Definisi Sia-Sia
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata sia-sia mempunyai beberapa arti- terbuang-buang saja; tidak ada gunanya (harganya, manfaatnya, hasilnya); percuma:
- omong kosong; nonsens:
- gagal; tidak berhasil; tidak mendapat apa-apa
- dengan sembarangan saja; tidak dipikirkan baik-baik
- pekerjaan yang dilakukan tidak hati-hati mendatangkan kerugian atau bahaya
- pekerjaan yang dilakukan tidak hati-hati dan tidak rapi penjagaannya sehingga menimbulkan kerugian;
أَحْبَطَ, حَبِطَتْ, لَغْوٌ, بَطَلَ , ضَلَّ, ضَلَالٌ
Kata yang akan dibahas adalah kata laghwun atau kata laghaw. Kata ini terdapat pada ayat-ayat Alquran berikut:
- Al-Baqarah 226
- Al-Furqan 73
- Al-Ghasyiyah 12
- Al-Maidah 90
- Al-Mu'Minun 4
- Al-Qashash 56
- Al-Waqi'ah 26
- An-Naba 36
- Ath-Thur 24
- Maryam 63
Akan dikutip dan dijelaskan beberapa ayat dalam QS Al-Mu-minun:
Artinya: "Sesungguhnya telah berhasil orang-orang yang beriman * Orang-orang yang dalam shalat mereka khusyu’ * Dan orang-orang yang dari hal sia-sia, mereka berpaling" (QS Al-Mu-minuun [23]: 2-4)
Tafsir: Tingkat kedua terletak dalam berpaling dari segala macam percakapan dan khayalan tak berguna, dan dari amal perbuatan sia-sia, percuma, dan tidak membawa manfaat. Kehidupan merupakan suatu kenyataan yang suram dan serius ; dan seorang mukmin harus menanggapinya demikian. Ia harus mempergunakan setiap saat dalam kehidupannya dengan cara yang bermanfaat dan menjauhi semua kesibukan sia-sia yang tidak berguna.
Hadhrat Khalifatul masih mengutip definisi kata laghwun dari tafsir Allamah Fakhruddin Razi di bawah ayat walladziinahum 'anil-laghwi mu'ridhuun:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
Artinya: "Sesungguhnya telah berhasil orang-orang yang beriman * Orang-orang yang dalam shalat mereka khusyu’ * Dan orang-orang yang dari hal sia-sia, mereka berpaling" (QS Al-Mu-minuun [23]: 2-4)
Tafsir: Tingkat kedua terletak dalam berpaling dari segala macam percakapan dan khayalan tak berguna, dan dari amal perbuatan sia-sia, percuma, dan tidak membawa manfaat. Kehidupan merupakan suatu kenyataan yang suram dan serius ; dan seorang mukmin harus menanggapinya demikian. Ia harus mempergunakan setiap saat dalam kehidupannya dengan cara yang bermanfaat dan menjauhi semua kesibukan sia-sia yang tidak berguna.
Hadhrat Khalifatul masih mengutip definisi kata laghwun dari tafsir Allamah Fakhruddin Razi di bawah ayat walladziinahum 'anil-laghwi mu'ridhuun:
"Berkaitan dengan itu terdapat beberapa pendapat. Banyak orang yang telah memberikan terjemahan dan tafsirnya. Pertama adalah bahwa di dalam kata (al-laghwi-sia-sia) termasuk semua barang-barang yang haram dan barang-barang yang makruh. Kedua, berpendapat bahwa maksud lagwun adalah hanya barang-barang yang haram. Ketiga,kata laghwun secara khusus di dalam ucapan dan ungkapan adalah mengindikasikan pada maksiat. Kemudian maksud laghwun adalah barang-barang atau hal yang halal yang tidak diperlukan."
Jadi, sejumlah para ahli tafsir yang telah memberikan arti, yakni barang-barang yang haram termasuk dalam laghwiyaat (barang-barang atau capan yang sia-sia). Satu ini tafsirnya yang ditafsirkan yang benar-benar jelas. Barang-barang yang makruh termasuk dalam laghaw – hal-hal yang sia-sia. Kemudian begini, seorang menulis bahwa kata laghwun – hal-hal yang sia-sia khususnya disebut bagi yang salah dalam pembicaran (obrolan) dan ungkapan yang menyangkut dosa. Dan satu artinya adalah perbuatan yang boleh (dibenarkan) dan pekerjaan yang halal juga yang tidakdiperlukan oleh seorang mukmin, itupun jika dilakukan maka termasuk dalam katagori laghwiyaat – hal-hal yang sia-sia" [sumber5]
Hadhrat Masih Mau'ud. a.s bersabda berkenaan dengan QS Al-Mu'minuun 2-4:
"Pekerjaan (amal) kedua orang yang beriman adalah pekerjaan (amal) yang dengan itu kekuatan iman sampai pada tingkat kedua, dan dibandingkan dengan sebelumnya iman sedikit lebih kuat, pada sudut pandang akal sehat seorang mukmin yang telah sampai pada derajat khusyuk adalah yang membersihkan hatinya dari khayalankhayalan sia-sia dan perbuatan-perbuatan (hobi-hobi) yang sia-sia. Sebab selama seorang mukmin tidak meraih potensi (kekuatan) yang rendah atau sederhana ini -- yaitu demi untuk Tuhan dia siap meninggalkan hal-hal yang sia-sia dan perbuatan-perbuatan yang sia-sia yang sedikitpun tidak susah untuk melepaskannya dan hanya merupakan dosa yang tidak ada kelezatan di dalamnya -- sampai saat itu keinginan seorang mukmin untuk dapat bebas dari perbuatan-perbuatan yang mana bebas dari itu merupakan hal yang sulit bagi hawa nafsu dirinya sendiri dan yang dengan melakukan itu sendiri hawa nafsunya sendiri masih merasakan faedah atau kelezatan. (Selama belum ada potensi yang sederhana itu -- khusyuk -- tidak mungkin tercapai maksud untuk meninggalkan yang laghaw itu).
Jadi dari itu jelas, bahwa sesudah tingkat pertama adalah meninggalkan takabbur, yakni menunjukkan kerendahan hati (kekhusyukan). Tingkat kedua adalah meninggalkan perkataan atau perbuatan laghaw yakni yang sia-sia. Dan pada tingkat itu janji yang dilakukan dengan kata aflaha, yakni suksesnya tujuan akan sempurna apabila hubungan orangorang mukmin dengan perbuatan-perbuatan sia-sia dan hobi-hobi yang sia-sia menjadi terputus; maka akan terjalin hubungan ringan (sekilas) dengan Allah Swt., dan kekuatan iman pun lebih bertambah dari sebelumnya. Dan kami katakan "hubungan ringan (sekilas/kecil)", karena hubungan dengan perbuatan yang sia-sia pun adalah ringan atau sekilas..." -- sebagaimana sebelumnya beliau bersabda bahwa dibandingkan dengan dosa-dosa yang lain terkadang meninggalkan perbuatan atau hobi yang sia-sia itu sangat mudah -- "Jadi dengan meninggalkan hubungan yang ringan atau sepele (sekilas) maka hubungan yang ringan atau sekilas kecilpun [dengan Tuhan] akan didapatkan”. (Lampiran Barahin Ahmadiyah jilid 5 Ruhani Khazain jilid 21 :230-231) [sumber5]
Ketika Allah Ta’ala berfirman perihal orang-orang yang meraih kesuksesan, setelah menyebutkan mereka yang merendahkan diri dalam shalat mereka, Dia menyebutkan juga orang-orang yang berusaha mencegah perbuatan-perbuatan yang laghaw. Allah Ta’ala berfirman,
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ * الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ * وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
Kesuksesan pasti datang kepada orang-orang beriman, yang khusyu’ dalam shalat mereka dan yang menghindarkan dari dari hal yang sia-sia…”(23: 2-4)
Dari ayat yang saya tilawatkan, jelaslah bahwa sarana kedua yang telah Allah Ta’ala sebutkan adalah menghindari hal-hal yang laghaw (sia-sia). Setiap Ahmadi harus memberikan perhatian yang khusus kepada hal ini, baik selama berlangsungnya Jalsah dan juga setelah berakhirnya Jalsah ini. Ketika menjelaskan berkenaan dengan al-laghw, Hadhrat Khalifatul Masih I ra. bersabda bahwa semua hal ini dapat dikategorikan termasuk ke dalam perbuatan yang laghw, yaitu segala bentuk kebohongan, dosa, bermain kartu, judi, gosip, mencari-cari kesalahan orang, semua itu termasuk ke dalam perbuatan yang laghw. Beliau memberi contoh permainan kartu dan judi; yang mengingatkan saya kepada sebuah gambar yang dikirim di Whatsapp, dimana lingkungan ruhani dan tempat-tempat yang suci tidak memiliki pengaruh apapun bagi sebagian orang. [sumber1]Laghaw dalam kaitan ibadah Haji, Hadhrat Khalifatul Masih V atba menjelaskan mengenai kata rofatsa dan laghaw:
"Pertama adalah kata rafatsa, yang diterjemahkan sebagai percakapan yang buruk/tidak senonoh. Maksud dari Rafatsa adalah pembicaraan yang laghaw (sia-sia, bertele-tele, perkataan kotor, membicarakan seseorang, cerita-cerita kotor, duduk bercengkrama yang membuang-buang waktu). Semuanya termasuk dalam kategori ini. Oleh karena itu, di sini, dengan penuh kejernihan, semua pembicaraan yang sia-sia dan tidak berguna (laghaw) seperti itu telah dilarang." [sumber1]Hadhrat Khalifatul Masih V atba juga menjelaskan hal yang laghaw ketika acara Jalsah Salanah:
Jika di dalamnya, kita tidak dapat mencegah diri kita dari pembicaraan-pembicaraan yang laghaw, caci makian, kata-kata kotor, dan obrolan-obrolan serta cerita yang siasia, maka kita tidak akan dapat meraih tujuan dari Jalsah itu. Kita harus menghindari semua hal itu. Jika kita bisa terhindar dari pembicaraan yang sia-sia dan dari juga obrolan-obrolan yang sia-sia, maka suasana yang penuh dengan ketenangan, kedamaian dan juga ketakwaan, akan tercipta dan dengan begitu, maka tujuan dari Jalsah pun akan dapat diraih. [sumber1]Hadhrat Masih Mau'ud a.s. dalam menerangkan QS Al-Ahzab 33:71-72 beliau bersabda,
"Qaulan-sadiidan (perkataan yang benar) mengharuskan mengucapkan apa yang seluruhnya benar dan tepat, dan tidak ada unsur laghaw, tidak berguna dan kedustaan." 'Hai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah Ta’ala dan katakan apa yang didasarkan pada kebenaran, kejujuran, keadilan dan kebijaksanaan. ' "Jangan bicara hal laghaw, dan berbicaralah pada waktu dan tempat yang tepat. (1 Tafsir Al Qur'an, Vol. III, hlm 731-732) [sumber2]Hadhrat Masih Mau’ud bersabda kaitan antara ketakwaan dan laghaw:
“Agar dapat menjadi orang-orang yang bertakwa, adalah penting dengan tegas dan kukuh berhenti dan meninggalkan dosa-dosa utama seperti perbuatan zina, pencurian, merampas hak-hak orang lain, kemunafikan, keegoisan, penghinaan terhadap orang dan kekikiran. Pada akhirnya ia harus menghindari dan menjauhi akhlak-akhlak yang rendah. Selanjutnya, ia harus berkembang dalam penciptaan nilai-nilai moral yang mulia. (Artinya, ia harus menghindari laghaw, akhlak tercela, perbuatan mungkar, dan tidak hanya menciptakan pada dirinya akhlak luhur dan mulia saja lalu berhenti melainkan juga maju dan berkembang dalam hal itu) “Orang tersebut harus memperlakukan orang lain dengan akhlak yang baik, kesantunan dan simpati”, (merupakan tuntutan akhlak dan ketakwaan, ia harus dengan wajah menyenangkan, kecintaan, adab kesopanan dan akhlak yang baik sama rata tanpa memandang apakah mereka itu orang Islam ataukah bukan), “..dan menunjukkan kesetiaan dan keikhlasan kepada Allah Sang Maha Agung dan meraih maqaam Mahmud (kedudukan terpuji) untuk mengkhidmati orang lain.” (artinya ia melakukan perbuatanperbuatan tersebut demi meraih ridha Ilahi) “…Manusia disebut sebagai orang benar dan bertakwa dengan mengikuti hal ini.” Seseorang disebut bertakwa bila memiliki segala sifat ini. Mereka yang mengumpulkan semua sifat ini di dalam dirinya itu merekalah yang bertakwa secara hakiki. (Malfuzhat, jilid 4, h. 400, edisi 1985, UK) [sumber3]Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda bahwa kemunduran akhlak dan ruhani dimulai dari hal-hal yang laghaw,
Kemunduran kaum-kaum terdahulu senantiasa dimulai pada saat mereka mengedepankan tolok ukur (sistem nilai) yang dibuat oleh mereka sendiri, mereka terjebak dalam hawa nafsu dan melupakan maksud dan tujuan utama mereka. Quran karim telah menceritakan kisah-kisah nabi-nabi terdahulu dan mengisyaratkan kepada kita bahwa ketika kaum-kaum terdahulu melupakan ajaran-ajaran mereka dan mulai berpaling dari tujuan mereka, maka mereka mengalami kehancuran. Di kalangan mereka timbul kerusakan yang sedemikian parahnya sehingga timbul bid’ah-bid’ah dan perbuatan-perbuatan laghaw (sia-sia) di dalam ajaran mereka yang merupakan suatu bentuk kehancuran ruhani dan akhlak. [sumber4]Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda tentang pentingnya meninggalkan perbuatan laghaw
"Penyakit tenggelam atau hanyut dalam hal-hal sia-sia, gerakan-gerakan atau langkah yang sia-sia dan perbuatan yang sia-sia dewasa ini sedikit banyak lebih merebak; karena inilah penyakit yang menjadi penghalang dalam ketakwaan. Dan seperti itu, secara tidak disadari serangannya sedang terjadi sehingga setelah berada dalam cengkraman penyakit inipun tidak terasa bagi manusia bahwa dia sedang mengidap (menderita) penyakit apa; oleh sebab segenap masyarakat di setiap tempat di setiap daerah dan di setiap negara terperangkap dalam penyakit itu, maka karena itulah setelah seorang terserang penyakit inipun tidak menyadari bahwa kami/mereka tengah menderita penyakit ini." [sumber5]Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda agar kita meninggalkan hobi yang laghaw:
“Orang mukmin seperti itu memang sedikit ada kecenderungan kepada Tuhan, tetapi kekejian/kekotoran hal-hal yang sia-sia, kekotoran-kekotoraan perbuatan-perbuatan sia-sia dan kekotoran-kekotoran hobi-hobi yang laghaw (sia-sia) tetap melekat dan masih tetap dia cintai. Ya, terkadang kondisi khusyuk dalam shalat pun zahir dari diri mereka, tetapi dari sisi lain langkah-langkah yang sia-sia pun senantisa tak dapat dilepaskannya dan hubungan-hubungan yang sia-sia dan pertemuan-pertemuan yang sia-sia dankebiasaan mentertawakan dan penghinaan yang sia-sia senantisa menjadi kalung di lehernya seolah-olah dia memiliki dua warna (dua penampilan), terkadang begini dan terkadang begitu”. (Lampiran Barahin Ahmadiyah jilid 5; Ruhani Khazain jilid 21:230-235.) [sumber5]
Contoh perbuatan Sia-Sia
Salah satu contoh perbuatan laghaw yang mengakibatkan menjadi perbuatan Bid'ah. Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda,
Sekarang saya hendak menyampaikan berbagai hal. Saya hendak menjelaskan mengenai sebuah pertanyaan dari seorang anak dalam acara Daras Athfal tentang meletakan bunga di kuburan. Anak itu menanyakan, “Apakah itu perlu atau tidak? Boleh atau tidak?” Saya (Hadhrat Khalifatul Masih V) katakan hal itu sebagai perbuatan yang sia-sia dan tidak masuk akal, sebuah bid’ah yang tidak ada dasarnya dalam agama Islam dan harus dihindari. Hendaknya kita menghindar dari perbuatan itu, sama sekali tidak ada faedahnya. Dulu di Qadian beberapa orang melakukan hal ini pada makam Hadhrat Masih Mau’ud as, sebelumnya mereka telah kerjakan dan setelah itu juga kerjakan sehingga akhirnya sekarang makam tersebut dipagar. Tempat pemakaman itu dipagar supaya tidak menyebarkan bid’ah.
Pernah terjadi peristiwa yang ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengetahuinya beliau bersabda, “Beberapa orang mengambil tanah dari makam Hadhrat Masih Mau’ud as sebagai tabarruk (mencari berkat) dan beberapa orang menaburkan bunga di atas makam Hadhrat Masih Mau’ud as. Ini adalah perbuatan sia-sia dan sedikit pun tidak memberikan faedah. Juga menyia-nyiakan keimanannya. Apa faedahnya menabur bunga diatas makam orang yang sudah wafat? Ruh-ruh orang yang telah wafat tidak terdapat di pekuburan tempat jasad mereka dikubur melainkan di tempat lain. Memang tidak diragukan lagi kalau ruh-ruh orang yang meninggal memiliki sesuatu pertalian dengan tempat kubur lahiriahnya dan pasti ada pertaliannya. (hendaknya difahami akan masalah ini) yaitu ruh-ruh orang yang telah wafat dimanapun mereka berada, Allah menciptakan suatu jenis hubungan antara kuburan lahiriah dengan ruh-ruh orang yang sudah wafat." [sumber6]Hadhrat Khalifatul-Masih awal r.a bersabda,
"Di dalam kata laghwun - al-lagwu semua yang batil, semua perbuatan maksiat termasuk dalam kategori laghwun adalah main kartu, permainan kartu, choser (satu bentuk permainan kartu) semuanya terlarang. Mengobrol ke sana sini dan melontarkan kritikan dll.” (Haqaaiqul-Furqaan jilid 3:171.) [sumber5]Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda,
Yakni, segenap macam kebohongan, [perbuatan] salah dan hal-hal yang menyangkut dosa, bermain kartu dan permainan-permainan lain semacam itu. Dewasa ini di toko-toko terdapat mesinmesin permainan untuk membiasakan anak-anak untuk bermain judi, sesudah memasukkan uang ada sejumlah permainan-permainan nomer, yakni "Pertemukanlah ini, sekian uang yang kalian masukkan maka sekian uang yang akan keluar (kalian akan dapatkan), karena itu dengan menang seperti itu akan diperoleh uang sekian", semua ini adalah hal-hal yang laghaw -- sia-sia. Demikian pula duduk lalu membuat majlis-majlis, mengobrol atau ngerumpi, kemudian duduk di tempat orang lain lalu mengungkapkan keberatan dll., ini semua merupakan hal-hal termasuk dalam katagori laghwiyaat (perbuatan-perbuatan sia-sia). [sumber5]Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda bahwa kebohongan termasuk laghaw. Dan hal ini fatal akibatnya,
Jadi lihatlah, bahwa dusta merupakan sikap laghaw (sia-sia), yang manakala itu telah menjadi adat kebiasaan maka orang yang seperti itu pada pandangan Allah terhitung sebagai orang yang sangat pembohong. Dan seorang pembohong kemudian tidak akan pernah mendapat petunjuk. Dia merupakan orang yang jauh dari petunjuk dan kemudian tempat kembalinya adalah neraka. [sumber5]Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda bahwa salah satu bentuk dari laghaw adalah merokok,
Kemudian, dari hal-hal yang laghaw (sia-sia) satu diantaranya adalah merokok dll. juga, sebagaimana sebelumnya saya telah sebutkan dengan singkat sebelumnya. Merokok di kalangan remaja menjadi kebiasaan dan kemudian sepanjang umur kebiasaan ini tidak akan dapat ditinggalkan oleh si perokok tsb., kecuali mereka yang tekadnya sangat teguh dan kemudian akibat kebiasaan merokok sejumlah orang menjadi ketagihan dengan barang-barang memabukkan lainnya. [sumber5]Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda mengenai rokok ini:
“Pada dasarnya tembakau merupakan sebuah asap yang berbahaya bagi organ tubuh yang ada di dalam. Islam melarang dari barang-barang yang sia-sia. Dan di dalamnya hanya kerugian yang didapat. Oleh karena itu menghindarinya merupakan hal yang baik.” Malfuzhat jilid 3: 110 Edisi baru. [sumber5]Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda bahwa salah satu bentuk lain dari laghaw adalah berjudi,
Kemudian judi dll., inipun juga termasuk dalam katagori laghaw (sia-sia). Inipun karena itulah terjadi . Orang-orang yang kecanduan minum minuman keras biasanya merekapun kecanduan juga bermain judi. Siapapun orang yang biasa mabuk menjadi terbiasa dengan judi supaya sebanyak-banyaknya mereka mendapatkan uang. [sumber5]
Solusi
Hadhrat Khalifatul Masih V atba bersabda,
Setiap orang tetaplah senantiasa mengintrospeksi diri bahwa apakah tidak didapatkan di dalamnya hal-hal yang sia-sia. Sebab semua keburukan adalah laghaw (sia-sia) atau setiap gerakan yang sia-sia atau setiap perkara sia-sia adalah dosa, itu seyogianya harus terus berupaya untuk menjauhkannya. [sumber5]
Semoga kita diberi taufik untuk bisa terhindar dari hal-hal yang bersifat laghaw atau sia-sia.
Sumber:
- Khotbah Jum'at Hadhrat Khalifatul Masih V atba tanggal 02-Sep-2016
- Khotbah Jum'at Hadhrat Khalifatul Masih V atba tanggal 21-Jun-2013
- Khotbah Jum'at Hadhrat Khalifatul Masih V atba tanggal 13-Mei-2016
- Khotbah Jum'at Hadhrat Khalifatul Masih V atba tanggal 04-Peb-2011
- Khotbah Jum'at Hadhrat Khalifatul Masih V atba tanggal 20-Ags-2004
- Khotbah Jum'at Hadhrat Khalifatul Masih V atba tanggal 08-Mei-2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar