Senin, 26 Desember 2016

Sejarah Rasulullah saw Bagian 48

Pertempuran Muta


Sekembali dari Ka’bah, Rasulullah saw. mulai menerima laporan-laporan bahwa suku-suku Kristen di perbatasan Siria, yang dihasut oleh kaum Yahudi dan kaum musyrikin, telah mengadakan persiapan untuk menyerang Medinah. Oleh karena itu, beliau mengirim regu penyelidik terdiri atas lima belas orang untuk menyelidiki kebenarannya. Mereka melihat suatu pasukan berkumpul di tapal batas Siria. Daripada segera kembali untuk memberi laporan, malah mereka menunggu. Semangat tabligh Islam telah menguasai mereka, tetapi akibat hasrat baik mereka terbukti sama sekali bertolak belakang dengan apa yang telah mereka inginkan dan harapkan.

Meninjau kembali peristiwa-peristiwa itu sekarang, kita dapat mengetahui bahwa mereka, yang dikuasai pengaruh hasutan musuh, sedang merencanakan menyerang tanah air Rasulullah saw., tidak dapat diharapkan akan bersikap dan bertindak lain. Mereka sama sekali tidak mau mendengarkan penerangan, malah mengeluarkan busur mereka dan regu yang lima belas orang itu mulai dihujadi dengan anak panah. Tetapi regu itu tak bergeming. Penerangan-penerangan mereka dibalas dengan panah, tetapi mereka tidak melarikan diri. Mereka bertahan dengan gigihnya; lima belas melawan ribuan dan mereka pun gugur.

Rasulullah saw. merencanakan gerakan militer untuk memberi hukuman kepada orang-orang Siria lantaran kekejaman keji itu, tetapi dalam pada itu, beliau menerima laporan bahwa kekuatan yang dipusatkan diperbatasan itu telah bubar. Oleh karena itu, rencana itu ditangguhkan dahulu oleh beliau.

Tetapi, Rasulullah saw. mengirim surat kepada Kaisar Roma (atau kepada pemimpin suku Ghassan yang memerintah di Busra atas nama Roma). Dalam surat itu, kami sangka, Rasulullah saw. menyesalkan persiapan-persiapan yang telah nampak di perbatasan Siria, dan pembunuhan yang keji, dan sama sekali tak beralasan terhadap lima belas orang Muslim yang telah dikirim oleh beliau untuk mengumpulkan laporan tentang keadaan di perbatasan itu.

Surat itu dibawa oleh Al-Harts, seorang sahabat. Ia berhenti dalam perjalanan di Muta, tempat ia bertemu dengan Syurahbil, seorang pemimpin Ghassan yang bertindak selaku pembesar Roma. “Apakah kamu utusan Muhammad?” Tanya pemimpin itu. Setelah mendapat jawaban, “ya,” Al-Harts ditangkap, diikat dan  dibunuh. Maka layaklah jika ada persangkaan bahwa pemimpin Ghassan itu pemimpin pasukan yang telah menyatroni dan membunuh kelima belas orang muslim yang hanya telah berupaya tabligh.

Kenyataan bahwa ia mengatakan kepada Al-Harts, “Barangkali kamu membawa pesan dari Muhammad” menunjukkan bahwa ia takut jangan-jangan pengaduan Rasulullah saw. bahwa orang-orang dari suku di bawah Kaisar telah menyerang orang-orang muslim akan sampai kepada Kaisar. Ia takut akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang telah terjadi. Ia berpendapat bahwa lebih aman baginya untuk membunuh utusan itu. Harapannya itu tidak terpenuhi. Rasulullah saw. mendapat kabar tentang pembunuhan itu. Untuk mengadakan pembalasan terhadap pembunuhan itu, dan pembunuhan-pembunuhan lainnya sebelum itu, beliau menyusun kekuatan yang terdiri atas tiga ribu prajurit dan dikirimkan ke Siria di bawah pimpinan Zaid bin Haritsa, bekas budak Rasulullah saw. yang telah dimerdekakan, seperti telah kami ceritakan dalam uraian mengenai kehidupan Rasulullah saw. di Mekkah. Rasulullah saw. menunjuk Jafar ibn Abu Thalib sebagai pengganti Zaid, andaikata Zaid gugur dan Abdullah ibn Rawaha, jika Jafar juga gugur. Jika Abdullah bin Rawaha juga gugur, maka kaum muslimin harus memilih sendiri panglima mereka.

Seorang Yahudi yang mendengar putusan itu berkata, “Wahai Abul Qasim, jika Anda Nabi yang benar, ketiga-tiga perwira yang Anda tunjuk itu pasti akan mati; sebab, “Tuhan menyempurnakan kata-kata seorang nabi.” Sambil menghadap kepada Zaid ia berkata, “Percayalah kepada kataku, jika Muhammad benar, kamu tidak akan kembali hidup-hidup.” Zaid seorang mukmin sejati menjawab, “Aku boleh pulang kembali hidup atau tidak, tetapi Muhammad adalah benar Rasul Allah” (Halbiyya, jilid 3,hlm.75).

Keesokan harinya, pagi-pagi, laskar Muslim bertolak menempuh perjalanan yang jauh. Rasulullah saw. dan para sahabat mengantarkannya sampai ke suatu tempat. Suatu gerakan militer yang besar lagi penting dan sebelumnya tak pernah diberangkatkan tanpa Rasulullah saw. sendiri sebagai panglima. Tatkala Rasulullah saw. berjalan untuk mengantar iringan ekspedisi itu beliau memberi nasihat dan perintah. Ketika mereka sampai di tempat orang-orang Medinah biasa mengucapkan kata-kata selamat jalan kepada kawan dan sanak saudara yang akan berangkat ke Siria, Rasulullah saw. berhenti dan bersabda:

“Aku minta dengan sangat kepadamu supaya takut kepada Tuhan dan berbuat adil terhadap orang-orang muslim yang berangkat beserta kamu. Pergilah berperang atas nama Allah dan gempurlah musuh di Siria yang adalah musuhmu dan musuh Allah. Jika kamu datang di Siria, kamu akan berjumpa dengan mereka yang banyak mengadakan zikir Ilahi di dalam rumah-rumah peribadatan mereka, kamu hendaknya jangan berbantah dengan mereka dan jangan mengganggu mereka. Di negeri musuh janganlah membunuh wanita atau anak-anak atau orang buta atau orang-orang yang sudah tua; jangan menumbangkan pohon atau merebahkan bangunan-bangunan (Halbiyya, jilid 3).
Sesudah memberi petunjuk itu, Rasulullah saw. kembali dan laskar Muslim berderap maju. Laskar itu adalah laskar pertama yang diberangkatkan untuk bertempur dengan kaum Kristen. Ketika laskar kaum Muslimin itu tiba di perbatasan Siria, mereka mendapat kabar bahwa Kaisar pribadi telah menduduki medan pertempuran dengan seratus ribu orang dari prajuritnya sendiri dan seratus ribu dari suku-suku Kristen di Arabia. Dihadapkan kepada musuh yang begitu besar, kaum Muslim hampir saja berhenti di tengah perjalanan dan melaporkannya kepada Rasulullah saw. di Medinah. Barangkali beliau dapat mengirimkan bala bantuan dan perintah-perintah baru.

Ketika para pemimpin pasukan bermusyawarah, Abdullah bin Rawaha bangkit dan dengan semangat menyala-nyala berkata, “Saudara-saudaraku, saudara-saudara meninggalkan rumah saudara-saudara dengan tujuan mati syahid di jalan Allah, dan sekarang ketika kesyahidan sudah di ambang pintu, saudara-saudara nampak menjadi ragu-ragu. Kita sebegitu jauh tidak pernah bertempur karena lebih unggul daripada musuh dalam jumlah dan persenjataan. Pertolongan utama kita adalah keimanan kita. Jika musuh jauh mengungguli kita dalam jumlah dan perlengkapan, apa salahnya?” Salah satu dari dua ganjaran pasti kita peroleh. Kita menang atau mati syahid di jalan Allah.

Laskar itu mendengar uraian Rawaha dan amat terkesan. Ia benar, kata mereka serempak. Pasukan itu bergerak maju lagi. Saat mereka bergerak, mereka lihat laskar Roma bergerak juga kearah mereka. Maka di Muta kaum Muslimin mengambil kedudukan dan pertempuran mulai berkobar. Tak lama kemudian Zaid, panglima Muslim, gugur dan saudara sepupu Rasulullah saw. Jafar ibn Abu Thalib, menyambut panji dan pimpinan perang. Ketika dilihatnya tekanan musuh makin kuat dan kaum Muslimin karena kalah tenaga akhirnya tak dapat bertahan, ia turun dari kudanya lalu memotong kaki kudanya. Perbuatan itu berarti bahwa paling tidak ia tidak akan melarikan diri dan bahwa ia lebih suka mati dari pada melarikan diri.

Memotong kaki-kaki binatang tunggangan adalah kebiasaan orang-orang Arab untuk mencegah binatang-binatang melarikan diri, kacau-balau, dan panik. Jafar terpenggal tangan kanannya, tetapi panji perang dipegang erat dengan tangan kiri. Tangan kiri pun terpenggal pula dan kemudian, ia menahan panji itu di antara kedua lengan buntungnya dan ditekankan ke dadanya. Setia pada sumpahnya, ia tewas dalam pertempuran. Abdullah bin Rawaha, sesuai dengan perintah Rasulullah saw. menyambut panji itu dan mengambil alih kepanglimaan. Ia juga gugur. Perintah Rasulullah saw. kemudian ialah bermusyawarah dan mengangkat panglima sendiri. Tetapi tidak ada waktu untuk mengadakan pemilihan. Kaum Muslim bisa-bisa terpaksa menyerah kepada musuh yang jauh berlipat ganda besarnya. Dalam pada itu Khalid bin Walid yang menerima usul seorang kawannya, menyambut panji perang dan pertempuran terus berlangsung sampai malam tiba. Keesokan harinya Khalid menghadapi musuh lagi dengan tentaranya yang ulung. Diubahnya formasi laskarnya – barisan yang depan dipindah ke garis belakang dan barisan sayap kanan ditukar dengan barisan sayap kiri. Juga mereka menyerukan semboyan-semboyan. Musuh menyangka bahwa kaum Muslimin telah mendapat bantuan semalam dan mereka pun mengundurkan diri dalam ketakutan. Khalid dapat menyelamatkan sisa pasukannya dan pulang kembali. Rasulullah saw. telah mengetahui peristiwa-peristiwa itu dari kasyaf. Beliau mengumpulkan kaum Muslimin di Mesjid. Ketika beliau bangkit untuk menyampaikan amanat  kepada mereka, mata beliau berkaca-kaca. Beliau berkata:

“Aku ingin mengatakan kepadamu mengenai laskar yang telah meninggalkan kita, berangkat ke perbatasan Siria. Laskar itu menghadapi musuh dan bertempur. Mula-mula Zaid, lalu Jafar dan kemudian Abdullah bin Rawaha memegang panji perang. Ketiga-tiganya gugur bergantian dalam pertempuran dengan gagah berani. Doakanlah mereka itu semua. Sesudah mereka panji dipegang oleh Khalid bin Walid. Ia mengangkat dirinya sendiri. Ia adalah pedang diantara segala pedang Tuhan. Dengan demikian ia menyelamatkan laskar Islam dan pulang kembali”(Zad al Ma’ad, jilid I dan Zurqani).
Gambaran Rasulullah saw. mengenai Khalid itu menjadi termasyhur. Khalid menjadi terkenal sebagai Saifullah - Pedang Allah.

Sebagai salah seorang yang masuk Islam belakangan, Khalid sering diejek oleh orang-orang Islam lainnya. Sekali peristiwa ia dan ‘Abd al-Rahman bin Auf berbantah-bantah mengenai sesuatu. ‘Abd al-Rahman bin Auf mengadukan Khalid kepada Rasulullah saw.. Rasulullah saw. menegur Khalid dan bersabda, “Khalid, engkau telah menyinggung perasaan seseorang yang telah berbakti kepada Islam sejak zaman Badar. Aku katakan kepadamu bahwa walaupun kamu telah membaktikan emas seberat bukit Uhud untuk menghikmati Islam, kamu tidak akan menjadi berhak atas ganjaran dari Tuhan seperti ‘Abd al-Rahman.”

“Tetapi mereka mengejekku,” kata Khalid, “dan aku terpaksa menjawab.” Atas keterangan  itu Rasulullah saw. menghadap kepada orang-orang lainnya dan bersabda, “Kamu jangan menghina Khalid. Ia adalah pedang di antara segala pedang Allah yang senantiasa terhunus menghadapi kaum kafir.”

Gambaran Rasulullah saw. menjadi kenyataan beberapa tahun kemudian.

Pada waktu Khalid kembali bersama laskar Muslim, beberapa Ansar menggambarkan laskar yang pulang dari medan itu sebagai pasukan yang kalah perang dan kurang semangat. Yang menjadi celaan umum ialah, mereka seharusnya mati dalam pertempuran. Rasulullah saw. menyesali celaan-celaan itu. Khalid dan laskarnya bukan orang-orang kalah perang atau kurang semangat, sabda beliau. Mereka itu prajurit yang pulang untuk kembali lagi menyerang. Kata-kata itu mengandung arti lebih banyak daripada yang nampak pada permukaan. Kata-kata itu memberi khabar gaib tentang peperangan yang akan dilakukan kaum Muslimin dengan Siria.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar