Rasulullah Memberi Isyarat tentang Kewafatan Beliau
Dalam perjalanan pulang, Rasulullah saw. memberitahukan lagi kepada para Sahabat mengenai kehampiran wafat beliau. Beliau bersabda :
Wahai sekalian manusia, aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku boleh mendapat panggilan pada suatu hari dan aku harus pergi. Majikanku Yang Maha Pengasih dan Mahahidup telah memberitahukan kepadaku bahwa seorang Nabi hidup setengah umur Nabi sebelumnya. *) Aku kira akan cepat menerima Panggilan itu dan aku akan berangkat. Wahai para sahabatku sekalian, aku harus menjawab Tuhan dan kalian juga harus memberi jawaban. Apakah yang kelak akan kamu katakan?”
*).Ini bukan dimaksudkan sebagai kaidah umum. Ini hanya menunjuk kepada usia Rasulullah saw. Sebuah Hadis menetapkan usia Nabi Isa as. sekitar seratus dua puluh tahun. Karena beliau sudah mencapai usia enam puluh dua atau enam puluh tiga tahun, maka beliau berpikir bahwa akhir hayat beliau mungkin sudah hamper tiba – Red.
Atas pertanyaan itu para sahabat berkata, “Kami akan mengatakan bahwa Anda telah menyampaikan Islam dengan baik dan Anda telah membaktikan seluruh kehidupan Anda untuk mengkhidmati Agama. “Anda mempunyai hasrat-sempurna demi kebaikan umat manusia. Kami akan berkata: Ya Allah, anugerahkan kepadanya sebaik-baik rahmat.”
Kemudian Rasulullah saw. bertanya, “Apakah kamu menjadi saksi bahwa Tuhan itu Esa; bahwa Muhammad itu abdi dan rasul-Nya; bahwa surga dan neraka itu suatu kenyataan; bahwa mati itu pasti; bahwa semua yang sudah mati pada suatu hari akan dibangkitkan dari kubur mereka, dihidupkan lagi dan dikumpulkan?”
“Ya,” jawab para sahabat, “Kami bersaksi atas semua kebenaran itu.”
Sambil menengadah, Rasulullah saw. bersabda, “Jadilah Engkau juga saksi tentang itu – bahwa aku telah menerangkan Islam kepada mereka.”
Sesudah Haj ini Rasulullah saw. amat sibuk mengajar dan mendidik para pengikut beliau, berusaha keras meningkatkan taraf akhlak mereka dan mengubah serta menghaluskan perilaku mereka. Kematian beliau sendiri sering menjadi buah tutur beliau, dan beliau menyiapkan mereka untuk menghadapi kenyataan itu.
Pada suatu hari, sambil bangkit untuk memberi khutbah kepada orang-orang mukmin, beliau bersabda, “Hari ini aku telah menerima wahyu :
Apabila tiba pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat orang-orang masuk ke dalam agama Allah dengan berduyun-duyun. Maka sanjunglah Tuhan engkau dengan puji-pujian-Nya, dan mohon ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia berulang-ulang kembali dengan rahmat-Nya”(110:2-4).
Maksudnya, saat akan tiba ketika, dengan pertolongan Ilahi, rombongan demi rombongan manusia akan masuk Islam, karena itu seyogyanya Rasulullah saw. –dan para pengikut beliau– menyanjung-puji Tuhan dan mendoa kepada-Nya untuk melenyapkan segala kendala yang menghalangi upaya penegakan agama.
Rasulullah mempergunakan suatu perumpamaan pada peristiwa itu. Tuhan berfirman kepada manusia, “Jika kamu suka, kamu boleh pulang kepada-Ku, atau kamu boleh bekerja barang sebentar lagi guna mengadakan islah di dunia.” Orang itu menjawab, bahwa ia memilih pulang kepada Tuhan-nya.
Abu Bakar ada di antara para pendengar. Ia telah mendengar khutbah terakhir Rasulullah saw. dengan hati bergelora dan cemas – gelora hati seorang mukmin besar dan kecemasan seorang sahabat dan pengikut yang di dalam khutbah itu dapat melihat tanda-tanda wafat Rasulullah saw. Setelah mendengar perumpamaan itu, Abu Bakar tidak dapat menguasai diri lagi. Ia menangis sedu-sedan. Para sahabat lainnya yang hanya melihat segi permukaan dari apa yang mereka dengar, terheran-heran ketika Abu Bakar menangis, “Apakah yang terjadi dengan Abu Bakar?” mereka bertanya-tanya. Rasulullah saw. sedang menggambarkan kemenangan Islam yang akan datang, tetapi ia malah menangis. Terutama Umar merasa kesal hati terhadap Abu Bakar. Rasulullah saw. memberikan khabar suka, tetapi orang tua itu menangis. Hanya Rasulullah saw. yang menangkap arti dari apa yang terjadi. Hanya Abu Bakar yang mengerti maksud beliau – begitu dalam pikiran beliau. Hanya dia yang dapat melihat bahwa ayat-ayat yang menjanjikan kemenangan itu meramalkan pula mendekatnya wafat Rasulullah saw.
Rasulullah saw. selanjutnya bersabda, “Abu Bakar sangat kucintai. Jika diizinkan mencintai seseorang lebih dari yang lainnya, aku akan mencintai Abu Bakar. Tetapi, kecintaan semacam itu hanyalah hak Allah. Wahai kaumku, semua pintu yang menuju ke mesjid hendaknya ditutup mulai hari ini, kecuali pintu Abu Bakar.”
Tidak ada syak sedikit pun bahwa perintah terakhir ini menyiratkan khabar-gaib bahwa, sesudah Rasulullah saw., Abu Bakar akan menjadi Khalifah Pertama. Untuk memimpin orang-orang mukmin dalam sembahyang ia harus datang lima kali sehari ke mesjid dan untuk itu ia harus membiarkan pintu rumahnya ke mesjid terbuka. Beberapa tahun kemudian, di zaman, tatkala Umar menjadi Khalifah, beliau bertanya kepara para hadirin arti ayat, “Apabila datang pertolongan dari Allah dan kemenangan.” Ternyata beliau ingat akan keadaan ketika Rasulullah saw. mengajarkan ayat itu dan ayat-ayat berikutnya kepada kaum Muslimin. Beliau tentu ingat juga bahwa pada saat itu hanya Abu Bakar yang mengerti ayat-ayat itu. Umar menguji coba pengetahuan kaum Muslimin tentang ayat-ayat itu. Mereka tidak mampu menangkap kandungan ayat-ayat itu pada waktu diturunkan, apakah mereka sekarang mengetahui akan artinya? Ibnu Abbas, yang kira-kira berumur sepuluh atau sebelas tahun pada waktu turun wahyu itu dan yang sekarang berumur tujuh belas atau delapan belas, menyediakan diri untuk menjawab. Ia berkata, “Ya Amirulmukminin, ayat-ayat itu mengandung khabar-gaib tentang wafat Rasulullah saw. Karena pekerjaan Rasulullah saw. sudah selesai, beliau tak ingin lama-lama lagi tinggal di alam dunia ini. Kemenangan itu mempunyai segi yang menyedihkan, ialah, sudah dekatnya keberangkatan Rasulullah saw. dari alam dunia ini.” Umar memuji Ibnu Abbas dan mengatakan bahwa ketika ayat-ayat itu diturunkan, hanya Abu Bakar-lah yang dapat menangkap artinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar