Senin, 26 Desember 2016

Sejarah Rasulullah saw Bagian 28

Perang Khandak


Suatu angkatan perang besar telah dibentuk di tahun kelima Hijrah. Kekuatan angkatan perang itu oleh ahli-ahli sejarah telah ditaksir antara sepuluh dan dua puluh empat ribu prajurit. Tetapi suatu laskar gabungan dari berbagai suku Arabia tidak mungkin hanya sepuluh ribu. Dua puluh ribu agaknya lebih mendekati kebenaran. Mungkin sekali delapan belas atau dua puluh ribu. Kota Medinah yang akan digempur oleh pasukan gabungan itu adalah kota sederhana dan sama sekali tak sanggup membalas serangan gabungan dari seluruh Arabia itu.  Penduduknya, pada zaman itu sedikit lebih dari tiga ribu orang pria (termasuk orang-orang tua, pemuda dan anak-anak). Menghadapi penduduk yang sekian itu, musuh telah membentuk suatu angkatan perang yang terdiri atas dua puluh empat ribu prajurit berbadan tegap-tegap dan berpengalaman dalam peperangan; dan (digabungkan dari berbagai-bagai bagian negeri) merupakan laskar dengan anak-anak buah terpilih baik. Sebaliknya, keadaan penduduk Medinah – yang dapat dikerahkan untuk melawan angkatan perang yang sangat besar itu, meliputi kaum pria dari berbagai usia. Dapat kita bayangkan bahaya yang harus dihadapi kaum Muslim Medinah. Pertempuran itu memang suatu pertarungan yang sangat tidak seimbang. Musuh mempunyai kekuatan dua puluh empat ribu dan kaum Muslim hanya kira-kira tiga ribu orang meliputi seperti telah kami katakan, semua kaum pria kota, tua muda. Ketika Rasulullah saw. mendapat kabar tentang kehebatan persiapan-persiapan musuh, beliau mengadakan musyawarah dan mendengarkan usul-usul. Di antara mereka yang diminta nasihat ialah Salman-al-Farisi (Salman dari Persia), sebagai seorang orang Muslim pertama dari Persia. Rasulullah saw. menanyakan kepada Salman, apa yang dilakukan di Persia jika mereka tepaksa mempertahankan kota terhadap laskar yang besar. “Jika sebuah kota tidak berbenteng dan kekuatan pertahanan sangat kecil,” demikian kata Salman, “kebiasaan di negeri kami ialah menggali parit di seputar kota dan mempertahankannya dari dalam.” Rasulullah saw. menyetujui gagasan itu. Medinah berbukit-bukit pada satu sisi. Ini memberi perlindungan alami di tepi itu. Sisi lain dengan pemusatan jaringan jalan-jalan mempunyai penduduk yang padat. Bagian kota itu tidak dapat diserang tanpa diketahui. Tepi ketiga mempunyai rumah-rumah dan kebun-kebun palma dan tak jauh dari situ benteng suku Yahudi, kaum Banu Quraiza. Banu Quraiza telah menandatangani suatu perjanjian damai dengan kaum Muslimin. Jadi, sisi ini juga dapat dipandang aman dari serangan musuh. Tepi keempat merupakan medan terbuka dan dari tepi itulah serangan musuh paling memungkinkan dan dikhawatirkan. Maka Rasulullah saw. mengambil keputusan untuk menggali parit di bagian tepi yang terbuka itu untuk mencegah serangan musuh yang tanpa diketahui. Tugas itu dibagikan kepada orang-orng Muslim; sepuluh orang harus menggali sepuluh yard parit. Seluruhnya harus digali yang panjang seluruhnya satu mil dan harus cukup lebar lagi dalam.

Ketika penggalian sedang berlangsung, mereka tertumbuk kepada sebongkah batu padas yang sangat sulit ditanggulangi. Hal itu segera dilaporkan kepada Rasulullah saw. yang segera menuju ke situ. Diambil oleh beliau beliung dan batu padas itu pun dipukul keras-keras. Bunga api memancar dan Rasulullah saw. berseru keras , “Allahu Akbar!” Beliau memukul kedua kalinya. Bunga api memancar lagi dan beliau berseru lagi, “Allahu Akbar!” Beliau memukul ketiga kalinya. Bunga api memancar pula dan Rasulullah saw. berseru lagi “Allahu Akbar!” dan batu padas itu pun pecahlah berkeping-keping. Para sahabat menanyakan ihwal itu. Mengapa beliau menyerukan “Allahu Akbar!” berkali-kali.

“Aku pukul batu padas itu tiga kali dengan beliung ini, dan tiga kali aku melihat pemandangan kebesaran Islam di kemudian hari. Dalam pancaran bunga api pertama kulihat istana-istana Siria dari Kerajaan Roma. Kulihat kunci-kunci istana-istana itu diserahkan kepadaku. Kedua kalinya kulihat istana-istana Persia bersinar terang di Mada’in dan kunci-kunci Kerajaan Persia diserahkan kepadaku. Ketiga kalinya kulihat pintu gerbang San’a dan kepadaku diserahkan kunci-kunci Kerajaan Yaman. Semua itu adalah janji Ilahi dan aku yakin bahwa kamu menaruh kepercayaan akan kabar-kabar gaib itu. Musuh tidak akan memudaratkan kamu” (Zurqani, jilid 2 dan Bari, Jilid 7).

Dengan tenaga manusia yang terbatas itu, parit yang dapat digali oleh orang-orang Muslim itu tak mungkin parit yang sempurna, dilihat dari sudut siasat perang; tetapi, sedikitnya dapat memberi jaminan terhadap serbuan musuh ke kota dengan tiba-tiba. Bahwa parit itu tidak tak terseberangi, peristiwa-peristiwa berikutnya dalam peperangan itu nyata membuktikan. Tidak ada tepi lain memberi kesempatan kepada musuh untuk menyerang kota. Maka dari sebelah parit itu laskar suku-suku Arab mulai mendekati Medinah. Segera setelah hal itu diketahui Rasulullah saw., beliau tampil ke muka untuk mempertahankannya dengan seribu dua ratus orang setelah menempatkan orang-orang yang lain pada tempat pertahanan bagian lain kota itu.

Para ahli sejarah berbeda dalam memperkirakan jumlah pertahanan parit itu. Ada yang mengirakan tiga ribu, yang lain seribu dua ratus sampai seribu tiga ratus dan yang lain lagi tujuh ratus. Perkiraan-perkiraan itu sangat sukar, dan lagi memang sangat sukar pula untuk dirujukkan. Tetapi, setelah dipertimbangkan bukti-buktinya, kami sampai kepada kesimpulan bahwa ketiga-tiga perkiraan jumlah orang-orang Muslim yang mempertahankan parit itu tepat semuanya. Perkiraan itu bertalian dengan tahap-tahap pertempuran yang berlainan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar