Kemenangan Berubah Jadi Kekalahan
Dengan alasan itu mereka meninggalkan celah itu dan ikut galau dalam kancah pertempuran. Dalam laskar Mekkah yang sedang melarikan diri termasuk Khalid bin Walid yang kemudian menjadi panglima Muslim besar. Matanya yang jeli jatuh pada celah sempit yang tak terjaga lagi itu. Yang masih menjaganya hanya tinggal sedikit. Khalid berseru memanggil panglima Mekkah lain. Ialah Amr bin al-As, dan menyuruhnya melempar pandangan ke celah di belakangnya. Amr menengok ke belakang dan tahulah dia bahwa itulah kesempatan yang paling indah. Kedua panglima itu menghentikan pasukan mereka dan mendaki bukit. Mereka membunuh orang-orang Muslim yang tinggal sedikit menjaga celah itu, dan dari tempat yang tinggi itu mereka mulai menyerbu kaum Muslim. Mendengar pekikan perang mereka, laskar Mekkah yang telah cerai berai itu bergabung lagi dan kembali ke medan pertempuran. Serbuan kepada kaum Muslim itu sangat mendadak. Dalam pengejaran laskar Mekkah mereka itu terpencar-pencar keberbagai arah medan. Perlawanan Muslimin terhadap serangan baru itu tidak dapat disatukan lagi. Hanya prajurit-prajurit Muslim secara perorangan masih nampak mengadakan perlawanan terhadap musuh. Banyak di antara mereka gugur. Lain-lainnya terdesak mundur. Sekelompok kecil membuat formasi lingkaran disekeliling Rasulullah saw. Seluruhnya tak lebih dari dua puluh orang.
Laskar Mekkah menggempur lingkaran itu dengan ganasnya. Satu demi satu orang-orang Muslim dalam lingkaran itu rebah karena tebasan-tebasan prajurit-prajurit berpedang Mekkah. Dari bukit itu pemanah-pemanah melepaskan panah-panah. Pada saat itu Talha, seorang Muhajir, melihat musuh melepas anak panahnya kearah wajah Rasulullah saw. Ia merentangkan tangannya dan diangkatnya ke atas, melindungi wajah Rasulullah saw. Panah-panah, sebuah demi sebuah mengenai tangan Talha, tetapi tangan itu tidak diturunkan sungguh pun tiap panah menembus tangannya. Akibatnya, tangan itu sama sekali terkudung(terpotong-potong). Talha kehilangan tangan dan seumur hidupnya ia menjadi orang buntung, Di Zaman Khalifah Keempat, ketika keretakan di dalam tubuh Islam mulai tampak, Talha diejek oleh seorang musuh dengan menyebutnya Talha Si Buntung. Sahabat Talha menjawab, “Buntung, memang, tetapi tahukah kamu di mana ia kehilangan tangannya? Di dalam perang Uhud, saat ia mengangkat tangannya memerisai wajah Rasulullah saw. dari panah-panah musuh.”
Lama sesudah Perang Uhud, sahabat-sahabat Talha bertanya kepadanya, “Apakah tanganmu tidak sakit saat jadi sasaran panah-panah itu dan sakitnya tidak menyebabkan engkau memekik?” Talha menjawab, “Sangat pedih dan hampir membuat aku menjerit, tetapi aku tahan, sebab aku tahu bahwa apabila tanganku bergerak sedikit, wajah Rasulullah saw. akan menjadi bulan-bulanan panah musuh.” Regu kecil yang tinggal di sekitar Rasulullah saw. itu tak mungkin dapat menahan laskar yang mereka hadapi. Sepasukan musuh maju dan mendesak mereka mundur. Rasulullah saw. berdiri seorang diri laksana dinding dan tiba-tiba sebuah batu mengenai dahi beliau dan meninggalkan lekuk yang dalam. Hantaman yang kedua mendorong gelang-gelang rantai topi baja masuk ke dalam pipi beliau. Ketika panah-panah menghujan dengan gencarnya dan Rasulullah saw. terluka, beliau berdoa, “Ya Tuhan, ampunilah kaumku, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”(Muslim). Rasulullah saw. jatuh di atas jenazah-jenazah para syuhada yang gugur dalam membela beliau. Orang-orang Muslim lainnya maju ke muka melindungi Rasulullah saw. dari serangan-serangan selanjutnya. Mereka pun gugur, Rasulullah saw. terbaring tak sadarkan diri di antara mayat-mayat itu. Ketika musuh menyaksikan pemandangan itu mereka menyangka beliau pun telah syahid. Mereka mengundurkan diri dengan keyakinan bahwa kemenangan telah tercapai dan mulai mengatur lagi barisan. Di antara orang-orang Muslim yang melindungi Rasulullah saw. dan yang telah terdesak mundur oleh gempuran kekuatan musuh terdapat juga Umar. Medan perang sekarang telah sepi. Umar, yang mengamati keadaan, menjadi yakin bahwa Rasulullah saw. telah gugur. Umar adalah orang gagah. Hal itu berkali-kali dibuktikan, yang paling jelas kegagahan itu tampak dalam perang menghadapi Roma dan Iran sekaligus. Beliau tak pernah nampak putus asa di bawah beban kesukaran dan kesulitan. Umar pada saat itu duduk di atas sebuah batu dengan semangatnya lumpuh, menangis seperti anak kecil. Pada saat itu seorang Muslim lain Anas bin Nadr namanya, datang secara santai dengan persangkaan bahwa kaum Muslim telah berjaya. Ia menyaksikan mereka mampu mengatasi kekuatan musuh, tetapi merasa lapar, karena tak makan apa-apa sejak malam sebelumnya, ia telah meninggalkan medan laga dengan beberapa butir kurma di tangannya. Segera setelah ia melihat Umar menangis, ia bertanya keheran-heranan. “Umar, apa gerangan yang terjadi atas dirimu sampai kamu menangis dan bukan gembira atas kemenangan yang gilang-gemilang di pihak kaum Muslim?”
Umar menjawab, “Anas, kau tak tahu apa yang telah terjadi. Kamu hanya melihat bagian pertama. Kamu tidak mengetahui bahwa musuh menduduki titik strategis di atas bukit dan menyerang kita dengan dahsyatnya. Kaum Muslimin bubar dengan persangkaan telah mencapai kemenangan. Gempuran musuh kali ini tak dapat ditahan lagi. Hanya Rasulullah, dengan beberapa gelintir pengawal, menghadapi seluruh kekuatan musuh dan semuanya telah rebah.”
“Jika hal itu benar,” jawab Anas, “apa guna duduk menangis di sini? Ke mana saja junjungan kita yang tercinta pergi, ke sana pula kita harus menuju.”
Anas masih memegang kurmanya yang terakhir dan hampir dimasukkan ke mulut, tetapi daripada memasukkannya ke mulut, dilemparkannya kurma itu jauh-jauh sambil berkata, “Hai kurma, kecuali kau, adakah sesuatu yang menghalangi Anas dari surga?”
Setelah berkata demikian, dihunuslah pedangnya dan menyerbu ke tengah-tengah barisan musuh seorang diri, seorang melawan tiga ribu. Tak banyak yang dapat diperbuat, tetapi semangat seorang yang beriman itu lebih unggul dari banyak orang. Mengamuk bagaikan benteng ketaton, Anas akhirnya rebah dengan luka-luka, tetapi ia melawan terus. Karena gemasnya pasukan musuh menyerbu dan menerkamnya dengan ganas lagi keji. Diriwayatkan bahwa tatkala pertempuran telah usai dan mereka yang gugur diperiksa siapa-siapanya, badan Anas tak dapat dikenal lagi, karena telah terputus-putus menjadi tujuh puluh potong. Akhirnya dapat dikenal oleh adik perempuan Anas dari jarinya yang terkutung; berkatalah dia, “inilah badan saudaraku!”(Bukhari).
Orang-orang Muslim yang membuat formasi lingkaran disekitar Rasulullah saw. tetapi terdesak mundur, maju lagi dengan segera ketika mereka melihat musuh telah mengundurkan diri. Mereka mengangkat tubuh Rasulullah saw. dari antara jenazah-jenazah pahlawan yang gugur. Abu Ubaida bin al-Jarrah menggigit gelang-gelang yang masuk menusuk pipi Rasulullah saw. dan mencabutnya. Dalam usaha itu dua buah giginya tanggal.
Selang beberapa detik kemudian Rasulullah saw. siuman kembali. Pengawal-pengawal di sekitar beliau mengutus orang-orang untuk menyuruh kaum Muslim berkumpul lagi. Laskar yang kucar-kacir itu mulai berkumpul lagi. Mereka mengawal Rasulullah saw. ke kaki bukit. Abu Sufyan, komandan musuh, ketika melihat sisa pasukan Muslim itu berteriak. ”Kami telah membunuh Muhammad.” Rasulullah saw. mendengar pekikan yang sombong itu, tetapi melarang kaum Muslimin menyahut, kalau-kalau musuh akan mengetahui kenyataan dan menyerang lagi sehingga kaum Muslimin yang letih dan luka-luka itu terpaksa berjuang lagi melawan pasukan yang buas itu. Karena tak mendapat sambutan dari kaum Muslimin, Abu Sufyan menjadi yakin bahwa Rasulullah saw. telah gugur. Ia berteriak lagi, “Kami telah membunuh Abu Bakar.” Rasulullah saw. melarang Abu Bakar menyahut. Abu Sufyan berseru untuk ketiga kalinya. “Kami juga telah membunuh Umar.” Rasulullah saw. melarang Umar menyahut. Maka Abu Sufyan berteriak lagi bahwa mereka telah membunuh ketiga-tiganya. Sekarang Umar tak dapat menahan diri lagi dan berseru.”Kami semua masih hidup dan dengan karunia Ilahi siap sedia untuk berkelahi dengan kamu dan memecahkan kepalamu.” Abu Sufyan memekikkan semboyan kebangsaan, “Hidup Hubal, Hidup Hubal. Sebab, Hubal telah melenyapkan Islam.” (Hubal adalah berhala nasional kaum Mekkah). Rasulullah saw. tak dapat menelan kecongkakan terhadap Tuhan Yang Mahaesa, Allah, demi Dia beliau dan kaum Muslimin bersedia mengorbankan segala-gala yang mereka miliki. Beliau melarang membetulkan pernyataan wafat beliau sendiri. Beliau melarang membetulkan pernyataan kematian Abu Bakar dan Umar, demi siasat. Hanya sisa-sisa laskar kecil yang masih tinggal. Kekuatan musuh besar dan dalam suasana bersuka cita. Tetapi sekarang musuh telah menghina Allah. Rasulullah saw. tak dapat membiarkan penghinaan semacam itu. Semangat beliau tersulut. Beliau memandang dengan berang kepada orang-orang Muslim di sekitar beliau dan bersabda, “Mengapa berdiam diri dan tidak menjawab terhadap penghinaan kepada Allah, Tuhan Yang Mahaesa?”
Orang-orang Muslim bertanya, “Apa yang harus kami katakan, ya Rasulullah?”
“Katakan, hanya Allah Mahabesar dan Mahaperkasa. Hanya Allah Mahabesar dan Mahaperkasa. Hanya Dia Mahaluhur dan Mahamulia.”
Orang-orang Muslim berteriak seperti itu. Pekikan itu mencengangkan musuh. Mereka patah hati ketika mereka mengetahui bahwa Rasulullah ternyata tidak gugur. Di hadapan mereka ada beberapa gelintir orang Muslim, luka-luka dan letih. Untuk menghancurkan mereka sangatlah mudah. Tetapi mereka tidak berani menyerang lagi. Puas dengan kemenangan yang telah mereka peroleh, mereka pulang sambil meluapkan kegembiraan mereka.
Dalam perang Uhud kemenangan kaum Muslimin telah berubah menjadi kekalahan. Walaupun demikian, perang itu telah memberi bukti akan kebenaran Rasulullah saw., sebab, dalam perang itu telah menjadi sempurnalah kabar gaib Rasulullah saw. yang diceritakan beliau sebelum bertolak ke medan perang. Kaum Muslimin menang di bagian pertama. Paman Rasulullah yang tercinta, Hamzah, syahid. Panglima musuh terbunuh pada permulaan sekali pertempuran. Rasulullah saw. sendiri terluka dan banyak orang Muslim gugur. Kesemuanya itu telah dikabargaibkan didalam kasyaf Rasulullah saw.
Di samping peristiwa-peristiwa yang dikabarkan sebelumnya telah menjadi kenyataan, perang itu memberikan banyak bukti keikhlasan dan pengabdian orang-orang Muslim. Begitu menonjol teladan perilaku mereka sehingga sejarah tidak berhasil mengemukakan contoh yang sepadan dengan itu. Beberapa peristiwa sebagai bukti sudah kami uraikan. Satu lagi tampaknya layak diceritakan. Peristiwa itu memperlihatkan keyakinan, tekad dan kesetiaan yang diperagakan oleh para sahabat Rasulullah saw. Waktu Rasulullah saw. mengundurkan diri ke kaki bukit bersama segelintir orang-orang Muslim itu, beliau mengutus beberapa sahabat guna mengurusi prajurit-prajurit yang luka dan terbaring di medan perang. Seorang sahabat menemukan, sesudah lama mencari, seorang Ansar yang luka parah. Ia sudah mendekati ajalnya. Sahabat itu membungkuk dan mengatakan, “Assalamualaikum.” Prajurit yang luka parah itu mengangkat tangan yang gemetar dan sambil memegangi tangan pengunjungnya ia berkata, “Aku memang sedang menunggu kedatangan sesorang.”
Keadaan saudara sangat gawat.” Kata pengunjung itu. “Adakah pesan untuk disampaikan kepada sanak-saudaramu?”
“Ya, ya,” kata orang yang sedang mendekati ajal itu. “Salamku sampaikan kepada sanak-saudaraku dan katakan kepada mereka bahwa pada saat aku menghadapi maut, aku masih mempunyai suatu titipan berharga yang harus mereka junjung tinggi. Titipan itu adalah Rasulullah. Aku mengharapkan agar mereka menjaga keselamatan wujud beliau dengan jiwa mereka dan ingat bahwa itulah satu-satunya pesanku yang penghabisan”(Mu’atta dan Zurqani).
Orang-orang yang menghadapi maut banyak yang ingin dikatakan oleh mereka kepada sanak-saudara mereka, tetapi orang-orang Muslim dari masa permulaan itu, sekalipun pada detik-detik kematian mereka tidak memikirkan keluarga, anak-anak, dan istri mereka, tidak pula kekayaan, mereka hanya ingat kepada Rasulullah saw. Mereka menghadapi maut dengan keyakinan bahwa Rasulullah saw. itu Juru-selamat dunia. Anak-anak mereka, jika mereka selamat, hanya meraih perolehan sedikit. Jika mereka mati dalam membela wujud Rasulullah saw. maka mereka telah berbakti kepada Tuhan dan kepada umat manusia. Mereka yakin bahwa dengan mengorbankan keluarga, mereka mengkhidmati umat manusia dan berbakti kepada Tuhan. Dengan mendatangkan kematian kepada diri sendiri, mereka menjamin kehidupan kekal bagi seluruh umat manusia.
Rasulullah saw. mengumpulkan orang-orang luka dan orang-orang yang mati syahid. Penderita-penderita luka diberi pertolongan pertama dan mereka yang gugur dikebumikan. Rasulullah saw. mengetahui bahwa musuh telah memperlakukan kaum Muslimin dengan kejam lagi biadab. Mereka itu merusak mayat orang-orang Muslim dengan memotong hidung dan telinga. Salah satu dari mayat-mayat yang dijadikan cacat itu ialah Hamzah, paman Rasulullah. Rasulullah saw. sangat terharu, lalu bersabda, “Perbuatan orang-orang kufar sekarang membenarkan perlakuan –perlakuan yang kita pikir hingga sejauh ini tidak kita benarkan.” Setelah beliau bersabda demikian, beliau terus-menerus memperlihatkan kepada mereka sikap kasih-sayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar