Senin, 26 Desember 2016

Sejarah Rasulullah saw Bagian 22

Perang Badar


Sementara Rasulullah saw. merencanakan untuk memberlakukan hukum praktis yang berguna bukan saja untuk kaum Arab di generasi beliau sendiri tetapi untuk seluruh umat manusia seterusnya di zaman-zaman yang akan datang, kaum kufar Mekkah mengadakan rencana untuk berperang. Rasulullah saw. merencanakan hukum yang akan membawa kaum beliau dan semua kaum lainnya kepada keamanan, saling menghormati dan kemajuan, namun kaum kufar Mekkah yang tidak bersahabat dengan beliau merencanakan kebinasaan tertib hukum. Rencana-rencana kaum kufar Mekkah itu pada akhirnya membuahkan Perang Badar. Perang terjadi delapan belas bulan sesudah hijrah. Sebuah kafilah dagang, di bawah pimpinan Abu Sufyan, tengah berada dalam perjalanan pulang dari Siria. Dengan pura-pura melindungi kafilah tersebut, kaum Mekkah membentuk  suatu laskar besar dan ditetapkan untuk bergerak ke Medinah. Rasulullah saw. dapat mencium persiapan-persiapan itu. Beliau pun menerima wahyu dari Tuhan yang mengatakan bahwa saat telah datang untuk membalas. Beliau bertolak dari Medinah dengan sejumlah pengikut. Tak seorang pun pada saat itu tahu, apakah sepasukan Muslimin itu akan berhadapan dengan kafilah dari Siria ataukah dengan laskar dari Mekkah. Pasukan itu berjumlah kira-kira tiga ratus prajurit. Suatu kafilah dagang pada zaman itu tidak hanya terdiri atas unta-unta bermuatan barang-barang dagangan. Di dalamnya terdapat juga orang-orang bersenjata yang menjaga dan mengawal kafilah itu dalam perjalanan. Sejak timbul ketegangan antara kaum Mekkah dan kaum Muslimin di Medinah, para pemimpin Mekkah mulai mempersenjatai pengawalnya dengan lebih istimewa.

Sejarah mencatat kenyataan adanya dua kafilah lain yang melalui jalan itu tak lama sebelum itu. Dalam salah satu kafilah itu ada dua ratus orang bersenjata sebagai penjaga dan pengawal dan dalam yang satu lagi tiga ratus. Sangat keliru untuk beranggapan seperti penulis-penulis Kristen bahwa Rasulullah saw. membawa tiga ratus pengikut beliau dan bertolak untuk menyerang suatu kafilah dagang yang tak berkawal. Tuduhan serupa itu jahat dan tak beralasan. Kafilah yang pada saat itu datang dari Siria adalah kafilah besar dan, mengingat ukurannya dan pengawalan bersenjatanya untuk kafilah-kafilah lain, maka dapat diterima oleh akal bahwa kira-kira empat sampai lima ratus penjaga bersenjata telah dipergunakan untuk pengawalan itu. Untuk mengatakan bahwa pasukan Muslim itu tiga ratus prajurit yang sangat sederhana persenjatannya, dikerahkan oleh Rasulullah saw. untuk menyerang suatu kafilah yang begitu kuat pengawalannya dengan tujuan hendak merampok adalah sangat tidak adil. Hanya purbasangka dan berburuk maksud terhadap Islam belaka dapat melahirkan pikiran semacam itu. Jika pasukan Muslim keluar untuk menghadapi kafilah ini, maka petualangan mereka dapat dilukiskan sebagai petualangan perang, walaupun perang yang bersifat bela diri, sebab pasukan Muslim dari Medinah itu pasukan kecil dan sangat buruk persenjataannya dan kafilah Mekkah itu besar dan persenjataannya kuat dan lagi pula lama mereka memendam rasa permusuhan terhadap kaum Muslimin di Medinah.

Menilik hakikatnya, keadaan-keadaan ketika pasukan Muslim kecil yang diberangkatkan dari Medinah itu jauh lebih gawat dan menghawatirkan. Seperti telah kami kemukakan, mereka sendiri tidak tahu apakah kafilah dari Siria ataukah laskar dari Mekkah yang akan mereka hadapi. Tidak adanya kepastian mengenai tujuan keberangkatan kaum Muslimin disinggung juga dalam Alquran. Tetapi kaum Muslim telah siap untuk menghadapi kedua-dua kemungkinan. Tidak adanya kepastian untuk apa mereka berangkat dari Medinah itu membuktikan kekuatan iman dan ketakwaan mereka yang luar biasa. Baru sesudah mereka berangkat agak jauh dari Medinah, Rasulullah saw. memberi penjelasan bahwa mereka akan menghadapi laskar Mekkah yang besar dan bukan kafilah dari Siria yang kecil.

Dugaan-dugaan tentang besarnya kekuatan laskar Mekkah telah sampai kepada kaum Muslimin. Perkiraan terkecil menyebut jumlah seribu prajurit, semua prajurit itu berpengalaman dalam olah senjata di medan peperangan. Jumlah sahabat yang menyertai Rasulullah saw. hanya ada tiga ratus tiga belas dan banyak di antara mereka tidak terlatih dan tidak berpengalaman dan sebagian besar sangat buruk persenjataan mereka. Kebanyakan mereka berjalan kaki, atau berkendaraan unta. Dalam seluruh pasukan hanya dua ekor kuda. Pasukan yang sangat buruk dan lemah perlengkapannya dan tidak punya pengalaman itu harus menghadapi kekuatan musuh yang tiga kali lipat jumlahnya terutama terdiri atas prajurit-prajurit berpengalaman. Adalah jelas bahwa gerakan pasukan itu suatu gerakan paling berbahaya yang pernah terjadi dalam catatan sejarah. Rasulullah saw. cukup bijaksana untuk memperoleh keyakinan bahwa tidak ada seorang pun yang ikut serta di dalam gerakan pasukan itu tanpa berbekal pengetahuan yang cukup dan tanpa kemauan dan hatinya sendiri di dalam gerakan pasukan itu. Beliau menjelaskan bahwa bukan kafilah yang akan dihadapi, melainkan laskar dari Mekkah. Beliau mengadakan musyawarah. Seorang demi seorang, para Muhajirin berdiri dan meyakinkan Rasulullah saw. tentang kesetiaan dan semangat serta tekad bulat mereka untuk bertempur menghadapi musuh mereka dari Mekkah yang telah datang untuk menyerang kaum Muslimin di Medinah, di rumah mereka sendiri. Tiap-tiap kali Rasulullah saw. mendengar seorang Muhajir mengatakan keteguhan hatinya untuk berperang, beliau terus meminta pendapat dan usul lebih banyak lagi. Para Ansar sampai pada saat itu masih tetap bungkam. Penyerang-penyerang itu orang-orang dari Mekkah, masih sanak saudara dan kaum-kerabat kebanyakan para Muhajirin yang sekarang ada di tengah-tengah mereka. Para Ansar khawatir jangan-jangan kehausan menggempur musuh dari Mekkah itu akan menyakiti hati saudara-saudara mereka, kaum Muhajirin. Tetapi ketika Rasulullah saw. mendesak untuk diberi masukan lebih banyak lagi, bangkitlah seorang Ansar dan berkata,

“Ya Rasulullah, Anda telah mendapatkan pendapat-pendapat yang Anda perlukan, tetapi Anda masih terus meminta lebih banyak lagi. Barangkali Anda masih menunggu pendapat dari kami, kaum Ansar. Benarkah demikian?”

“Benar”, jawab Rasululah saw.

“Anda menghendaki pendapat kami, karena Anda berpikir bahwa ketika Anda datang kepada kami, kami bersedia berperang beserta Anda hanya dalam keadaan Anda dan para Muhajirin lainnya mendapat serangan di Medinah. Sekarang, kami sudah keluar dari Medinah dan Anda merasa bahwa perjanjian kami tidak meliputi keadaan kami hari ini. Tetapi, ya, Rasulullah, ketika kami mengikat perjanjian, kami belum mengenal Anda seperti kami mengenal Anda dewasa ini. Kami tahu ketinggian martabat rohani Anda. Kami tidak memperhatikan lagi perjanjian kami. Kami siap menanti perintah apapun yang Anda minta dari kami. Kami tidak akan bersikap seperti para pengikut Nabi Musa as. yang berkata, “Pergilah engkau dan Tuhan engkau memerangi musuh, kami akan menunggu di belakang sini”. Jika kami harus bertempur, kami akan bertempur di kanan  Anda, di kiri Anda, di belakang Anda. Sungguh, musuh amat ingin menangkap Anda. Tetapi, kami bersumpah bahwa mereka tidak akan berhasil tanpa melangkahi mayat-mayat kami. Ya Rasulullah, Anda mengajak kami berperang. Kami bersiap-sedia berbuat lebih daripada itu. Tidak jauh dari sini terletak laut. Jika Anda perintahkan kami untuk menceburkan diri ke dalamnya, sedikit pun kami tidak akan ragu-ragu berbuat demikian” (Bukhari, Kitab al-Maghazi, dan Hisyam).

Itulah semangat pengabdian dan pengorbanan yang diperagakan oleh kaum Muslimin di masa permulaan dan contoh serupa itu tidak ada bandingannya di dalam sejarah dunia. Contoh para pengikut Nabi Musa as. telah disebut diatas. Adapun tentang pengikut-pengikut Nabi Isa as. kita ketahui bahwa mereka meninggalkan beliau pada saat yang sangat genting. Seorang diantara mereka telah menjual dengan harga yang tak berarti. Yang lain mengutuk beliau dan yang sepuluh orang lagi melarikan diri. Sedangkan iman kaum Ansar yang baru bersahabat dengan Rasulullah saw. selama satu setengah tahun telah begitu kuat membaja sehingga, sekiranya beliau memerintahkan, mereka bersedia tanpa ragu-ragu menceburkan diri ke dalam laut. Rasulullah saw. mengadakan musyawarah. Tetapi beliau sedikit pun tidak ragu-ragu akan pengabdian para sahabat. Beliau berbuat demikian untuk menyaring orang-orang yang lemah supaya beliau dapat menyuruh mereka pulang. Tetapi beliau menyaksikan bahwa para Muhajirin dan Ansar berlomba-lomba dalam memperagakan pengabdian mereka. Kedua-duanya bertekad tidak memperlihatkan punggung kepada musuh walaupun musuh tiga kali lipat jumlahnya dan jauh lebih baik perlengkapannya, persenjataannya dan pengalamannya. Mereka lebih suka berpegang kepada janji-janji Ilahi, menunjukkan rasa takzim mereka terhadap Islam dan menyerahkan jiwa-raga mereka dalam membela dan mempertahankannya.

Yakin akan pengabdian para Muhajirin dan Ansar ini Rasulullah saw. bergerak maju. Ketika beliau sampai ke suatu tempat yang disebut Badar, beliau menerima anjuran salah seorang dari para pengikut beliau dan memerintahkan pasukan untuk mengambil tempat dekat anak sungai Badar. Kaum Muslimin menduduki sumber air itu, tetapi tanah yang mereka ambil untuk posisi mereka adalah tanah pasir belaka, dan oleh karena itu tidak baik untuk kelincahan gerak prajurit-prajurit. Para Sahabat menunjukkan kecemasan yang sewajarnya atas kedudukan yang tidak menguntungkan itu. Rasulullah saw. sendiri pun ikut khawatir juga dan semalam suntuk beliau berdoa. Berulang-ulang beliau bersabda,

Ya Tuhanku, di atas seluruh permukaan bumi pada saat ini hanya ada tiga ratus orang inilah yang mengabdi kepada Engkau dan bertekad menegakkan ibadah hanya kepada Engkau. Ya Tuhanku, jika ketiga ratus orang ini pada hari ini gugur di tangan musuh dalam perang ini, siapakah yang akan tinggal mengagungkan Nama Engkau?(Tabari).

Tuhan mendengar doa rasul-Nya. Hujan tiba-tiba turun. Bagian pasir medan pertempuran yang diduduki laskar Muslim menjadi basah dan padat. Bagian medan yang tadinya kering dan diduduki oleh musuh  menjadi berlumpur dan licin. Mungkin musuh dari Mekkah itu sengaja memilih bagian medan itu dan membiarkan laskar Muslim menduduki bagian yang lainnya karena pandangan mata yang berpengalaman lebih menyukai tanah kering untuk memudahkan gerakan prajurit-prajurit dan pasukan kuda mereka. Tetapi keadaannya sekarang telah sama sekali terbalik, berkat tindakan Tuhan yang tepat pada waktunya. Hujan yang turun tiba-tiba telah menjadikan bagian medan berpasir yang diduduki laskar Muslim keras dan medan yang keras tempat berkemah laskar Mekkah menjadi licin. Pada malam hari Rasulullah saw. menerima kabar-gaib bahwa anggota-anggota penting dari musuh akan menemui ajal mereka. Bahkan nama-nama orangnya pun diwahyukan kepada beliau. Mereka mati sebagaimana telah disebut dalam kabar-gaib.

Di dalam perang itu sendiri laskar Muslim yang kecil itu telah memperagakan keberanian dan pengabdian yang menakjubkan. Suatu peristiwa telah membuktikan hal itu. Salah seorang dari beberapa gelintir panglima Muslim bernama ‘Abdur-Rahman bin ‘Auf, salah seorang pemimpin Mekkah dan prajurit yang berpengalaman. Ketika perang dimulai, ia menengok ke kiri dan ke kanan untuk melihat macam bantuan apa yang dapat diperoleh. Ia heran bahwa ia  hanya didampingi oleh dua anak muda dari kaum Ansar. Ia merasa kecewa dan berkata dalam hatinya, “Tiap-tiap panglima memerlukan dukungan di kanan-kirinya. Apalagi aku di saat ini. Tetapi di sini hanya ada dua anak yang masih hijau. Apa yang dapat kuperbuat dengan mereka?” ‘Abdur-Rahman menceritakan bahwa baru saja selesai berpikir demikian, ketika salah seorang dari pemuda-pemuda itu menyentuh rusuknya dengan sikut. Ia membungkuk untuk menyimak kata pemuda itu. “Paman, kami telah mendengar tentang seorang bernama Abu Jahal yang biasa mengganggu dan berbuat kejam terhadap Rasulullah saw. Paman, saya akan menggempurnya. Tunjukkanlah, mana orang itu.” ‘Abdur-Rahman belum sempat menjawab pertanyaan itu. Ketika perhatiannya sudah ditarik oleh anak muda satu lagi yang menanyakan hal itu juga. ‘Abdur-Rahman sangat tercengang atas keberanian dan tekad bulat dua anak itu. Sebagai seorang prajurit berpengalaman luas sekalipun, tak terbayang sepintas juga dalam pikirannya untuk memilih panglima musuh sebagai lawannya. ‘Abdur-Rahman menunjuk dengan telunjuknya kepada Abu Jahal yang bersenjatakan lengkap dan berdiri di bagian belakang barisan yang dilindungi oleh dua panglima kawakan dengan pedang terhunus. ‘Abdur-Rahman belum lagi menurunkan telunjuknya, ketika kedua pemuda itu menyerbu ke barisan musuh dengan kecepatan garuda menyambar mangsa, langsung menuju sasaran yang telah dipilihnya. Serangannya begitu tiba-tiba.

Prajurit-prajurit dan para pengawal terperangah. Kemudian mereka menyerang pemuda-pemuda itu. Salah seorang anak itu kehilangan lengannya. Tetapi ia tetap tak gentar dan tak terkalahkan. Mereka menyerang Abu Jahal dengan serbuan yang begitu dahsyat sehingga panglima besar itu tersungkur dengan luka-luka yang menewaskannya. Dari tekad yang menyala-nyala kedua pemuda itu dapat kita mengerti betapa mendalamnya sakit hati dan marah para pengikut Rasulullah saw., tua-muda, disebabkan oleh tindakan aniaya lagi kejam yang diderita mereka dan Rasulullah saw.  sampai saat itu. Kita hanya membacanya dalam sejarah, tetapi hati kita pun sangat terenyuh. Para penduduk Medinah mendengar tentang kekejaman-kekejaman itu dari saksi-saksi mata. Perasaan-perasaan mereka dapat kita bayangkan. Mereka mendengar tentang kekejaman-kekejaman kaum Mekkah di satu pihak dan tentang kesabaran Rasulullah saw. di pihak lain. Tidak mengherankan jika tekad mereka bulat untuk mengadakan pembalasan terhadap kejahatan mereka kepada Rasulullah saw. dan para Muslimin di Mekkah. Mereka hanya menunggu kesempatan untuk menyatakan kepada penganiaya mereka dari Mekkah bahwa jika kaum Muslim tidak mengadakan pembalasan, hal itu bukan disebabkan oleh kelemahan mereka, tetapi oleh karena mereka belum mendapat izin dari Allah Taala. Bagaimana kebulatan tekad pasukan Muslim yang kecil itu untuk gugur di medan laga dapat diukur juga dari peristiwa lain. Pertempuran belum terjadi ketika Abu Jahal mengirim seorang pemuka Bedui sebagai pengintai untuk mengetahui dan melaporkan jumlah laskar Islam. Pemuda Bedui itu kembali dan melaporkan bahwa pasukan Muslim kira-kira tiga ratus orang banyaknya. Abu Jahal dan para pengikutnya sangat gembira. Mereka memandang pasukan Muslim sebagai mangsa yang empuk. “Tetapi,” pemuda Bedui itu meneruskan, “nasihatku kepada kalian ialah: Jangan memerangi orang-orang itu, sebab tiap-tiap orang dari antara mereka nampak bertekad bulat untuk mati. Aku tidak melihat sosok-sosok manusia, melainkan malakalmaut berkendaraan unta.” Pemuda Bedui itu memang benar – mereka yang bersedia mati, tak mudah mati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar