Musuh Kental Menjadi Pengikut Yang Mukhlis
Perang Hunain senantiasa mengingatkan para sejarahwan kepada suatu peristiwa lain yang sangat menarik, terjadi saat pertempuran sedang berkecamuk. Syaiba, seorang penduduk Mekkah dan pengurus Ka’bah, ikut dalam pertempuran di pihak musuh. Ia mengatakan bahwa ia hanya mempunyai satu tujuan dalam pertempuran itu, ialah, saat nanti kedua pasukan bertemu, ia akan mencari kesempatan membunuh Rasulullah saw. Ia bertekad bulat bahwa seandainya seluruh dunia pun menjadi pengikut Rasulullah saw. (jangan dikata seluruh Arabia), ia akan tetap ada di luar Islam dan terus menentangnya. Ketika pertempuran bertambah sengit, Syaiba menghunus pedangnya dan mulai bergerak ke arah Rasulullah saw. Ketika ia tiba sangat dekat, keberaniannya hilang sirna. Tekadnya mulai goyah. “Ketika aku sangat dekat kepada Rasulullah,” kata Syaiba, “aku seperti melihat nyala api mengancam akan membakarku. Kemudian kudengar suara Rasulullah saw. bersabda, “Syaiba, kemari datang kedekatku.” Ketika aku telah mendekat, Rasulullah saw. mengusap-usapkan tangannya pada dadaku dengan sangat kasih sayang. Sambil berbuat demikian, beliau bersabda, “Ya Tuhan, lepaskan Syaiba dari pikiran-pikiran setannya.” Dengan secercah sentuhan cinta itu Syaiba berubah. Rasa permusuhannya menguap, dan dari saat itu Syaiba memandang Rasulullah saw. lebih berharga dari apa pun di dunia ini. Setelah Syaiba berubah, Rasulullah saw. mengajak tampil dan ikut berperang.
“Pada saat itu,” kata Syaiba, “aku hanya mempunyai satu niat, ialah mati untuk membela Rasulullah saw. Malah, andaikata ayahku sendiri merintangi, aku tidak akan ragu-ragu sejenak pun untuk menusukkan pedangku ke dalam dadanya.”(Halbiyya).
Rasulullah saw. kemudian berderap maju manuju Taif, kota yang pernah melempari beliau dengan batu dan mengusir beliau. Rasulullah saw. mengepung kota itu, tetapi kemudian menerima saran beberapa kawan untuk menghentikan pengepungan itu. Kemudian, kaum Taif dengan suka rela masuk Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar