Dan bahwa tanpa mengimaninya pun seseorang itu akan tetap menjadi Muslim serta menjadi hamba kesayangan Allah? Sama-sekali tidak.
Ingatlah, segenap tanda kedatangan tokoh yang dijanjikan ini sudah terpenuhi. Berbagai macam keburukan telah mengotori dunia ini. Para ulama Islam sendiri dan kebanyakan para waliullah telah menuliskan bahwa inilah zaman bagi kedatangan Masih Mau'ud, yakni di abad keempat-belas inilah ia akan datang.
Di dalam Hijajul Kiramah juga tertulis mengenai abad keempat-belas ini, dan tidak ada satu pun yang mengisyaratkan lebih dari abad ini. Di abad ketiga-belas, hewan-hewan pun sampai memohon perlindungan, dan tertulis bahwa abad keempat-belas merupakan abad yang beberkat. Dengan adanya kesaksian-kesaksian yang disepakati semua ini -- yaitu yang telah dituliskan oleh para waliullah dan kebanyakan ulama -- maka jika ada yang ragu dia hendaknya menelaah Quran Syarif dan memperhatikan Surah An-Nuur.
Lihat, sebagaimana 1400 tahun setelah Hadhrat Musa a.s. telah datang Hadhrat Isa a.s., seperti itu pulalah pada abad keempat-belas sesudah Rasulullah saw. telah datang Masih Mau'ud. Dan sebagaimana Hadhrat Isa a.s. merupakan Khaatamul Khulafa dalam Silsilah Musawi, demikian pula Masih Mau'ud merupakan Khaatamul Khulafa pada Silsilah [Muhammadi] ini.
Islam pada saat ini bagai seorang yang jatuh sakit dan hidupnya sudah hampir berakhir. Kezaliman (keaniayaan) telah dilakukan terhadap Islam, dan dari keempat penjuru dengan persenjataan penuh siap siaga untuk menghancurkan Islam, para musuh dengan sangat kejam melakukan serangan kepada Islam. Islam saat ini sudah mati. Islam sudah sekarat akibat serangan-serangan dari dalam maupun dari luar. Sekarang adalah saat akhir bagi pelita Islam, dan lehernya telah disembelih dengan sangat kejam.
Untuk waktu kapan Allah Ta’ala telah berjanji: "Inna nahnu nazzalnadz- dzikra wa innaa lahuu lahaafizhuun – (sesungguhnya Kami yang menurunkan Adz-Dzikr/Alquran ini dan sesungguhnya Kami yang melindunginya - Al-Hijr, 10)? Apakah masih ada suatu bencana lain yang tertinggal yang masih akan menimpa Islam?
Ingatlah, yang dimaksud dengan perlindungan di sini bukan saja perlindungan terhadap lembaran‑lembaran [Al-Quran], melainkan penjelasannya terdapat di dalam sebuah hadits, yakni di situ Rasulullah saw. bersabda, bahwa akan datang suatu zaman ketika Quran Syarif akan lenyap diangkat dari dunia ini.
Seorang sahabi r.a. mengatakan: "Orang-orang tentu akan (masih) membaca Al-Quran, lalu bagaimana mungkin akan lenyap?" Beliau saw. bersabda: "Saya tadinya menganggap engkau sebagai orang yang pandai, namun engkau sangat bodoh. Tidakkah orang-orang Kristen membaca Injil? Tidakkah orang-orang Yahudi membaca Taurat? Yang dimaksud dengan lenyapnya Quran Syarif adalah lenyapnya ilmu Quran Syarif dan petunjuk akan hilang dari dunia ini. Orang-orang akan jadi buta terhadap cahaya-cahaya dan rahasia-rahasia Al-Quran, dan tidak ada yang akan mengamalkannya. Jalan yang untuk mengajarkannya Al-Quran itu telah turun, jalan tersebut akan ditinggalkan oleh orang-orang, dan mereka akan mengikuti dorongan hawa nafsu mereka.
Tatkala kondisinya sudah demikian maka akan datang seseorang dari keturunan Farsi, dan dia akan membawa kembali diin (agama/ruhani) itu seperti semula. Dia akan menghidupkan kembali diin serta Al-Quran. Keagungan Al-Quran yang telah hilang, dan petunjuk yang telah dilupakan serta iman yang telah terbang ke bintang Tsurayya, akan dia sebarkan kembali di dunia ini. Law kaanal- iimaana mu'allaqan 'indats- tsurayyaa lanaa lahuu rajulun- min haaulaa-i [ay abnaa faaris] -- “sekiranya iman akan melekat (terbang) ke bintang Tsurayya, seorang laki-laki dari antara orang-orang ini keturunan Farsi [akan membawanya kembali].
Ringkasnya, dari Quran Syarif dan dari Hadits-hadits Nabawiyyah dengan jelas terbukti bahwa di dalam umat ini telah dijanjikan tentang kedatangan seorang khalifah di akhir zaman, dan tanda-tanda serta gejala-gejala kedatangannya pun telah diberitahukan. Saya mendakwakan diri sebagai Masih Mau'ud.
Sekarang, setiap orang yang mencintai Allah dan Rasul dan ingin menyelamatkan keimanannya adalah wajib baginya untuk memperhatikan hal ini dalam-dalam, yakni apakah pendakwaan saya ini benar atau tidak? Orang-orang yang datang dari Allah Ta’ala mereka disertai oleh tanda-tanda Ilahi. Sekedar pendakwaan lidah saja memang tidak patut untuk dituruti.
Dari sekian banyak tanda yang tertera di dalam Kitab-kitab Allah dan rasul-Nya mengenai kedatangan saya adalah unta-unta tunggangan tidak akan digunakan lagi. Hal ini telah dipaparkan oleh Quran Syarif dengan kata-kata berikut, "Wa idzal-‘isyaaru 'uththilat (dan apabila unta-unta bunting ditinggalkan - At-Takwir, 5). Dan hal itu dipaparkan di dalam Radius Nabawi dengan kata-kata berikut: Wa laa yutrakunnal- qilaashu falaa yus'aa ‘alaihaa – (unta-unta bunting akan ditinggalkan dan tidak akan ada yang menungganginya)."
Sekarang, orang yang berpikir hendaknya memperhatikan, bahwa hal-hal yang telah muncul dari Allah dan telah keluar dari mulut Rasul-Nya 1300 tahun lalu, saat ini kata-kata itu telah sempurna dengan sangat agung dan mulia, sehingga menampakkan keperkasaan wujud-wujud yang mengatakannya.
Lihat, betapa banyaknya sarana yang telah ditemukan (diciptakan) saat ini sebagai pemenuhan kabar gaib tersebut. Sampai-sampai dengan tersedianya jalur kereta api di Hijaz, maka orang-orang akan melakukan perjalanan ke Makkah Mu'azhzhamah dan Madinah Munawwarah bukannya dengan menunggangi unta, melainkan dengan mengunakan kereta api, dan unta-unta betina akan ditinggalkan.
Selebihnya adalah, apa hubungan kabar-kabar gaib itu dengan kata Masih Mau'ud (Al-Masih yang dijanjikan)? Sebab di dalam Quran Syarif tidak ada disebutkan tentang nama Masih Mau'ud? Jadi, untuk itu hendaknya diingat bahwa saya mendakwakan diri sebagai Khaatamul- Khulafaa, sedangkan di dalam Quran Syarif terdapat janji tentang kedatangan Khatamul Khulafaa pada saat mendekatnya kiamat.
Kemudian, kepada saya berkali-kali melalui ilham telah diberitahukan bahwa Allah Ta’ala telah menamakan saya sebagai Masih Mau'ud, yang mengenai kedatangannya telah dijanjikan di dalam hadits-hadits. Ingatlah, seseorang yang mencampakkan hadits-hadits seperti sampah belaka, dia sama-sekali tidak dapat dianggap Muslim, sebab banyak sekali bagian Islam yang tidak akan lengkap tanpa bantuan hadits-hadits. Orang yang mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan hadits-hadits, dia sama sekali tidak dapat dianggap Muslim. Dia pasti suatu hari juga akan meninggalkan Al-Quran.
Jadi, orang yang telah dinamakan Khaatamul Khulafaa di dalam Quran Syarif, orang itulah yang di dalam hadits-hadits telah dinamakan Masih Mau'ud, dan dengan demikian sekian banyak kabar gaib mengenai kedua nama itu, semuanya adalah mengenai diri saya.
Khalifah adalah orang yang datang menyusul belakangan, dan yang kamil (sempurna) itu adalah datang paling belakangan. Dan jelaslah bahwa yang akan datang pada saat mendekati kiamat dia itulah yang paling belakang, oleh karena itu dia merupakan yang paling sempurna dan paling afdhal (utama). Perbedaannya hanya pada kata-kata saja, yakni Quran Syarif menyebutnya dengan kata khalifah, sedangkan di dalam hadits ia dinamakan Masih Mau'ud.
Selanjutnya adalah, apa bukti [kebenaran] pendakwaan saya ini? Nah, hendaknya diingat, bukti kebenaran saya adalah sama seperti yang selalu dibawa oleh para nabi dan para rasul. Suatu bukti yang dipaparkan oleh seseorang mengenai kenabian Rasulullah saw., melalui dalil itu juga saya dapat memaparkan kebenaran pendakwaan saya.
Orang-orang yang datang dari Allah Ta’ala, mereka hanya dapat dinyatakan benar melalui kesaksian Allah Ta’ala semata. Pendakwaan dapat saja dilakukan oleh orang yang benar maupun oleh orang yang berdusta. Dan dari segi jiwa pendakwaan keduanya bisa saja sama, namun antara keduanya pasti terdapat perbedaan.
Baiklah, jika diumpamakan bahwa mengenai Masih Mau'ud tidak ada keterangan di dalam Al-Quran, dan di dalam Hadits pun tidak ditemukan, lalu apa jadinya? Tetap saja, seseorang yang benar itu dikenali melalui tanda-tandanya. Lihat, apakah ada keterangan tentang Hadhrat Musa a.s. di dalam suatu kitab sebelumnya? Apa ada yang dapat mernberitahukan, di kitab mana terdapat kabar gaib mengenai kedatangan Hadhrat Musa as.? Lalu, bagaimana sampai Hadhrat Musa a.s. telah diimani?
Ingatlah, kesaksian-kesaksian yang baru dari Allah Ta’ala itu sendiri merupakan bukti kebenaran. Sekedar pendakwaan tanpa bukti, sama-sekali tidak dapat dijadikan dalil kebenaran. Seorang pendakwa palsu, Allah sendiri yang membinasakannya dan dia tidak diberi waktu penangguhan, sebab dia berdusta atas nama Allah dan ingin menimbulkan kekacauan antara haq (kebenaran) dan kebatilan (kedustaan).
Saya tidak membawa perkara baru, dan tidak pula saya membawa syariat baru. Saya datang untuk mengkhidmati dan melakukan tajdid (pembaharuan) pada syariat yang dibawa oleh Rasulullah saw.. Sebagai bukti kebenaran pendakwaan saya terdapat tanda-tanda dalam tata-cara kenabian. Saya sudah menyinggung hal itu di dalam buku-buku saya.
Baru-baru ini saya telah menulis sebuah buku baru, Haqiqatul Wahiy. Telaah dan simaklah buku itu, yakni betapa banyaknya Tanda yang telah diperlihatkan oleh Allah Ta’ala untuk mendukung saya. Apakah hal-hal semacam, itu juga diperlihatkan untuk seorang pendusta?
Lihat, sebagian nabi telah diterima kebenarannya hanya berdasarkan satu mukjizat saja, namun di sini terdapat ribuan Tanda (mukjizat). Lalu, jika saya mendakwakan suatu agama baru, memaparkan suatu hukum baru dari diri saya sendiri yang bertentangan dengan Kitab Allah, mengubah-ubah Sunnah Rasul saw., atau saya mengaku memansukhkannya (menghapuskannya), saya mengubah-ubah shalat, puasa, dan haji, maka wajarlah jika timbul kebimbangan dan keraguan semacam ini.
Namun saya justru mengatakan bahwa kafirlah orang yang sedikit saja mengubah-ubah syariat Rasulullah saw.. Tatkala menurut saya orang yang ingkar mengikuti Rasulullah saw. saja adalah kafir, maka bagaimana kedudukan orang yang mengaku membawa syariat baru? Atau, yang mengubah-ubah Al-Quran dan Sunnah Rasul saw.? Atau, yang memansukhkan (menghapuskan) suatu hukum?
Menurut saya, orang Mukmin adalah yang mengikuti Quran Syarif secara benar, serta yang meyakini bahwa Quran Syarif-lah Khaatimul Kutub, dan yang mempercayai bahwa syariat yang dibawa oleh Rasulullah saw. ke dunia inilah yang merupakan syariat yang berlaku untuk selamanya, yang sedikit pun tidak mengadakan perubahan di dalamnya, dan yang fana (larut) dalam mengikutinya, lalu melenyapkan dirinya sendiri, dan yang mengerahkan setiap partikel wujudnya di jalan itu, serta yang secara amalan tidak menentang syariat itu. Nah, barulah dia merupakan Muslim sejati.
Ada pun Kalaam Ilahi yang turun kepada saya, jangan dianggap bahwa saya telah mendakwakan suatu kenabian tasyri' (syariat) dan kenabian baru, melainkan karena mengalami mukaalamah mukhaatabah (percakapan) yang sangat banyak -- secara kuantitas maupun kualitas -- sebab itu dikatakan (disebut) nabi.
Sekarang, di dalam majlis ini, jika ada yang tahu bahasa Ibrani atau Arab, dapat mengetahui bahwa kata nabi itu muncul dari nabaa-a, dan nabaa-a itu artinya mengabarkan, sedangkan nabi adalah yang memberi kabar. Yakni dia memperoleh suatu kalaam (firman) dari Allah Ta’ala, lalu memberitahukan kepada manusia nubuatan-nubuatan kuat yang mencakup hal-hal gaib. Berdasarkan istilah Islam dia disebut nabi. Di dalam Quran Syarif dikatakan: "Anbi-unii bi asmaa-i haaulaa-i – (beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka itu" - Al‑Baqarah, 32).
Para penentang saya, jika tidak meninggalkan ketakwaan dan kesucian, serta tidak dengki dan bersikap memusuhi tentu semuanya mengetahui, bahwa para tokoh suci terdahulu dan para waliullah dengan jelas menuliskan bahwa: "Wallaahu bi-awliya-ihii mukaalimaatun wa mukhaathibaatun (dan Allah itu bercakap-cakap dengan wali-wali-Nya)."
Di dunia ini tidak hanya ratusan, bahkan terdapat ribuan dan jutaan orang yang memperoleh mimpi-mimpi benar. Bahkan mimpi benar itu kadang-kadang juga dialami oleh orang baik dan orang yang tidak baik, serta orang Muslim dan orang kafir, tanpa beda. Kadang-kadang para perempuan pezina dan laki-laki pelaku zina, serta para pencuri dan perampok pun mengalami mimpi benar. Lalu, mengapa keberadaan mimpi benar atau kasyaf-kasyaf serta ilham-ilham bagi orang Mukmin – yang lebih banyak berhak atas hal itu karena iman mereka yang benar – tidak dipercayai? Justru hal-hal itu dapat dialami oleh orang Mukmin dalam jumlah yang sangat banyak.
Dari hal itu jangan pula beranggapan bahwa dengan demikian terjadi pengurangan nilai (kadar) pada rukya, kasyaf, dan ilham-ilham para utusan, para nabi dan para rasul. Atau, terjadi pengurangan nilai kemuliaan pada diri mereka. Tidak. Justru hal-hal ini merupakan tashdiq (pembenaran) terhadap mukaalamaat mukhaathabaat (wawancakap) Allah Ta’ala yang telah diangerahkan kepada para nabi dan rasul-Nya. Dan itu merupakan dalil kuat yang membuktikan kebenaran mereka. Sebab jika benihnya itu memang tidak ditemukan di kalangan orang-orang [awam] itu, maka sangat mungkin bahwa orang-orang yang fasiq (durhaka), penjahat dan yang tak beragama itu akan mengingkari keberadaan wahyu serta ilham, sehingga kemudian keberatan (kritik/celaan) mereka pun menjadi kuat.
Oleh karena itulah, melalui hikmah-Nya yang kamil (sempurna) Allah Ta’ala sendiri telah menciptakan suatu keahlian (kemampuan ?) pada setiap lapisan orang sebagai penyemaian benih bagi mukaalamaat mukhaathabaat (wawancakap) dan wahyu nubuwwat para nabi serta para wali, sehingga tidak ada lagi jalan pelarian yang tersisa bagi manusia untuk mengingkari, dan [manusia] akan dikecam dari dalam dirinya sendiri.
Merupakan suatu kaidah, jika kepada manusia tidak diberikan contoh suatu barang, maka dia akan ragu terhadap barang itu. Hal ini hanya terdapat di dalam Islam semata, dan ini merupakan dalil paling tinggi tentang kebenaran agama, yang tidak ditemukan pada agama lainnya. Hanya Islam sajalah suatu agama yang diridhai (disukai) oleh Allah dan yang dekat serta diterima [di sisi] Allah Ta’ala. Untuk itu semata-mata dengan kasih-sayang-Nya, Dia telah menganugerahkan di dalam Islam karunia-karunia paling sempurna yang selalu berkesinambungan berupa untaian mukaalamaat dan mukhaatabaat (wawancakap Ilahiyah) untuk menghindarkan orang-orang Islam dari ketergelinciran dan keraguan.
Di dalam hati orang-orang sering timbul pemikiran-pemikiran bahwa, "Aku juga seorang manusia, dan si pendakwa ilham ini pun seorang manusia seperti aku juga. Maka spa sebabnya kepadaku tidak terjadi ilham dan mukaalamah Ilahiah, sedangkan kepadanya hal itu terjadi?" Untuk itulah, guna menghilangkan keraguan-keraguan semacam itu, Allah Ta’ala sebagai contoh telah memberikan suatu percikan cahaya dari karunia tersebut di dalam diri setiap manusia.
Lihatlah, seperti halnya uang satu sen merupakan dalil (bukti) tentang adanya uang seratus atau dua ratus ribu, dan satu rupee merupakan dalil tentang adanya satu atau dua juta rupees dan khazanah-khazanah [lainnya]. Demikian pula sebuah mimpi benar merupakan dalil (bukti) yang shahih akan keberadaan ilham.
Mimpi benar telah ditanamkan di dalam fitrat manusia sebagai contoh, supaya dari titik itu keberadaan karunia-karunia yang sangat sempurna tersebut dapat diyakini. Ketika suatu mimpi dimungkinkan bagi manusia biasa dan berderajat rendah, maka apa pula sebabnya sehingga di kalangan manusia suci yang sempurna dan berderajat tinggi tidak ada jenis tertinggi dari mimpi itu, yakni yang dinamakan ilham? Sebab mimpi benar pun merupakan suatu bagian terendah dari ciri-ciri kesempurnaan suatu kenabian (nubuwwat).
Ingatlah, rangkaian mukaalamah mukhaatabah merupakan ruh Islam. Jika tidak, seandainya kemuliaan ini tidak dimiliki oleh Islam maka pasti Islam juga akan menjadi sebuah agama mati seperti agama-agama lainnya. Pahamilah hal ini benar-benar, jika Islam hampa dari karunia Ilahi dan berkat ini, maka pasti dalam Islam juga tidak akan ada faktor yang membuktikan keunggulannya.
Ini merupakan fadhl (karunia) khusus Allah Ta’ala, bahwa contoh hidup semacam itu selalu Dia utus di penghujung setiap abad di dalam Islam, dan dengan demikian untuk selamanya Dia terus menerus membuktikan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang hidup.
Pada suatu waktu Islam pernah menjadi suatu agama yang apabila satu orang saja murtad maka terjadi kiamat. Namun sekarang Islam itu juga ada, tatkala jutaan orang murtad darinya dan menjadi tidak beragama. Melalui serangan-serangan para musuh dari dalam maupun dari luar telah dilakukan upaya-upaya untuk menghancurkan Islam. Dan Islam telah dihinakan, Islam telah diinjak-injak di bawah telapak kaki. Orang-orang Islam sendiri yang mengaku Islam (Muslim) ternyata tidak tahu menahu sedikit pun mengenai hakikat diin (agama/ruhani), sehingga dengan demikian terbukti bahwa mereka adalah musuh diin.
Sekarang, katakanlah, kesesatan apa lagi yang masih tersisa, yaitu kesesatan yang masih dinanti-nanti sampai sekarang? Simaklah buku-buku Pendeta Pander di kalangan orang Kristen. Dia menuliskan bahwa tidak ada satu pun nubuatan kabar-gaib) di dalam Islam yang telah terbukti sempurna. Nubuatan tentang penaklukan Roma pun dia katakan sebagai khayalan dan impian kosong. Yakni — na'udzubillaah — Rasulullah saw. hanya menebak-nebak saja hal itu dari perkembangan peristiwa yang berlangsung saat itu, sehingga dengan demikian beliau telah menubuatkannya.
Selain itu terdapat ratusan ribu buku dan majalah lainnya yang telah ditulis untuk menentang Islam. Seorang Muslim tidak sanggup berdiri di hadapan seorang Kristen, dan tidak ada seorang pun yang dapat memberikan jawaban telak membungkam kepada para musuh Islam.
Jika Islam dan kehidupan Islam hanya bertumpu pada kisah-kisah kuno belaka, maka ingatlah bahwa Islam hari ini tidak akan ada dan besok pun tidak akan ada. Ingatlah bahwa sebagaimana sejak permulaan Allah Ta’ala telah mendukung Islam dan selalu mendukungnya, demikian pula pada saat ini pun Dia dapat memperlihatkan Tanda-tanda baru dalam mendukung Islam. Dan bagi setiap orang Mukmin -- dengan syarat bahwa dia sungguh seorang Mukmin — Dia dapat memberikan furqaan (pembeda).
Namun orang-orang yang menamakan diri mereka mullah dan pendukung agama kokoh [Islam] ini, mereka sendiri di mimbar dan dengan suara keras mengatakan bahwa sekarang di dalam Islam tidak ada orang yang dapat memperlihatkan Tanda (mukjizat).
Demikianllah, Maulvi Muhammad Hussein sendiri di dalam acara pertemuan Dharm Mahutsu, di mana orang-orang dari segala agama berkumpul, mengakui bahwa disayangkan pada zaman sekarang ini di dalam Islam tidak ada orang yang mampu memperlihatkan Tanda. Seakan-akan ia mengikrarkan sendiri, bahwa agama kita pun adalah sebuah agama mati seperti agama-agama lainnya, dari tanda-tanda kehidupan sekarang sudah tidak ada lagi di dalamnya.
Sekarang renungkanlah, apakah kehormatan Islam terletak pada hal-hal itu? Tidak! Bahkan kehinaan apa lagi yang lebih buruk ini, yakni bahwa Islam itu kosong dari orang-orang yang dengannya Allah Ta’ala melakukan mukallamah dan mukhaathabah? Kosong dari orang-orang yang sebagai bukti kebenaran mereka terdapat Tanda-tanda kokoh yang mencakup gaib yang menyertai mereka?
Ingat, seandainya -- mudah-mudahan Allah Ta’ala tidak menjadikannya demikian – tiba suatu zaman dimana berkat-berkat tersebut tidak ada lagi di dalam Islam, maka yakinilah bahwa Islam juga telah mati seperti agama-agama lainnya, sebab tanda-tanda kehidupan yang dahulunya ada ternyata kini sudah tidak ada lagi, maka bagaimana mungkin ia dapat dikatakan hidup?
Lihat, orang Brahmu juga mengakui Laa ilaaha illallaah. Jika mereka bertanya kepada kalian: "Apa kekuatan dan kekhususan yang kalian peroleh dengan melebihkan Muhammad Rasulullah?" Nah, katakan, apa jawaban yang akan kalian berikan? Umat Islam hendaknya memegang suatu yang kokoh sedemikian rupa serta menampakkan suatu dasar sedemikian rupa, sehingga dapat mengalahkan pihak lain.
Baiklah, jika demikian halnya maka katakanlah, apa perbedaan antara kalian dengan orang-orang lain [di luar Islam]? Sedangkan orang-orang Brahmu juga mengakui Tauhid. Orang Kristen juga memiliki pemikiran-pemikiran Tauhid. Orang Ariya juga. menjadi pendukung Tauhid. Yahudi juga pendukung Tauhid.
Saya menulis sepucuk surat kepada seorang ulama Yahudi [menanyakan]: "Apa akidah kalian tentang Tauhid?" Sebagai jawabannya dia menuliskan, "Ajaran kami adalah Tauhid. Tuhan kami adalah sama dengan Tuhan Al-Quran." Sekarang, yang perlu dipahami dan dicermati adalah, tatkala orang-orang ini juga mendakwakan Tauhid maka apa keistimewaan umat Islam?
Sekarang yang tinggal adalah tukar-pendapat dan perdebatan-perdebatan mendalam. Itu adalah hal-hal yang bersifat menyembelih, sebab melalui perdebatan tidak ada satu pun yang percaya. Lihat, terjadi perlawanan Lekhram dengan saya. Dia memberikan kabar-gaib untuk saya, yakni dalam tiga tahun saya akan mati.
Saya menerima kabar dari Allah lalu memberikan kabar gaib mengenai dirinya bahwa dalam tempo enam tahun dia akan mati melalui pembunuhan. Buka dan simaklah buku Lekhram, Khabath Ahmadiyyah (Kegilaan Ahmad). Bagaimana dia dengan menangis-nangis telah memohon dengan penghambaan penuh di hadapan Parmesyer (Tuhan), serta telah meminta keputusan dari Allah Ta’ala berupa dukungan dan pertolongan bagi pihak yang benar, sedangkan bagi pihak pendusta berupa kebinasaan dan kehancuran. Yakni, supaya timbul perbedaan antara yang benar dengan yang batil. Dan supaya terbukti bagi dunia bahwa di antara agama Ariya dan agama Islam, jalan mana yang paling dicintai dan disukai oleh Allah, dan mana yang ditolak.
Akhirnya, keputusan yang telah timbul itu diketahui oleh dunia, yakni pihak mana yang telah didukung oleh Allah Ta’ala, dan pihak mana yang telah mati dalam kegagalan, dan dengan demikian untuk selamanya telah terbukti dengan jelas mana yang benar dan mana yang dusta antara Islam dan agama Ariya.
Inilah Tanda-tanda Ilahi, dan inilah yang dinamakan sebagai furqaan (pembeda). Apalah yang didapat melalui perdebatan-perdebatan dangkal? Cobalah, apakah pernah ada yang melihat bahwa di dalam perdebatan ada yang mengakui kekalahan? Di satu sisi ambillah buku Khabath Ahmadiyyah, dan di sisi lain ambillah buku-buku saya yang di dalamnya tertera nubuatan-nubuatan dengan panjang-lebar, kemudian bandingkanlah, mana yang merupakan Kalaam Allah dan mana yang merupakan kalaam setan?
Jika perkataan saya tidak berasal dari Allah dan bukan atas perintah Allah, maka apakah tidak mungkin bahwa sayalah yang akan mati, sedangkan dia (Lekhrarn) akan tetap hidup? Sebab sarana-sarana zahir menuntut demikian. Umur saya lebih tua dibandingkan dengannya, memudian saya juga menderita sakit, namun sebaliknya dia sehat dan kuat.
Tidak hanya dia (Lekhram), bahkan selainnya pun siapa-siapa saja yang telah melakukan mubahalah telah mengalami kehinaan, telah mengalami kebinasaan. Ghulam Dastagir Qashuri. Muhyiddiin Lakhoke Waalaa. Orang-orang ini telah melakukan mubahalah, dan mereka sendiri yang telah binasa, lalu untuk selamanya telah menjadi cap (stempel) kebenaran bagi diri saya.
Maulwi Charagh Diin Jammu Waalaa telah menubuatkan tentang diri saya bahwa saya akan mati akibat wabah pes, dan dia telah melakukan mubahalah. Namun lihatlah, ternyata dia sendiri yang telah mati akibat pes.
Ada satu orang lagi bernama Faqir Mirza. Dia juga telah mengumumkan bahwa, "Mirza (Hadhrat Masih Mau'ud a.s. – pent.) akan mati di bulan Ramadhan, dan saya telah memperoleh kabar itu dari ‘Arasy." Akhirnya, ketika tiba bulan Ramadhan teryata dia sendiri yang mati. Babu Ilahi Bakhs Sahib juga telah menubuatkan di dalam bukunya mengenai saya bahwa saya akan mati akibat pes, namun kalian mengetahui bagaimana dia telah mati.
Sekarang katakanlah, mukjizat-mukjizat itu memiliki tanduk di kepalanya. [Alexander] Dowie yang tinggal di seberang lautan, ketika dia tampil untuk melawan saya, dan saya memperoleh kabar dari Allah lalu menubuatkan tentang kebinasaan yang penuh penyesalan (kehinaan) baginya, maka dengan cepat mulai timbul tanda-tanda kekalahan pada dirinya, dan akhirnya dengan penuh kegagalan (kehinaan) dia terserang lumpuh, lalu mati setelah menyaksikan berbagai macam kedukaan dan kehinaan.
Ringkasnya, jika sebuah buku berisikan Tanda-tanda (mukjizat) ini ditulis maka pasti akan jadi sebuah buku yang terdiri dari 25 juz. Lihat, Abdullah Atham itu dimana sekarang?
Orang-orang mengatakan, "Perlihatkan suatu mukjizat baru untuk kami!”. Apakah Tanda-tanda Ilahi sudah menjadi basi, dan telah menjadi sampah, sehingga Tanda-tanda itu ditolak? Dan mereka menuntut Tanda-tanda yang sesuai dengan keinginan mereka. Allah Ta’ala itu tidak ingin berjalan (bertindak) di bawah siapa pun, yakni mengikuti kehendak seseorang. Dia sedang memperlihatkan Tanda, tetapi dia perlihatkan sesuai dengan kehendak‑Nya. Apakah mereka belum puas, sehingga mereka masih menuntut [Tanda-tanda] yang lain?
Ringkasnya, di dalam Quran Syarif, tokoh mau'ud (yang dijanjikan) di akhir zaman itu dinamakan khalifah. Dan di dalam hadits-hadits Nabawiyyah ia dinamakan Masih Mau 'ud. Demikianlah Allah Taala juga telah memberikan dua nama kepada saya, yang telah dicetak di dalam buku saya 26 tahun lalu, dan buku itu ada di tangan kawan-kawan mau pun lawan.
Di dalam sebuah ilham yang saya terima dikatakan, "Innii jaa'ilun fil ardhi khaliifah – (Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi)." Dan di dalam ilham lain dikatakan, "Alhamdulillaahil- ladzii ja’alakal- masiihibni maryam –(segala puji bagi Allah yang telah menjadikan engkau sebagai Masih ibnu Maryam]." Ringkasnya, berdasarkan hadits dan Quran Syarif, Allah Ta’ala telah menamakan saya demikian. Dan Dia telah menetapkan saya sebagai Mau'ud yang akan datang itu.
Al-Masih Nasrani telah wafat, dan di dalam Quran Syarif dengan sangat tegas berkali-kali telah diterangkan tentang kewafatannya. Beliau dalam bentuk bagaimana, pun tidak dapat hidup kembali. Tatkala sebagai penggantinya Allah Ta’ala telah menetapkan orang lain, maka betapa merupakan kebodohan dan ketololan besar apabila masih saja menunggu-nunggunya.
Maksud saya adalah, orang-orang yang berdebat mengenai hal itu, yakni supaya kepada mereka diperlihatkan Tanda-tanda yang mereka tuntut memperhatikan, bahwa ada ratusan nabi yang telah datang kepadanya nubuatan mengenai mereka di dalam suatu kitab terdahulu.
Hal yang sebenamya adalah, bersama nabi yang benar itu terdapat keperkasaan Allah Ta’ala. Dan orang yang datang dari Allah Ta’ala, secara pasti bersamanya terdapat Tanda Ilahi dan dukungan yang banyak.
Lihat mukjizat-mukjizat yang diterangkan di dalam Bibel, Injil, Al-Quran, dan Hadits. Musuh dapat membuat berbagai alasan untuk tidak mengakuinya. Musuh dapat menuduh telah terjadi penghapusan dan perubahan [pada Kitab Ilahi], serta dapat memberikan Tanda lain sesuai corak yang lain lagi.
Ringkasnya, jika hal-hal terdahulu itu saja yang dijadikan landasan untuk mengambil suatu keputusan maka dapat timbul kesulitan-kesulitan besar. Namun Allah Ta’ala tidak suka apabila kebenaran dan kebatilan dicampur-baurkan, sehingga kebenaran itu jadi samar bagi dunia. Untuk itulah terdapat sunnah-Nya yakni melalui Tanda-tanda baru Dia selalu menzahirkan kebenaran.
Demikianlah di zaman ini pun, tatkala Allah telah mengutus saya, dan telah menamakan saya sebagai Masih Mau'ud dan Khaatamul Khulafa, maka bersamaan dengan itu pun Dia juga berfirman, "Qul 'indii syahadatun- minallaahi fa hal antum muslimuun – (katakan, 'Padaku terdapat kesaksian dari Allah, maka apakah kamu mengakuinya?), yakni, bersamaan dengan itu Dia juga telah menganugerahkan kesaksian-Nya.
Jadi, pada saat ini pun bersama saya terdapat kesaksian Ilahi. Apa pun kritikan (keberatan) atas masalah minhaajun- nubuwwat (jalan/cara kenabian) berdasarkan Al-Quran dan Hadits, saya setiap saat siap untuk menjawabnya. Memang ini berlaku pada setiap pendakwa, yakni padanya dimintakan bukti kebenaran pendakwaannya. Jadi, untuk pengujian itu saya setiap saat bersedia, dengan syarat sesuai minhaajun nubuwwat (jalan/cara kenabian).
Hanya Allah yang tahu apa yang telah diletakkan (dimasukkan) dalam kisah-kisah kuno itu, sehingga orang-orang ini tidak percaya pada Tanda-tanda yang baru, dan mereka hanya menuntut kisah-kisah [lama]. Coba tanyakan kepada mereka, apa yang mereka peroleh dari kisah-kisah itu?
Kisah orang-orang Yahudi jauh lebih mengada-ada. Apakah kalian akan mempercayainya? Di setiap umat terdapat kisah-kisah yang menumpuk. Namun kisah-kisah kosong belaka tidak dapat memberikan manfaat untuk kekuatan iman dan untuk penyegaran ruh.
Keimanan yang didasarkan pada kisah-kisah belaka pun adalah lemah. Orang-orang yang tidak percaya pada Tanda-tanda yang baru dan pada kesaksian Allah Ta’ala, akhirnya hukuman bagi mereka adalah mereka [tetap] menjadi pengikut kisah-kisah belaka.”
(Malfuzat, jld. X, hlm. 261-274).
Lampiran
Ayat #1
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya: Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dari antara kamu dan berbuat amal shaleh, bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah orang-orang yang sebelum mereka; dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, yang telah Dia ridhai bagi mereka ; dan niscaya Dia akan menggantikan mereka sesudah ketakutan mereka dengan keamanan. Mereka akan menyembah Aku, dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan Aku. Dan barangsiapa ingkar sesudah itu, mereka itulah orang-orang yang durhaka. (QS An Nuur [245] ayat 56)
Hadits #1
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْمَهْرِيُّ، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَيُّوبَ، عَنْ شَرَاحِيلَ بْنِ يَزِيدَ الْمَعَافِرِيِّ، عَنْ أَبِي عَلْقَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، فِيمَا أَعْلَمُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ " إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا " . قَالَ أَبُو دَاوُدَ رَوَاهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ شُرَيْحٍ الإِسْكَنْدَرَانِيُّ لَمْ يَجُزْ بِهِ شَرَاحِيلَ .
سنن أبي داود, كتاب الملاحم, باب مَا يُذْكَرُ فِي قَرْنِ الْمِائَةِ
سنن أبي داود, كتاب الملاحم, باب مَا يُذْكَرُ فِي قَرْنِ الْمِائَةِ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Dawud Al Mahri] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Wahb] berkata, telah mengabarkan kepadaku [Sa'id bin Abu Ayyub] dari [Syarahil bin Yazid Al Mu'arifi] dari [Abu Alqamah] dari [Abu Hurairah] yang aku tahu hadits itu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:
"Setiap seratus tahun Allah mengutus kepada umat ini seseorang (mujaddid) yang akan memperbaharui agama ini (dari penyimpangan)."
Abu Dawud berkata, "'Abdurrahman bin Syuraih Al Iskandarani meriwayatkan hadits ini, namun tidak menyebutkan Syarahil."
HR. Sunan Abu Dawud, Kitabul-Malaahim, Bab maa yudzkaru fii qornil-mi-ati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar