Hadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:
Kebanyakan orang mengalami kegagalan bahwa jika mereka menikah dan mendirikan rumah tangga sendiri, mereka berangsur mengabaikan orang tua. Oleh karena itu Rasulullah saw. sangat menekankan ihwal pahala berbakti dan mengkhidmati orang tua serta memperlakukan mereka dengan baik lagi kasih sayang. Abu Hurairah meriwayatkan, “Seorang laki-laki datang menghadap kepada Rasulullah saw. dan menanyakan siapakah yang paling berhak atas perlakuan baik dari dia. Rasulullah saw. menjawab: ‘Ibumu.’ Orang itu menanyakan lagi. ‘Dan sesudah itu?’ Rasulullah saw. mengulangi lagi, ‘Ibumu.’ Orang itu bertanya untuk ketiga kalinya, ‘Dan sesudah ibuku?’ dan Rasulullah saw. menjawab lagi, ‘Masih ibumu juga’ dan ketika orang itu bertanya untuk ke empat kalinya, beliau bersabda, ‘Sesudah ibumu bapakmu dan sesudah dia keluarga terdekat dan sesudah itu keluarga yang lebih jauh.”
Orang tua dan kakek Rasulullah saw. meninggal dunia ketika beliau masih kecil. Tetapi beberapa orang tua istri-istri beliau masih hidup dan beliau senantiasa memperlakukan mereka dengan kasih-sayang dan takzim. Pada peristiwa jatuhnya Mekkah, ketika Rasulullah saw. memasuki kota sebagai panglima yang gagah perkasa, Abu Bakar membawa ayahnya menghadap. Beliau bersabda kepada Abu Bakar, “Mengapa Anda menyusahkan ayah Anda untuk datang kepadaku. Aku sendiri akan merasa berbahagia menghadap kepada beliau” (Halbiyya, Jilid 3 hlm.99). Salah satu sabda Rasulullah saw. ialah, “Malang benar orang yang orang tuanya mencapai usia lanjut tapi ia gagal meraih surga juga,” artinya, mengkhidmati orang tua, terutama saat mereka mencapai usia lanjut, menarik rida dan karunia Ilahi dan oleh karena itu seseorang yang terbuka kepadanya kesempatan mengkhidmati orang tuanya yang lanjut usia dan berusaha menggunakan kesempatan itu sepenuhnya, pasti akan menjadi kuat dalam jalan takwa dan menjadi penerima karunia Ilahi.
Seorang orang pada suatu ketika mengeluh kepada Rasulullah saw. bahwa makin baik ia berbuat baik kepada sanak-saudaranya, makin tidak bersahabat pula mereka terhadap dirinya, dan makin mereka diperlakukan dengan kasih sayang, makin mereka aniaya terhadap dirinya, dan makin ia memperlihatkan cinta kepada mereka, makin benci juga mereka terhadap dia. Rasulullah saw. bersabda, “Jika apa yang kau katakan itu benar maka kamu sangat beruntung, sebab kamu senantiasa akan menjadi orang yang menerima perlindungan dan pertolongan Ilahi” (Muslim, Kitab al-Birr wal Sila).
Pada suatu waktu ketika Rasulullah saw. sedang menasihati orang-orang agar memberi sedekah, seorang dari pada sahabat, Abu Talha Ansari, menghadap kepada beliau dan menyerahkan sebuah kebun guna dipergunakan untuk tujuan menolong orang-orang miskin. Rasulullah saw. sangat gembira dan berseru, “Alangkah bagusnya sedekah ini! Alangkah bagusnya sedekah ini!” dan menambahkan, “Setelah menyerahkan kebun itu untuk mengkhidmati orang-orang miskin, aku minta kamu sekarang membagi-bagikannya diantara sanak saudaramu yang miskin.” (Bukhari, Kitab al-Tafsir).
Pada suatu waktu seseorang datang menghadap kepada beliau dan berkata, “Ya Rasulullah, aku bersedia berjanji akan berhijrah dan aku bersedia janji akan ikut berjihad, sebab aku sangat menghendaki rida Ilahi.” Rasulullah saw. bertanya, apakah salah seorang dari orang tuanya masih hidup dan orang itu menjawab bahwa kedua-duanya masih hidup. Maka beliau bertanya, “Apakah kamu sungguh-sungguh ingin mendapatkan rida Ilahi?” Dan, atas jawaban orang itu bahwa ia sungguh-sungguh mendambakan hal itu, Rasulullah saw. bersabda, “Kembalilah kepada orang tuamu dan khidmatilah mereka, dan khidmati mereka dengan sungguh-sungguh.” Beliau menegaskan bahwa sanak-saudara seseorang yang belum masuk Islam sama-sama berhak atas perlakuan baik dan kasih-sayang seperti halnya sanak-saudaranya yang sudah menjadi muslim. Salah seorang dari istri-istri Abu Bakar yang bukan muslim mengunjungi anaknya, Asma dan anaknya itu bertanya kepada Rasulullah saw., apakah boleh ia mengkhidmati ibunya dan memberi hadiah kepadanya; dijawab oleh Rasulullah saw. “Tentu saja, sebab ia ibumu” (Bukhari, Kitab al-Adab).
Beliau tidak saja memperlakukan sanak-saudara yang dekat dengan kasih sayang, bahkan kerabat yang sudah jauh pun dan siapa pun yang mempunyai pertalian dengan mereka diberi perlakuan sangat baik. Bilamana beliau menyembelih korban seekor ternak, beliau biasa mengirimkan sebagian dagingnya kepada sahabat-sahabat Khadijah (istri beliau yang telah wafat) dan berpesan kepada istri-istri beliau agar tidak melupakan mereka dalam peristiwa-peristiwa semacam itu. Beberapa tahun sesudah wafat Khadijah ra. ketika beliau bercengkerama dengan para sahabat, saudara perempuan Khadijah, Halah, datang berkunjung dan meminta izin masuk. Suaranya sampai ke telinga Rasulullah saw. layaknya seperti suara Khadijah ra. dan ketika beliau mendengar beliau bersabda, “Ya Allah, itulah Halah, saudara Khadijah.” Sesungguhnya cinta yang sejati senantiasa menjelmakan diri demikian bahwa seseorang mencintai juga segala sesuatu yang ada pertaliannya dengan orang yang dicintai dan dihormati.
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa dalam suatu perjalanan, tahu-tahu ia sudah ada bersama-sama dengan Jarir bin Abdullah dan dirasakan olehnya bahwa kawannya ini menjaga dia seperti seorang budak menjaga tuannya. Karena Jarir bin Abdullah lebih tua daripada Anas, Anas menjadi malu dan menegurnya supaya Jarir tidak bersusah payah. Jarir menjawab, “Aku biasa melihat bagaimana patuh dan rajinnya kaum Ansar melayani Rasulullah saw. dan karena sangat terkesan oleh bakti dan cinta mereka terhadap Rasulullah saw. aku telah mengambil keputusan dalam diriku sendiri bahwa bilamana aku kebetulan ada bersama-sama seorang Ansar, aku akan melayani sebagai pelayannya. Oleh karena itu, aku hanya melaksanakan keputusanku sendiri dan Anda tidak usah melarang” (Muslim).
Peristiwa itu menandakan bahwa kalau seseorang benar-benar mencintai orang lain, cintanya meliputi juga mereka yang sungguh-sungguh mengkhidmati sesuatu yang disayang orang itu. Begitu juga mereka yang benar-benar mencintai orang tua senantiasa menunjukkan hormat dan perhatian penuh terhdap mereka yang sedikit banyak ada hubungan dengan orang tua mereka dalam bentuk ikatan kasih-sayang atau kekeluargaan. Pada suatu peristiwa Rasulullah saw. menekankan bahwa menghormati sahabat-sahabat ayah merupakan kebajikan yang utama. Di antara orang-orang yang mendengar, terdapat Abdullah bin Umar. Beberapa tahun kemudian, pada masa ibadah Haj, ia berjumpa dengan seorang Bedui dan Abdullah bin Umar menyerahkan keledainya sendiri kepadanya dan juga memberikan serbannya. Seorang dari antara kawannya mengatakan bahwa Abdullah bin Umar terlalu royal, padahal seorang Bedui akan gembira dan puas dengan pemberian sekedarnya. Abdullah bin Umar berkata, “Ayah orang itu adalah sahabat ayahku dan aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda bahwa suatu amal utama seseorang yang saleh ialah menghormati dan memuliakan sahabat ayahnya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar