Hadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:
Bangsa Arab sangat suka mengagumi pribadi-pribadi tertentu dan menerapkan berbagai patokan kepada berbagai orang. Bahkan di antara bangsa-bangsa yang disebut beradab dewasa ini kita menyaksikan adanya keengganan mengadakan tuntutan terhadap orang-orang terkemuka atau yang mempunyai kedudukan atau jabatan yang tinggi atas perbuatan mereka, walaupun hukum diberlakukan secara ketat terhadap warganegara biasa. Tetapi, Rasulullah saw. adalah mandiri dalam menerapkan keadilan dan perlakuan adil. Sekali peristiwa suatu perkara dihadapkan kepada beliau tatkala seorang bangsawati terbukti telah melakukan pencurian. Hal itu menggemparkan, karena jika hukuman yang berlaku dikenakan terhadap wanita muda usia itu, martabat suatu keluarga sangat terhormat akan jatuh dan terhina. Banyak yang ingin mendesak Rasulullah saw., demi kepentingan orang yang berdosa itu, tetapi tidak mempunyai keberanian. Maka Usama diserahi tugas melaksanakan itu. Usama menghadap Rasulullah saw. tetapi serenta beliau mengerti maksud tugasnya itu, beliau sangat marah dan bersabda, “Kamu sebaiknya menolak. Bangsa-bangsa telah celaka karena mengistimewakan orang-orang kelas tinggi tapi berlaku kejam terhadap rakyat jelata. Islam tidak mengizinkan dan aku pun sekali-kali tidak akan mengizinkan. Sesungguh-sungguhnya, jika Fatimah, anakku sendiri, melakukan kejahatan, aku tidak akan segan-segan menjatuhkan hukuman yang adil” (Bukhari, Kitab-al-Hudud).
Telah diriwayatkan bahwa ketika paman Rasulullah saw. Abbas, menjadi tawanan Perang Badar, ia diikat erat-erat seperti tawanan-tawanan lainnya dengan tali untuk mencegah usaha melarikan diri. Tali itu begitu eratnya sehingga ia mengerang kesakitan sepanjang malam. Rasulullah saw. mendengar erangan itu dan karenanya beliau tidak dapat tidur. Para sahabat mengetahui hal itu dan melonggarkan ikatan Abbas. Ketika Rasulullah saw. mengetahuinya, beliau memerintahkan supaya semua tawanan diperlakukan sama seperti paman beliau dengan mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk menunjukkan keistimewaan kepada keluarga beliau sendiri. Beliau menuntut mereka supaya melonggarkan ikatan semua tawanan atau kebalikannya memperkuat lagi ikatan Abbas seperti tawanan-tawanan lain. Karena para sahabat tidak menghendaki beliau gundah hanya karena paman beliau, mereka memutuskan untuk menjaga tawanan-tawanan itu lebih keras lagi dan melonggarkan ikatan semua tawanan (Zurqani, Jilid 3, hlm.279).
Bahkan dalam keadaan bahaya perang pun beliau sangat cermat dalam melaksanakan peraturan-peraturan dan kebiasaan-kebiasaan yang baku. Sekali peristiwa beliau mengirim serombongan sahabat pada sebuah ekspedisi penyelidikan. Mereka bertemu dengan beberapa orang musuh pada hari akhir bulan suci Rajab. Berpikir bahwa akan sangat berbahaya melepaskan mereka itu sehingga akan membawa berita ke Mekkah tentang rombongan penyelidik yang begitu dekat, musuh itu disergap oleh mereka dan dalam perkelahian itu seorang di antaranya terbunuh. Setelah rombongan penyelidik itu kembali ke Medinah, kaum Mekkah mengajukan protes bahwa penyelidik-penyelidik Muslim telah membunuh salah seorang dari orang-orang mereka. Orang-orang Mekkah sendiri sering melanggar bulan suci dalam menghadapi orang-orang muslim bila hal itu dipandang mereka itu baik, dan sebenarnya telah menjadi jawaban yang layak terhadap tuduhan mereka itu untuk mengatakan bahwa karena kaum Mekkah sendiri telah melanggar perjanjian tentang bulan suci maka mereka itu tidak berhak menuntut supaya dipatuhi oleh kaum muslimin. Tetapi, Rasulullah saw. tidak memberikan jawaban demikian. Beliau sangat menyesali anggota-anggota rombongan itu, menolak menerima harta rampasan perang dan menurut beberapa riwayat malah membayar uang darah untuk orang yang terbunuh itu, sehingga ayat 2:218 menjernihkan seluruh keadaan (Tabari dan Halbiyyah).
Orang-orang pada umumnya berhati-hati supaya jangan menyakiti perasaan sahabat-sahabat mereka dan sanak-saudara mereka, tapi Rasulullah saw. sangat memperhatikan asas itu malah terhadap orang-orang yang memusuhi beliau sekalipun. Sekali peristiwa seorang-orang Yahudi datang kepada beliau dan menerangkan bahwa Abu Bakar telah melukai perasaannya dengan mengatakan bahwa Tuhan telah memberi kedudukan kepada Nabi Muhammad saw. lebih tinggi di atas Nabi Musa as. Rasulullah saw. memanggil Abu bakar dan menanyakan kepadanya, apa yang telah dikatakannya. Abu Bakar menerangkan bahwa orang Yahudi itu mulai lebih dahulu menyatakan bahwa ia bersumpah dengan nama Musa as. yang Tuhan, menurut kata orang itu, telah memuliakannya di atas seluruh umat manusia dan bahwa Abu Bakar menyambutnya dengan bersumpah atas nama Muhammad saw. yang Tuhan telah mengangkatnya di atas Nabi Musa as. Rasulullah saw. bersabda, “Anda seharusnya tidak mengatakan itu, karena perasaan orang-orang lain harus diperhatikan juga. Siapa pun tidak boleh mengangkatku di atas Nabi Musa as.” (Bukhari, Kitab al-Tauhid). Hal itu tidak berarti bahwa Rasulullah saw. menurut kenyataannya tidak mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada Nabi Musa as. tetapi menyatakan hal itu kepada orang Yahudi mudah menyakiti perasaannya dan hal itu harus dihindarkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar