Senin, 26 Desember 2016

Sejarah Rasulullah saw Bagian 23

Kabar Gaib Agung Menjadi Sempurna


Saat berperang telah mendekat, Rasulullah saw. keluar dari kemah kecil, di sana beliau lama mendoa, lalu beliau mengumumkan :

“Musuh pasti akan binasa dan melarikan diri.”

Kata-kata itu diwahyukan kepada Rasulullah saw. selang beberapa waktu sebelum itu di Mekkah. Jelas wahyu itu berhubungan dengan perang ini. Ketika kekejaman Mekkah mencapai puncaknya dan kaum Muslimin sedang berhijrah ke tempat-tempat mereka dapat hidup dengan aman dan damai, Rasulullah saw. menerima wahyu dari Allah :

Dan sesungguhnya kepada kaum firaun pun telah datang para Pemberi peringatan. Mereka mendustakan semua Tanda Kami. Maka mereka Kami sergap dengan sergapan Zat Yang Mahaperkasa, Mahakuasa. Adakah orang-orang kafirmu lebih baik daripada mereka itu? Ataukah ada bagimu jaminan kebebasan dari hukuman tercantum di dalam Kitab-kitab? Ataukah mereka berkata, “Kami golongan yang menang?” Golongan itu akan segera dibinasakan dan akan membalikkan punggung mereka, melarikan diri. Bahkan saat itu, saat yang telah dijanjikan kepada mereka dan saat itu paling celaka dan paling pahit bagi mereka. Sesungguhnya, orang-orang yang berdosa itu berada dalam kesesatan nyata dan mengidap penyakit gila. Pada hari ketika mereka akan diseret pada muka mereka ke dalam Api, akan dikatakan kepada mereka, ”Rasakanlah olehmu sentuhan neraka.” (54:42-49).

Ayat-ayat itu bagian dari Surah Al-Qamar dan menurut semua riwayat, surah itu diturunkan di Mekkah. Para alim-ulama Islam menempatkan turunnya wahyu itu diantara tahun kelima dan sepuluh Nabawi, yaitu, sekurang-kurangnya tiga tahun sebelum hijrah. Kemungkinan besar wahyu itu diturunkan delapan tahun sebelum Hijrah. Sarjana-sarjana  Eropa juga sepakat dengan pendapat ini. Menurut Noldeke, seluruh Surah ini diturunkan sesudah tahun kelima Nabawi. Wherry memandang waktu itu agak terlalu dini. Menurut dia, Surah itu termasuk tahun keenam atau ketujuh sebelum Hijrah atau sesudah Nabawi. Pendek kata, para alim-ulama Islam dan sumber-sumber bukan-Islam kedua-duanya bersepakat bahwa surah ini diwahyukan selang bertahun-tahun sebelum Rasulullah saw. dan para sahabat berhijrah dari Mekkah ke Medinah. Nilai ayat-ayat Makiyyah sebagai ayat-ayat yang  mengandung kabar-gaib sama sekali tidak dapat diragu-ragukan atau dibantah. Dalam ayat-ayat ini ada isyarat-isyarat yang jelas mengenai apa yang bakal terjadi pada kaum Mekkah di medan pertempuran Badar. Nasib malang yang akan mereka alami jelas diramalkan. Ketika Rasulullah saw. keluar dari kemah, beliau menyatakan ulang kabar-gaib dalam surah Makiyyah itu. Beliau agaknya ingat kepada ayat-ayat Makiyyah itu waktu beliau berdoa di dalam kemah. Dengan membaca satu dari antara ayat-ayat itu beliau memperingatkan para sahabat bahwa saat yang dijanjikan dalam wahyu Makiyyah itu telah datang.

Dan, saat itu sungguh-sungguh telah datang. Nabi Yesaya  (21:13-17) telah mengabargaibkan perihal saat itu. Pertempuran mulai berkecamuk meskipun kaum Muslim beliau siap dan orang-orang kafir telah mendengar nasihat agar jangan berperang. Tiga ratus tiga belas orang-orang Islam, kebanyakan tidak punya pengalaman, dan tidak pandai berperang, dan hampir semuanya tanpa perlengkapan yang cukup, menghadapi kekuatan yang tiga kali lipat dan semuanya prajurit yang berpengalaman. Dalam beberapa jam saja banyak pemimpin Mekkah terkemuka menemui ajal mereka. Sesuai dengan apa yang dikabargaibkan oleh Nabi Yesaya, habislah segala kemuliaan Kedar. Balatentara Mekkah melarikan diri pontang-panting dan dalam keadaan kacau-balau meninggalkan mereka yang tewas dan beberapa yang tertawan. Di antara tawanan-tawanan itu terdapat paman Rasulullah saw., Abbas, yang biasanya melindungi Rasulullah saw. di masa beliau tinggal di Mekkah. Abbas terpaksa ikut serta dengan kaum Mekkah dan memerangi Rasulullah saw. Tawanan lain bernama Abul’As, mantu Rasulullah saw. Di antara mereka yang tewas terdapat Abu Jahal, Panglima Tertinggi laskar Mekkah dan menurut segala riwayat, merupakan musuh Islam yang terbesar.

Kemenangan telah tiba, tetapi menimbulkan rasa yang campur baur pada Rasulullah saw. Beliau gembira atas sempurnanya janji-janji Ilahi yang berulang-ulang diturunkan selama jangka waktu empat belas tahun yang lampau. Janji-janji yang telah tercatat dalam beberapa kitab agama terdahulu. Tetapi, pada saat itu juga beliau bersedih hati atas kemalangan kaum Mekkah. Alangkah menyedihkannya nasib yang mereka jumpai! Jika kemenangan itu diraih oleh orang lain selain beliau, ia akan melompat-lompat kegirangan. Tetapi melihat para tawanan di hadapan beliau, diikat dan dibelenggu, mata beliau dan mata sahabat karib beliau, Abu Bakar, digenangi air mata. Umar, yang di hari kemudian mengganti Abu Bakar menjadi Khalifah Kedua Islam, menyaksikan hal itu, tetapi ia tidak dapat memahami. Mengapa Rasulullah saw. dan Abu Bakar menangisi kemenangan? Umar menjadi bingung. Maka ia memberanikan diri bertanya kepada Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, katakanlah kepadaku, mengapa Anda menangis jika Tuhan memberi kemenangan yang begitu besar. Jika kita harus menangis, aku akan ikut menangis atau sedikitnya memperlihatkan muka sedih.” Rasulullah saw. menunjuk kepada nasib malang tawanan-tawanan. Itulah akibat pembangkangan terhadap Tuhan.

Nabi Yesaya berkali-kali menyebut keadilan Nabi itu; ia yang keluar dengan kemenangan dari perang mati-matian. Ihwal keadilannya telah terpamer pada peristiwa berikut ini. Dalam perjalanan pulang ke Medinah, Rasulullah saw. malam harinya beristirahat di perjalanan. Para sahabat setia yang menjaga beliau dapat melihat, betapa Rasulullah  saw. tampak resah dan tidak dapat tidur. Segera mereka menerka bahwa hal itu disebabkan oleh karena beliau mendengar rintihan paman beliau, Abbas, yang berbaring didekat situ, diikat dengan kuatnya sebagai tawanan perang. Mereka melonggarkan tali pengikat Abbas. Rintihan Abbas berhenti. Rasulullah saw. tidak terganggu lagi oleh rintihannya, mulai tertidur. Tak lama kemudian beliau bangun dan merasa heran, mengapa tidak lagi terdengar rintihan Abbas. Beliau setengah menyangka bahwa Abbas telah pingsan. Tetapi para sahabat yang menjaga Abbas mengatakan bahwa mereka telah melonggarkan tali pengikat Abbas supaya Rasulullah saw. dapat tidur pulas. “Jangan, jangan!” sabda Rasulullah saw. “Tidak boleh ada ketidakadilan. Jika Abbas masih keluargaku, tawanan-tawanan lainnya pun mempunyai ikatan kekeluargaan dengan orang-orang lain. Longgarkan semua tali pengikat mereka atau ikat kembali erat-erat tali pengikat Abbas juga.” Para sahabat mendengar teguran itu lalu mengambil keputusan untuk melonggarkan ikatan semua tawanan dan mereka sendiri memikul dengan penuh rasa tanggung jawab kewajiban penjagaan.

Kepada para tawanan yang pandai baca tulis dijanjikan kemerdekaan jika mereka dapat mengajar sepuluh anak laki-laki Mekkah sebagai tebusan kemerdekaan. Mereka yang tak punya siapa-siapa yang dapat membayar tebusan mereka, dapat meraih kemerdekaan mereka atas permohonan sendiri. Dengan membebaskan para tawanan dengan cara serupa itu Rasulullah saw. menyudahi kebiasaan kejam, yaitu, kebiasaan menjadikan tawanan perang sebagai budak belian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar