Ketika wafat beliau telah mendekat dan beliau dalam puncak penderitaan, merintih-rintih, anak beliau Fatimah, menjerit karena tidak tahan melihat ayahanda dalam keadaan demikian. Beliau bersabda, “Bersabarlah, ayahmu tidak akan menderita lagi sesudah hari ini,” artinya, segala kesusahan hanya terbatas sampai di dunia ini dan dari saat beliau bebas dari kehidupan ini dan sampai di hadirat Al-Khalik, beliau tidak akan lagi menderita. Pada waktu wabah tengah berkecamuk, beliau tidak membenarkan orang-orang meninggalkan kota yang sedang dijangkiti, lalu masuk ke kota lain, sebab hal demikian akan memperluas daerah penularan wabah. Beliau biasa mengatakan bahwa pada waktu wabah berkecamuk, jika seseorang tinggal tetap di dalam kotanya sendiri dan mencegah penularan ke daerah yang belum terjangkiti lalu ia mati karena wabah itu, ia akan dimasukkan ke dalam golongan syuhada (Bukhari, Kitab-al Tibb).
Senin, 26 Desember 2016
Kesabaran Rasulullah saw
Hadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:
Rasulullah saw. biasa bersabda, “Untuk seorang Muslim, kehidupan ini sarat dengan kebaikan dan tidak ada orang lain kecuali orang beriman merasakan dirinya dalam keadaan ini sebab jika ia berjumpa dengan kesenangan, ia bersyukur kepada Tuhan dan menjadi orang yang menerima lebih banyak rahmat dan berkat dari Dia. Sebaliknya, jika ia menderita kesusahan atau kemalangan, dipikulnya penderitaan dengan sabar dan dengan demikian, lagi-lagi ia menjadi orang yang meraih rahmat dan berkat Ilahi.”
Ketika wafat beliau telah mendekat dan beliau dalam puncak penderitaan, merintih-rintih, anak beliau Fatimah, menjerit karena tidak tahan melihat ayahanda dalam keadaan demikian. Beliau bersabda, “Bersabarlah, ayahmu tidak akan menderita lagi sesudah hari ini,” artinya, segala kesusahan hanya terbatas sampai di dunia ini dan dari saat beliau bebas dari kehidupan ini dan sampai di hadirat Al-Khalik, beliau tidak akan lagi menderita. Pada waktu wabah tengah berkecamuk, beliau tidak membenarkan orang-orang meninggalkan kota yang sedang dijangkiti, lalu masuk ke kota lain, sebab hal demikian akan memperluas daerah penularan wabah. Beliau biasa mengatakan bahwa pada waktu wabah berkecamuk, jika seseorang tinggal tetap di dalam kotanya sendiri dan mencegah penularan ke daerah yang belum terjangkiti lalu ia mati karena wabah itu, ia akan dimasukkan ke dalam golongan syuhada (Bukhari, Kitab-al Tibb).
Ketika wafat beliau telah mendekat dan beliau dalam puncak penderitaan, merintih-rintih, anak beliau Fatimah, menjerit karena tidak tahan melihat ayahanda dalam keadaan demikian. Beliau bersabda, “Bersabarlah, ayahmu tidak akan menderita lagi sesudah hari ini,” artinya, segala kesusahan hanya terbatas sampai di dunia ini dan dari saat beliau bebas dari kehidupan ini dan sampai di hadirat Al-Khalik, beliau tidak akan lagi menderita. Pada waktu wabah tengah berkecamuk, beliau tidak membenarkan orang-orang meninggalkan kota yang sedang dijangkiti, lalu masuk ke kota lain, sebab hal demikian akan memperluas daerah penularan wabah. Beliau biasa mengatakan bahwa pada waktu wabah berkecamuk, jika seseorang tinggal tetap di dalam kotanya sendiri dan mencegah penularan ke daerah yang belum terjangkiti lalu ia mati karena wabah itu, ia akan dimasukkan ke dalam golongan syuhada (Bukhari, Kitab-al Tibb).
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar