Senin, 26 Desember 2016

Sejarah Rasulullah saw Bagian 54

Ikrima Menjadi Muslim


Dari antara mereka yang termasuk dikecualikan dari pengampunan umum, beberapa orang telah diberi maaf juga atas usul para sahabat. Di antara mereka termasuk orang-orang yang di ampuni adalah Ikrima, anak Abu Jahal. Istrinya seorang muslim dalam hati (belum berikrar terang-terangan). Ia mohon kepada Rasulullah saw. agar mengampuni suaminya. Rasulullah saw. berkenan memberi ampunan. Pada saat itu Ikrima tengah berusaha melarikan diri ke Abessinia. Istrinya mengejar dia dan dilihatnya bahwa dia hampir naik kapal. Ia memarahi suaminya, “Engkau mau melarikan diri dari orang yang begitu baik hati dan halus seperti Rasulullah saw.?”

Ikrima ternganga keheranan dan bertanya, kalau istrinya benar menyangka Rasulullah saw. akan mengampuninya. Istrinya meyakinkan bahwa bahkan orang seperti dia pun akan di ampuni oleh Rasulullah saw.. Sesungguhnya, ia telah mendapatkan janji dari Rasulullah saw.. Ikrima melepaskan niat melarikan diri ke Abessinia dan kembali ke Mekkah lalu menjumpai Rasulullah saw. “Aku mendapat kabar dari istriku bahwa Anda telah memberi ampunan bahkan kepada orang seperti diriku,” katanya.

“Apa yang dikatakan oleh istrimu benar. Aku sungguh-sungguh telah mengampunimu,” sabda Rasulullah saw.

Ikrima menyimpulkan bahwa orang yang sanggup memaafkan musuh-musuhnya yang paling besar tidak mungkin palsu. Oleh karena itu, seketika itu juga ia menyatakan baiat. “Asyhadu alla ilaha illallahu wahdahu la syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadar-Rasulullah” Seraya mengucapkan Kalimah Syahadat ia, karena rasa malu, menundukkan kepalanya. Rasulullah saw. menghiburnya, “Ikrima,” sabda beliau, Aku bukan saja telah memberi maaf kepadamu, tetapi sebagai bukti penghargaanku kepadamu, aku telah mengambil keputusan untuk menanyakan kepadamu, apa kiranya yang dapat kuberikan kepadamu.”

Ikrima menjawab, “Tidak ada yang lebih baik dapat kuminta kecuali doa Anda kepada Tuhan untuk memberikan ampunan kepadaku mengenai segala keterlajakan dan kekejaman yang telah kuperbuat terhadap Anda.”

Mendengar permohonan itu, Rasulullah saw. segera mendoa, “Ya Tuhan, ampunilah kiranya sikap tak bersahabat Ikrima yang sudah-sudah terhadapku. Ampunilah kiranya ucapan-ucapan kotor yang pernah terlontar dari mulutnya.”

Kemudian Rasulullah saw. bangkit dan mengenakan jubah beliau kepada Ikrima dan bersabda, “Siapa pun yang datang kepadaku dan beriman kepada Tuhan, ia bersamaku. Rumahku adalah rumahnya dan rumahku.”

Baiat Ikrima menyempurnakan khabar-gaib Rasulullah saw. selang beberapa tahun sebelum kejadian itu. Dalam suatu percakapan dengan para Sahabat Rasulullah saw. pernah bersabda, “Aku melihat dalam kasyaf bahwa aku berada didalam surga. Kulihat di sana ada setandan anggur. Ketika kutanyakan untuk siapa anggur itu, ada orang yang menjawab, “Untuk Abu Jahal.” Sambil mengisyaratkan kepada kasyaf itu pada peristiwa baiat Ikrima, Rasulullah saw. mengatakan bahwa mula-mula beliau tidak mengerti kasyaf tersebut. Betapa pula Abu Jahal, seorang musuh Islam, dapat masuk surga dan betapa ia dapat memperoleh setandan anggur yang disediakan baginya.

“Tetapi sekarang,” sabda Rasulullah saw., “aku mengerti kasyaf itu, setandan anggur itu dimaksudkan untuk Ikrima. Hanya di tempat anaknya kulihat ayahnya, suatu penukaran yang lazim dalam kasyaf dan rukya”(Halbiyya, jilid 3, hlm.104).

Di antara orang-orang yang diperintahkan mendapat hukuman mati, sebagai pengecualian atas pengampunan umum itu, terdapat seorang Mekkah yang bertanggung jawab atas pembunuhan terhadap Zainab, puteri Rasulullah. Orang itu Habbar namanya; ia pernah memutuskan tali-tali pelana unta Zainab, yang karenanya Zainab jatuh. Oleh karena beliau sedang mengandung, beliau keguguran kandungan dan meninggal dunia tak lama kemudian. Itulah salah satu dari pelanggaran peri kemanusiaan yang telah dilakukan, dan untuk itu ia patut dihukum mati. Orang itu sekarang menghadap kepada Rasulullah saw. dan berkata, “Ya Rasulullah, aku melarikan diri dan pergi ke Iran, tetapi timbullah pikiran dalam diriku bahwa Tuhan telah membersihkan kita dari kepercayaan musyrik kita dan menyelamatkan kita dan kematian rohani. Daripada pergi kepada orang-orang lain untuk mencari perlindungan kepada mereka, bukankah lebih baik menghadap Rasulullah sendiri, mengakui dan menyesali segala kesalahan dan dosa-dosaku dan kemudian mohon ampunan?”

Rasulullah saw. terharu dan bersabda, “Habbar, jika Tuhan telah menanamkan dalam hatimu kecintaan kepada Islam, bagaimana mungkin aku menolak memberi ampunan kepadamu? Aku maafkan segala sesuatu yang telah kau perbuat sebelum ini.”

Kita tidak dapat melukiskan dengan terinci ihwal kekejaman-kekejaman yang telah diperbuat orang-orang ini terhadap Islam dan kaum muslimin. Tetapi, alangkah mudahnya Rasulullah saw. mengampuni mereka! Jiwa pengampunan ini telah mengubah musuh-musuh yang hatinya paling keras sekalipun menjadi khadim-khadim Rasulullah saw.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar