Hadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:
Tiap-tiap segi kehidupan Rasulullah saw. jelas nampak diliputi dan diwarnai oleh cinta dan bakti kepada Tuhan. Walaupun pertanggungjawaban yang sangat berat terletak di atas bahu beliau, bagian terbesar dari waktu, siang dan malam, dipergunakan untuk beribadah dan berzikir kepada Tuhan. Beliau biasa bangkit meninggalkan tempat tidur tengah malam dan larut dalam beribadah kepada Tuhan sampai saat tiba untuk pergi ke mesjid hendak sembahyang subuh. Kadang-kadang beliau begitu lama berdiri dalam sembahyang tahajud sehingga kaki beliau menjadi bengkak-bengkak, dan mereka yang menyaksikan beliau dalam keadaan demikian sangat terharu. Sekali peristiwa Aisyah ra. berkata kepada beliau, “Tuhan telah memberi kehormatan kepada engkau dengan cinta dan kedekatan-Nya. Mengapa engkau membebani diri sendiri dengan menanggung begitu banyak kesusahan dan kesukaran?” Beliau menjawab, “Jika Tuhan, atas kasih-sayang-Nya, mengaruniai cinta dan kedekatan-Nya kepadaku, bukankah telah menjadi kewajiban pada giliranku senantiasa menyampaikan terima-kasih kepada Dia? Bersyukurlah hendaknya sebanyak bertambahnya karunia yang diterima.” (Kitab al-Kusuf).
Beliau tidak pernah melangkah untuk menyelesaikan suatu usaha tanpa perintah Ilahi atau izin-Nya. Telah diriwayatkan dalam bab riwayat hidup beliau bahwa kendati menderita karena penindasan yang sangat aniaya oleh kaum Mekkah beliau tidak meninggalkan kota itu sebelum mendapat perintah Ilahi. Ketika perlawanan memuncak dan beliau mengizinkan para sahabat mengungsi ke Abessinia, beberapa di antara mereka menyatakan keinginan supaya beliau berangkat bersama mereka. Beliau menolak atas dasar belum mendapat izin Ilahi. Jadi, di masa percobaan dan penindasan juga, ketika biasa orang suka kalau sahabat-sahabat dan sanak saudaranya kumpul-kumpul di sekitarnya, beliau menyaranakan kepada para sahabat untuk mencari perlindungan di Abessinia dan beliau sendiri tetap tinggal di Mekkah, sebab Tuhan belum memberi perintah.
Jika beliau mendengar Kalamullah dibacakan, beliau sangat terharu dan air mata mulai menitik, terutama jika beliau mendengar ayat-ayat yang menekankan pada kewajiban beliau sendiri. Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan bahwa ia sekali peristiwa disuruh Rasulullah saw. membaca beberapa ayat Alquran. Ia berkata, “Ya Rasulullah, Alquran telah diturunkan kepada Anda (artinya: Anda telah lebih mengetahui daripada siapa pun). Mengapa kemudian harus membacakannya kepada Anda?” Rasulullah saw. menjawab, “Aku suka juga mendengar Alquran dibaca oleh orang lain.” Maka Abdullah bin Mas’ud mulai membacakan ayat-ayat dari surah An Nisa. Ketika membaca :
Maka, betapa peri keadaan mereka ketika Kami akan mendatangkan seorang saksi dari setiap umat, dan Kami akan mendatangkan engkau sebagai saksi terhadap mereka ini (4:42)
Rasulullah saw. berseru, “Cukup!” Abdullah bin Mas’ud melihat ke arah beliau dan melihat air mata mengalir dari mata Rasulullah saw.(Bukhari, Kitab Fada’il al-Quran).
Beliau begitu memandang penting ikut dalam sembahyang berjemaah sehingga tengah sakit keras, ketika dalam keadaan serupa itu bukan saja diizinkan untuk salat seorang diri di dalam kamar tetapi bahkan diizinkan untuk mengerjakan salat di atas tempat tidur sambil berbaring, beliau memaksakan diri pergi ke mesjid untuk menjadi imam. Sekali peristiwa, ketika beliau tidak sempat pergi ke mesjid, beliau menyuruh Sayyidina Abu Bakar untuk menjadi imam. Tetapi, kemudian beliau merasakan ada perbaikan dalam kesehatannya dan minta supaya beliau dipapah berjalan ke mesjid. Beliau bersitopang pada pundak dua orang, tetapi keadaan beliau begitu lemahnya sehingga menurut Siti Aisyah ra. kaki beliau terseret-seret (Bukhari).
Menurut kebiasaan umum dalam mengungkapkan kegembiraan atau menarik perhatian kepada sesuatu ialah dengan bertepuk tangan – dan orang Arab juga berbuat seperti itu. Tetapi, Rasulullah saw. demikian suka berzikir Ilahi sehingga untuk keperluan pengungkapan rasa gembira itu juga memuji dan berzikir Ilahi ditetapkan untuk alih-alih tepuk tangan. Sekali peristiwa ketika beliau sibuk dengan urusan penting, waktu sembahyang pun mendekat dan beliau menyuruh Sayyidina Abu Bakar untuk menjadi imam. Tak lama kemudian beliau dapat menyelesaikan urusan beliau dan segera pergi ke mesjid. Abu Bakar menjadi imam, tetapi ketika jemaat melihat bahwa Rasulullah saw. telah tiba, mereka segera bertepuk tangan untuk menyatakan kegembiraan atas kedatangan beliau dan menarik perhatian Abu Bakar dan memberi tahu bahwa Rasulullah saw. telah tiba. Maka Abu Bakar undur dan memberi tempat kepada Rasulullah saw. untuk mengimami salat. Sesudah sembahyang selesai, Rasulullah saw. bertanya kepada Abu bakar, “Mengapa engkau undur sesudah aku menunjuk engkau sebagai imam?” Abu Bakar menjawab, “Ya Rasulullah, bagaimana akan pantas untuk anak Abu Quhafa menjadi imam sedang Rasulullah sendiri hadir?” Maka Rasulullah bertanya kepada jemaat, “Mengapa kamu sekalian bertepuk tangan? Adalah tidak pantas bila kalian sedang larut dalam berzikir kepada Allah maka kalian bertepuk tangan. Jika kebetulan dalam waktu salat perhatian harus tercurah kepada sesuatu, daripada bertepuk tangan kamu lebih baik menyebut ‘Subhanallah’ dengan suara nyaring. Hal itu akan menujukan perhatian kepada perkara yang harus mendapat perhatian” (Bukhari).
Rasulullah saw. tidak menyukai salat dan beribadah dilakukan sebagai hukuman atau sanksi atas diri sendiri untuk penebus dosa. Sekali peristiwa beliau sampai ke rumah dan melihat tali terentang antara dua tiang. Beliau menanyakan tujuannya dan mendapat keterangan bahwa istri beliau, Zainab, biasa berdiri tegak dengan bantuan tali jika dalam waktu mendirikan salat ia menjadi letih dan payah. Beliau memerintahkan supaya membuang tali tersebut dan menerangkan bahwa salat sebaiknya dilangsungkan selama dirasakan mudah dan ringan, dan jika ia menjadi terlalu lelah, seseorang hendaknya ia duduk. Salat itu bukan sanksi dan jika diteruskan juga, sesudahnya badan menjadi letih, maka sembahyang itu menyalahi tujuannya (Bukhari, Kitabal-Kusuf).
Beliau mencela sekali tiap-tiap tindakan dan perbuatan yang berbau syirik walau sedikit. Ketika akhir hayat beliau telah mendekat dan telah dicekam oleh derita sakaratulmaut, beliau dalam keresahan menggulingkan badan dari kanan ke kiri dan dari kiri ke kanan sambil berseru, “Terkutuklah orang-orang Yahudi dan Kristen yang telah mengubah kuburan nabi-nabi mereka menjadi tempat ibadah”(Bukhari). Beliau memaksudkan, orang-orang Yahudi dan Kristen yang bersujud pada kuburan nabi-nabi mereka dan orang-orang suci mereka dan mendoa kepada mereka; dan beliau memaksudkan bahwa jika kaum Muslimin terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan semacam itu, mereka tidak berhak atas doa-doa beliau; tetapi, sebaliknya, mereka telah memutuskan perhubungan mereka dengan beliau.
Gairat beliau akan kemuliaan Tuhan telah diceritakan dalam bab riwayat hidup beliau. Kaum Mekkah telah berusaha menyampaikan segala macam bujukan dan mendesak beliau menghentikan perlawanan terhadap penyembahan kepada berhala (Tabari). Pamanda, Abu Thalib, juga mencoba mencegah beliau dengan membayangkan kekhawatirannya bahwa jika beliau bersikeras melancarkan serangan terhadap kemusyrikan, Abu Thalib akan terpaksa memilih antara berhenti melindungi beliau atau ia siap menerima perlawanan hebat dari kaumnya. Jawaban Rasulullah saw. satu-satunya kepada pamanda pada peristiwa itu, “Jika orang-orang itu meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiri, aku tidak akan berhenti mengumumkan dan menablighkan ajaran Tauhid” (Zurqani). Di tengah berkecamuknya Perang Uhud, ketika sisa pasukan muslim yang luka-luka berkumpul di sekitar beliau di kaki bukit dan musuh melampiaskan kegembiraan dengan teriakan-teriakan kemenangan setelah mematahkan barisan muslim, dan pimpinan mereka, Abu Sufyan, berpekik: “Hidup Hubal (satu dari antara berhala-berhala kaum Mekkah), Hidup Hubal!” maka Rasulullah saw. walaupun tahu dan sadar bahwa keselamatan beliau dan keselamatan serombongan kecil kaum muslim sekitar beliau bergantung pada sikap tutup mulut, tidak dapat menahan kesabaran dan memerintahkan kepada para sahabat untuk menjawab dengan pekikan: “Untuk Allah semata kemenangan dan kejayaan! Untuk Allah semata kemenangan dan kejayaan!” (Bukhari).
Suatu salah pengertian yang sudah biasa ada pada para pengikut bermacam-macam agama sebelum kedatangan Islam ialah, kejadian-kejadian di langit dan di bumi nampak sebagai tanda ikut bergembira atau belasungkawa untuk nabi-nabi, wali-wali dan orang-orang besar lainnya dan bahkan gerakan-gerakan benda langit dikendalikan oleh mereka. Umpamanya, diriwayatkan tentang beberapa di antara mereka bahwa mereka dapat membuat matahari berhenti beredar dan menghentikan perjalanan bulan atau air berhenti mengalir. Islam mengajarkan bahwa paham demikian sama sekali tak beralasan dan bahwa cerita keajaiban-keajaiban semacam itu dalam kitab-kitab suci hanya dipergunakan sebagai perlambang yang bukan ditafsirkan menurut arti yang sebenarnya malah telah menimbulkan takhayul-takhayul. Walaupun demikian, sebagian orang muslim cenderung menghubungkan keajaiban-keajaiban itu dengan kejadian-kejadian dalam kehidupan nabi-nabi besar. Pada tahun-tahun terakhir kehidupan Rasulullah saw. putra beliau Ibrahim, meninggal dalam umur dua setengah tahun. Pada hari itu terjadi gerhana matahari. Beberapa di antara orang-orang muslim di Medinah menyebarkan paham bahwa matahari telah menjadi gelap pada peristiwa meninggalnya putra Rasulullah saw. sebagai alamat belasungkawa samawi. Ketika hal itu diceritakan kepada Rasulullah saw., beliau nampak sangat kecewa dan sangat mencela paham itu. Beliau menerangkan bahwa matahari, bulan dan benda-benda langit lainnya, semuanya diatur oleh hukum-hukum Tuhan dan bahwa peredaran matahari, bulan, dan gejala yang berkaitan dengan matahari dan bulan tidak ada sangkut-paut dengan hidup dan mati seseorang (Bukhari).
Arabia adalah daerah yang sangat tandus dan hujan selalu disambut gembira. Bangsa Arab biasa menggambarkan dalam ingatan mereka bahwa hujan itu diatur oleh peredaran bintang. Ketika seseorang mengungkapkan pikiran itu Rasulullah saw. sangat bingung dan memperingatkan kaumnya untuk tidak mengaitkan karunia yang mereka terima dari Tuhan kepada sumber-sumber lain. Beliau menerangkan bahwa hujan dan lain-lain gejala alam itu semuanya diatur oleh hukum-hukum Ilahi, bukan dikendalikan oleh kesenangan atau ketidak senangan dewa atau dewi atau suatu kekuatan lain (Muslim, Kitabal-Iman).
Beliau mempunyai ketawakalan yang sempurna kepada Tuhan dan tidak akan goyah oleh kemajemukan keadaan yang tidak bersahabat. Sekali peristiwa seorang musuh melihat beliau tidur dan tidak berkawal, ia berdiri di hadapan beliau dengan pedang terhunus dan bersiap membunuh beliau dengan seketika. Sebelum melakukan ia bertanya, “Siapa dapat menyelamatkan kamu dari keadaanmu sekarang?” Rasulullah saw. menjawab dengan tenang, “Allah.” Beliau menyatakan dengan keyakinan yang begitu sempurna sehingga bahkan hati musuh yang kafir pun terpaksa mengakui keluhuran iman dan keikhlasan beliau kepada Allah swt. Pedangnya terlepas dan jatuh, dan ia, yang sejenak sebelumnya telah siap membinasakan beliau, berdiri di hadapan beliau seperti seorang penjahat yang menunggu keputusan hakim (Muslim, Kitab al-Fada’il dan Bukhari, Kitab al-Jihad).
Di pihak lain nampak sikap rasa merendahkan diri yang sempurna dihadapan Tuhan-Nya. Abu Hurairah meriwayatkan, “Pada suatu hari aku mendengar Rasulullah saw. bersabda bahwa tidak ada manusia meraih keselamatan melalui amal salehnya sendiri. Atas keterangan itu aku berkata, “Ya Rasulullah, Anda pasti masuk surga melalui amal saleh Anda.” Dijawab oleh Rasulullah saw., “Tidak, aku pun tidak dapat masuk surga dengan perantaraan amal baikku kecuali oleh Kasih Sayang Tuhan” (Bukhari, Kitab al-Riqaq).
Beliau senantiasa menganjurkan orang-orang untuk memilih dan menempuh jalan yang benar dan dengan rajin berikhtiar, dengan itu mereka dapat mencapai Qurb Ilahi (kedekatan kepada Tuhan). Beliau mengajarkan bahwa jangan ada yang menginginkan kematian untuk dirinya, sebab jika ia orang baik, maka dengan kehidupan yang lebih lama dialami olehnya akan dapat meraih kebaikan yang lebih besar, dan jika ia jahat, ia dapat bertobat dari perbuatan-perbuatan jahatnya seandainya diberi waktu panjang dan memulai menempuh jalan yang baik. Cinta beliau dan ibadah beliau kepada Tuhan nampak dalam berbagai-bagai cara. Umpamanya, manakala sesudah musim kemarau tetesan-tetesan hujan pertama mulai turun, beliau mengeluarkan lidah untuk menangkap tetesan-tetesan hujan itu dan berseru, “Inilah karunia rahmat terakhir dari Tuhan-ku.” Beliau senantiasa sibuk mendoa untuk memohon ampunan dan rahmat Tuhan, terutama jika beliau duduk-duduk diantara orang banyak supaya mereka yang beserta beliau atau bergaul dengan beliau dan orang-orang Muslim pada umumnya akan terhindar dari murka Tuhan dan menjadi layak meraih ampunan Allah. Kesadaran bahwa beliau senantiasa ada di hadapan Tuhan tidak pernah lepas dari beliau. Jika beliau berbaring untuk tidur, beliau bersabda, “Ya, Allah, matikan aku (tidurkan aku) dengan nama-Mu di bibirku, dan dengan nama-Mu di bibirku bangkitkan lagi hamba-Mu ini.” Jika beliau bangun, beliau biasa bersabda, “Segala puji bagi Tuhan yang menghidupkan diriku sesudah mati(tidur) dan pada suatu hari kita semua akan dikumpulkan di hadapan Dia”(Bukhari).
Beliau senantiasa mendambakan Qurb Ilahi (kedekatan kepada Tuhan, dan salah sebuah doa yang beliau seringkali mengulangi ialah:
“Ya Allah! Penuhilah kiranya hatiku dengan nur-Mu dan penuhi mataku dengan nur-Mu dan penuhi telingaku dengan nur-Mu dan letakkan nur-Mu di kananku dan letakkan nur-Mu di kiriku dan letakkan nur-Mu di atasku dan letakkan nur-Mu dibawahku dan letakkan nur-Mu di hadapanku dan letakkan nur-Mu di belakangku, dan wahai Tuhan, jadikanlah seluruh diriku nur” (Bukhari).
Ibu Abbas meriwayatkan: “Tak lama sebelum wafat Rasulullah saw., Musailima (seorang nabi palsu) datang ke Medinah dan menyatakan bahwa jika Nabi Muhammad saw. mau menunjuk dia sebagai pengganti beliau, ia bersedia menerima beliau. Musailima diikuti oleh suatu rombongan pengiring yang berjumlah amat besar, dan kabilahnya adalah terbesar dari antara kabilah-kabilah yang ada di Arab. Ketika Rasulullah saw. diberi tahu tentang kedatangannya, beliau menjumpainya disertai oleh Tsabit bin Qais bin Syams. Beliau memegang ranting pohon kurma kering. Ketika beliau datang ke kemah Musailima, beliau menuju kepadanya dan berdiri di hadapannya. Pada waktu itu telah banyak sahabat-sahabat datang dan berdiri di sekitar beliau. Beliau bersabda kepada Musailima, “Telah disampaikan kepadaku bahwa anda telah mengatakan jika aku tunjuk anda sebagai penggantiku, anda bersedia menjadi pengikutku, tetapi aku tidak akan memberikan ranting pohon kurma kering ini pun kepada anda jika bertentangan dengan perintah Tuhan. Kesudahan anda akan menjadi sebagaimana telah ditetapkan Tuhan. Jika anda berpaling dari padaku, Tuhan akan memberi anda kegagalan. Aku melihat dengan jelas bahwa Tuhan akan memperlakukan anda seperti yang telah diwahyukan kepadaku.” Beliau kemudian meneruskan, “Sekarang aku akan pergi. Jika anda ingin mengatakan sesuatu, anda dapat menghubungi Tsabit bin Qais bin Syams yang akan bertindak sebagai wakilku.” Kemudian beliau berangkat. Abu Hurairah juga beserta beliau. Salah seorang menanyakan kepada Rasulullah saw. apa maksud dengan kata-kata “Tuhan akan memperlakukan Musailima seperti yang telah diwahyukan kepada beliau.” Rasulullah saw. menjawab, “Saya melihat dalam mimpi itu aku disuruh Tuhan untuk meniup gelang-gelang itu. Ketika kutiup gelang-gelang itu, kedua-duanya lenyap. Aku menantikan bahwa sesudahku akan timbul dua penda’wa (nabi) palsu” (Bukhari, Kitab al-Maghazi). Peristiwa ini terjadi pada waktu mendekatnya wafat Rasulullah saw. Suku Arab terakhir dan terbesar yang sampai pada waktu itu belum menerima beliau telah bersiap-siap untuk masuk Islam dan satu-satunya syarat yang mereka ajukan ialah bahwa Rasulullah saw. menunjuk pemimpin mereka menjadi pengganti beliau. Jika Rasulullah saw. sedikit saja di dorong oleh alasan-alasan pribadi, maka tidak ada lagi yang menjadi rintangan untuk mempersatukan seluruh Arabia dengan menjanjikan pengganti beliau kepada pemimpin suku yang terbesar dari Arabia. Rasulullah saw. tak punya putra dan tidak ada keinginan mendirikan wangsa yang dapat merintangi pengaturan-pengaturan demikian, tetapi beliau tidak pernah memandang barang sekecil-kecilnya pun sebagai hak beliau dan menjadi milik beliau secara mutlak. Maka beliau tidak dapat memandang kepemimpinan kaum Muslim itu seakan-akan hak beliau untuk memberikannya menurut kehendak beliau sendiri. Beliau memandangnya sebagai amanat Tuhan yang suci dan beranggapan bahwa Tuhan akan memberikannya kepada siapa yang dipandang-Nya layak. Maka beliau menolak usul Musailima dengan tegas dan mengatakan bahwa jangankan kedudukan kepemimpinan kaum Muslim, ranting pohon korma kering sekalipun beliau tidak bersedia memberikan kepadanya.
Kapan saja Rasulullah saw. menyinggung atau membicarakan Tuhan, nampak kepada yang menyaksikan seolah-olah seluruh wujud beliau ada dalam haribaan cinta dan pengabdian kepada Tuhan. Beliau senantiasa menekankan kesederhanaan dalam beribadah. Mesjid yang didirikan beliau dan di dalamnya beliau senantiasa mendirikan sembahyang, lantainya dari tanah biasa tanpa alas atau tikar dan atapnya yang dibuat dari dahan dan daun pohon korma, bocor jika hujan. Dalam keadaan demikian Rasulullah saw. dan para jemaah basah kuyup karena air hujan dan lumpur, tetapi beliau terus menyelesaikan sembahyang sampai akhir dan tak pernah beliau memberi isyarat supaya menunda sembahyang atau pindah ke tempat yang lebih terlindung (Bukhari, Kitab al-Saum).
Beliau sangat waspada juga akan peri keadaan para sahabat. Abdullah bin Umar adalah orang yang sangat bertakwa dan zuhud. Mengenai dia Rasulullah saw. bersabda pada sekali peristiwa, “Abdullah bin Umar akan lebih baik lagi jika ia lebih dawam sembahyang tahajud.” Ketika sabda itu disampaikan kepada Abdullah bin Umar, maka sesudah itu tak pernah lagi ia meninggalkan sembahyang tahajud. Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. ketika beliau ada di rumah puterinya, Fatimah, menanyakan apa Fatimah dan suaminya, Ali, dawam menjalankan sembahyang tahajud mereka, Ali menjawab,”Ya Rasulullah, kami berusaha bangun untuk sembahyang tahajud, tetapi bila menurut kehendak Tuhan kami tidak dapat bangun, kami meninggalkannya.” Beliau Pulang dan dalam perjalanan beliau mengulangi beberapa kali ayat Alquran yang mengandung arti bahwa orang seringkali segan mengakui kesalahannya dan mencoba menutupinya dengan macam-macam alasan (Bukhari, Kitab al-Kusuf). Rasulullah saw. bermaksud mengatakan bahwa Ali hendaknya tidak melemparkan kesalahannya kepada Tuhan dengan mengatakan bahwa jika Tuhan menghendaki mereka tidak bangun, mereka tidak dapat bangun pada waktunya, tetapi ia hendaknya mengakui kelemahannya dalam hal ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar