Seseorang telah bertanya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as tentang perayaan kelahiran Nabi Muhammad saw (maulid Nabi saw atau miladun Nabi saw), beliau memberikan jawaban:
“Mengenang dan membicarakan tentang wujud Hadhrat Rasulullah saw adalah pekerjaan yang sangat baik. Bahkan menurut riwayat hadits, mereka yang mengenang dan membicarakan tentang para Nabi atau para wali Allah [maka] rahmat Allah turun kepada mereka, dan bahkan Allah Swt Sendiri menganjurkan untuk mengenang dan menyebut-nyebut para Nabi-Nya. Akan tetapi, jika membicarakan Nabi itu disertai bid’ah-bid’ah yang menyelubungi Tauhid Ilahi, maka tidak diperbolehkan. Tempatkanlah keagungan Tuhan bersama Tuhan dan keagungan Nabi bersama Nabi. Para Maulwi (ulama) zaman sekarang lebih banyak menggunakan kata-kata berbau bid’ah dan bid’ah-bid’ah itu bertentangan dengan kehendak Allah swt.
Jika memperingatinya tidak disertai dengan bid’ah namun hanya dengan nasihat atau ceramah, jika di dalam acara itu diterangkan mengenai pengutusan Rasulullah saw, mengenai kelahiran beliau atau mengenai wafat beliau saw maka hal itu akan mendapat ganjaran dari Allah Swt Kita tidak merasa perlu untuk menyusun sebuah peraturan atau sebuah kitab tentang itu.”(Malfuzhat, jilid III, h. 159-160, edisi baru.)
beliau juga bersabda:
“Semata-mata memperingati kehidupan suci Rasulullah saw adalah perbuatan yang sangat baik. Dengan amalan itu kecintaan terhadap beliau tambah meningkat. Dengan demikian juga timbul satu daya tarik dan semangat untuk menaati perintah-perintah beliau saw.”
“Di dalam Kitab Suci Al-Qur’an terdapat banyak perintah untuk mengingat riwayat para Nabi, misalnya, Allah berfirman:
وَاذْكُرْ فِي اْلكِتَابِ اِبْرَاهِيْمَ
Wadzkur fil-kitâbi Ibrôhîm’ – ‘Dan ingatlah di dalam kitab tentang Ibrahim.’ "(Al-Hakam, jilid 7, no. 11, h. 5, 24 Maret 1903, Malfuzhat jilid III, h. 159, edisi baru.)
Hadhrat Khalifatul Masih V atba beliau bersabda:
Pendeknya, mengadakan peringatan berupa pertemuan pada hari maulud (kelahiran) Nabi Muhammad saw, tidak dilarang, dengan syarat di dalamnya tidak boleh dilakukan suatu perbuatan bid’ah. Di dalam perayaan itu semata-mata diceritakan berbagai aspek dari Sirah atau riwayat hidup Hadhrat Rasulullah saw, tidak hanya setahun sekali menguraikan Sirah atau riwayat hidup beliau saw itu bahkan sepanjang tahun kita boleh bahkan harus mengadakan jalsah Siratun Nabi. Dan seperti itulah yang dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah.
Jemaat Ahmadiyah di seluruh dunia selalu mengadakan jalsah (pertemuan) Siratun Nabi pada setiap kesempatan, tidak terikat oleh waktu yang tertentu. Akan tetapi jika secara khusus mengadakan jalsah Siratun Nabi pada waktu yang ditetapkan, lalu mengadakan jalsah atau pertemuan untuk menguraikan kisah atau riwayat Hadhrat Rasulullah saw mengenai akhlaq fadillah beliau dan sebagainya, jika diadakan di seluruh negara atau di seluruh dunia tidak dilarang. Akan tetapi di dalamnya tidak boleh ada perbuatan bid’ah.Khotbah Jum'at Tanggal 13-Maret-2009 di Masjid Baitul Futuh, London, UK.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar