tag:blogger.com,1999:blog-59362876976249275762017-10-23T13:54:32.917-07:00Dai IlallahMenebar seruan ke arah IlahiIsa Mujahid Islamnoreply@blogger.comBlogger103125tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-29535346820872838562016-12-27T02:56:00.001-08:002016-12-27T19:47:58.020-08:00Mutlak Harus Mengimani Masih Mau'ud a.s.Sesudah shalat Jum'ah, beberapa orang ghair Ahmadi bertanya kepada Hadhrat Masih Mau'ud a.s.:<br /><blockquote class="tr_bq">"Kami mengimani Allah, Kitab-Nya Quran Syarif, dan rasul-Nya Muhammad Mushthafa saw. dengan setulus hati. Dan kami juga mengerjakan shalat, puasa dan sebagainya. Lalu, apa perlunya kami beriman kepada Tuan?" </blockquote><br />Hadhrat Masih Mau'ud a.s. bersabda:<br /><br />“Lihat, seorang yang menyatakan beriman pada Allah dan Rasul-Nya serta kepada Kitab-Nya, lalu dia tidak mengamalkan rincian perintah-perintah­-Nya -- seperti shalat, puasa, haji, zakat, takwa, thaharat (kesucian) -- dan dia meninggalkan perintah-perintah yang telah diturunkan mengenai tazkiyyah nafs (pensucian jiwa), meninggalkan keburukan, mengerjakan kebaikan, maka orang itu tidak berhak disebut Muslim, dan tidak dapat dikatakan bahwa dirinya telah dihiasi oleh perhiasan-perhiasan iman. <br /><br />Demikian pula seseorang yang tidak mempercayai<a href="http://www.dai.web.id/2016/12/hadits-tentang-isa-ibnu-maryam-yang-dijanjikan.html" target="_blank"> Masih Mau'ud</a> (<a href="http://www.dai.web.id/2016/12/hadits-tentang-isa-ibnu-maryam-yang-dijanjikan.html" target="_blank">Masih yang dijanjikan</a>), atau menganggap tidak perlu untuk mengimaninya, berarti dia sama-sekali tidak tahu-menahu tentang hakikat Islam, tujuan kenabian serta tujuan kerasulan. Dan dia tidak berhak untuk disebut sebagai orang Islam sejati serta sebagai pengikut sejati Allah dan Rasul-Nya. Sebab sebagaimana Allah Ta’ala melalui Rasulullah saw. telah memberikan perintah-perintah di dalam Quran Syarif, demikian pula Dia dengan sangat jelas telah mengabarkan tentang kedatangan seorang khalifah terakhir di akhir zaman. Dan Dia telah menamakan orang yang tidak mempercayai [khalifah] itu serta yang berpaling darinya sebagai orang fasiq (durhaka).<br /><br />Perbedaan pada kata-kata yang terdapat di dalam Quran dan Hadits -- [sebenarnya bukan perbedaan, tetapi merupakan penjelasan atau tafsir kata-kata yang digunakan Al-Quran] -- hanyalah bahwa di dalam Quran Syarif yang digunakan adalah kata <a href="http://www.dai.web.id/2016/12/mutlak-harus-mengimani-masih-mauud-as.html#ayat1">khalifah</a>&nbsp;(<i><a href="http://www.dai.web.id/2016/12/mutlak-harus-mengimani-masih-mauud-as.html#ayat1" target="_blank">lihat ayat Alqurannya</a></i>), sedangkan di dalam hadits&nbsp;<a href="http://www.dai.web.id/2016/12/mutlak-harus-mengimani-masih-mauud-as.html#ayat1">khalifah</a>&nbsp;terakhir itu dinyatakan dengan nama <a href="http://www.dai.web.id/2016/12/hadits-tentang-isa-ibnu-maryam-yang-dijanjikan.html" target="_blank">Masih Mau'ud</a> (<a href="http://www.dai.web.id/2016/12/hadits-tentang-isa-ibnu-maryam-yang-dijanjikan.html" target="_blank">Masih yang dijanjikan</a>). <br /><br />Jadi, seseorang yang mengenainya Quran Syarif telah menyatakan janji pengutusannya, dan dengan demikian Quran telah memberikan keagungan atas pengutusan orang itu, maka bagaimana mungkin orang-orang yang mengatakan bahwa mereka tidak perlu mengimaninya dapat dianggap sebagai orang Muslim?<br /><br />Allah Ta’ala telah memberlakukan kedatangan para&nbsp;<a href="http://www.dai.web.id/2016/12/mutlak-harus-mengimani-masih-mauud-as.html#ayat1">khalifah</a>&nbsp;hingga kiamat, dan ini merupakan kemuliaan serta keistimewaan pada Islam, bahwa untuk mendukungnya dan untuk mengadakan pembaharuan di dalamnya, setiap abad selalu datang&nbsp;<a href="http://www.dai.web.id/2016/12/mutlak-harus-mengimani-masih-mauud-as.html#hadits1" target="_blank">mujaddid (pembaharu [<i>lihat Haditsnya</i>])</a> dan akan selalu datang. <br /><br />Lihat, Allah Ta’ala telah memberikan persamaan kepada Rasulullah saw. dengan Hadhrat Musa a.s., yaitu yang terbukti dari kata <i>kamaa</i> (sebagaimana). Khalifah terakhir dalam syariat Musawi adalah Hadhrat Isa, sebagaimana Isa sendiri mengatakan bahwa beliau adalah batu-bata terakhir [dalam dinding syariat Musawi], demikian pula di dalam syariat Muhammadi juga telah datang dan akan selalu datang para khalifah untuk melakukan pengkhidmatan dan untuk mengadakan pembaharuan di dalamnya.<br /><br />Dengan demikian berdasarkan kesamaannya dan berdasarkan tugas­-tugas pengkhidmatan yang diserahkan kepadanya maka khalifah terakhir ini telah dinamakan&nbsp;<a href="http://www.dai.web.id/2016/12/hadits-tentang-isa-ibnu-maryam-yang-dijanjikan.html" target="_blank">Masih Mau'ud</a>&nbsp;(<a href="http://www.dai.web.id/2016/12/hadits-tentang-isa-ibnu-maryam-yang-dijanjikan.html" target="_blank">Masih yang dijanjikan</a>). Dan tidak hanya itu -- bahwa uraian mengenainya biasa-biasa saja -- melainkan tanda-tanda kedatangannya secara rinci telah dipaparkan di dalam kitab-kitab Samawi. Di dalam Bibel, di dalam Injil, di dalam Hadits-hadits, dan di dalam Quran Syarif sendiri telah dipaparkan mengenai tanda-tanda kedatangannya. Dan seluruh umat – Yahudi, Nasrani, dan Islam – secara sepakat mempercayai dan menanti kedatangannya. Bagaimana mungkin pengingkaran terhadap hal itu dapat dikatakan Islam?<br /><br />Kemudian, tatkala orang itu adalah seseorang yang untuknya Allah Ta’ala pun telah menzahirkan tanda di langit; di bumi juga telah Dia perlihatkan mukjizat-mukjizat, dan untuk mendukungnya pun telah datang wabah pes, gerhana bulan dan matahari telah terjadi tepat pada waktunya sesuai kabar gaib, maka apakah seseorang yang untuk mendukungnya langit telah memperlihatkan tanda dan bumi juga telah menyatakan bahwa itulah saatnya, dapat dianggap sebagai orang yang biasa-biasa saja, sehingga sama saja bila mengimaninya atau tidak mengimaninya? Dan bahwa tanpa mengimaninya pun seseorang itu akan tetap menjadi Muslim serta menjadi hamba kesayangan Allah? Sama-sekali tidak.<br /><br />Ingatlah, segenap tanda kedatangan tokoh yang dijanjikan ini sudah terpenuhi. Berbagai macam keburukan telah mengotori dunia ini. Para ulama Islam sendiri dan kebanyakan para waliullah telah menuliskan bahwa inilah zaman bagi kedatangan Masih Mau'ud, yakni di abad keempat-belas inilah ia akan datang. <br /><br />Di dalam Hijajul Kiramah juga tertulis mengenai abad keempat-belas ini, dan tidak ada satu pun yang mengisyaratkan lebih dari abad ini. Di abad ketiga-belas, hewan-hewan pun sampai memohon perlindungan, dan tertulis bahwa abad keempat-belas merupakan abad yang beberkat. Dengan adanya kesaksian-kesaksian yang disepakati semua ini -- yaitu yang telah dituliskan oleh para waliullah dan kebanyakan ulama -- maka jika ada yang ragu dia hendaknya menelaah Quran Syarif dan memperhatikan Surah An-­Nuur. <br /><br />Lihat, sebagaimana 1400 tahun setelah Hadhrat Musa a.s. telah datang Hadhrat Isa a.s., seperti itu pulalah pada abad keempat-belas sesudah Rasulullah saw. telah datang Masih Mau'ud. Dan sebagaimana Hadhrat Isa a.s. merupakan Khaatamul Khulafa dalam Silsilah Musawi, demikian pula Masih Mau'ud merupakan Khaatamul Khulafa pada Silsilah [Muhammadi] ini.<br /><br />Islam pada saat ini bagai seorang yang jatuh sakit dan hidupnya sudah hampir berakhir. Kezaliman (keaniayaan) telah dilakukan terhadap Islam, dan dari keempat penjuru dengan persenjataan penuh siap siaga untuk menghancurkan Islam, para musuh dengan sangat kejam melakukan serangan kepada Islam. Islam saat ini sudah mati. Islam sudah sekarat akibat serangan-serangan dari dalam maupun dari luar. Sekarang adalah saat akhir bagi pelita Islam, dan lehernya telah disembelih dengan sangat kejam. <br /><br />Untuk waktu kapan Allah Ta’ala telah berjanji: "Inna nahnu nazzalnadz- dzikra wa innaa lahuu lahaafizhuun – (sesungguhnya Kami yang menurunkan Adz-­Dzikr/Alquran ini dan sesungguhnya Kami yang melindunginya - Al­-Hijr, 10)? Apakah masih ada suatu bencana lain yang tertinggal yang masih akan menimpa Islam?<br /><br />Ingatlah, yang dimaksud dengan perlindungan di sini bukan saja perlindungan terhadap lembaran‑lembaran [Al-Quran], melainkan penjelasannya terdapat di dalam sebuah hadits, yakni di situ Rasulullah saw. bersabda, bahwa akan datang suatu zaman ketika Quran Syarif akan lenyap diangkat dari dunia ini. <br /><br />Seorang sahabi r.a. mengatakan: "Orang-orang tentu akan (masih) membaca Al-Quran, lalu bagaimana mungkin akan lenyap?" Beliau saw. bersabda: "Saya tadinya menganggap engkau sebagai orang yang pandai, namun engkau sangat bodoh. Tidakkah orang-orang Kristen membaca Injil? Tidakkah orang-orang Yahudi membaca Taurat? Yang dimaksud dengan lenyapnya Quran Syarif adalah lenyapnya ilmu Quran Syarif dan petunjuk akan hilang dari dunia ini. Orang-orang akan jadi buta terhadap cahaya-cahaya dan rahasia-rahasia Al-Quran, dan tidak ada yang akan mengamalkannya. Jalan yang untuk mengajarkannya Al-Quran itu telah turun, jalan tersebut akan ditinggalkan oleh orang-orang, dan mereka akan mengikuti dorongan hawa nafsu mereka. <br /><br />Tatkala kondisinya sudah demikian maka akan datang seseorang dari keturunan Farsi, dan dia akan membawa kembali diin (agama/ruhani) itu seperti semula. Dia akan menghidupkan kembali diin serta Al-Quran. Keagungan Al-Quran yang telah hilang, dan petunjuk yang telah dilupakan serta iman yang telah terbang ke bintang Tsurayya, akan dia sebarkan kembali di dunia ini. Law kaanal- iimaana mu'allaqan 'indats- tsurayyaa lanaa lahuu rajulun- min haa­ulaa-i [ay abnaa faaris] -- “sekiranya iman akan melekat (terbang) ke bintang Tsurayya, seorang laki-laki dari antara orang-orang ini keturunan Farsi [akan membawanya kembali].<br /><br />Ringkasnya, dari Quran Syarif dan dari Hadits-hadits Nabawiyyah dengan jelas terbukti bahwa di dalam umat ini telah dijanjikan tentang kedatangan seorang khalifah di akhir zaman, dan tanda-tanda serta gejala­-gejala kedatangannya pun telah diberitahukan. Saya mendakwakan diri sebagai Masih Mau'ud. <br /><br />Sekarang, setiap orang yang mencintai Allah dan Rasul dan ingin menyelamatkan keimanannya adalah wajib baginya untuk memperhatikan hal ini dalam-dalam, yakni apakah pendakwaan saya ini benar atau tidak? Orang-orang yang datang dari Allah Ta’ala mereka disertai oleh tanda-tanda Ilahi. Sekedar pendakwaan lidah saja memang tidak patut untuk dituruti.<br /><br />Dari sekian banyak tanda yang tertera di dalam Kitab-kitab Allah dan rasul-Nya mengenai kedatangan saya adalah unta-unta tunggangan tidak akan digunakan lagi. Hal ini telah dipaparkan oleh Quran Syarif dengan kata-kata berikut, "Wa idzal-‘isyaaru 'uththilat (dan apabila unta-unta bunting ditinggalkan - At-Takwir, 5). Dan hal itu dipaparkan di dalam Radius Nabawi dengan kata-kata berikut: Wa laa yutrakunnal- qilaashu falaa yus'aa ‘alaihaa – (unta-unta bunting akan ditinggalkan dan tidak akan ada yang menungganginya)."<br /><br />Sekarang, orang yang berpikir hendaknya memperhatikan, bahwa hal­-hal yang telah muncul dari Allah dan telah keluar dari mulut Rasul-Nya 1300 tahun lalu, saat ini kata-kata itu telah sempurna dengan sangat agung dan mulia, sehingga menampakkan keperkasaan wujud-wujud yang mengatakannya. <br /><br />Lihat, betapa banyaknya sarana yang telah ditemukan (diciptakan) saat ini sebagai pemenuhan kabar gaib tersebut. Sampai-sampai dengan tersedianya jalur kereta api di Hijaz, maka orang-orang akan melakukan perjalanan ke Makkah Mu'azhzhamah dan Madinah Munawwarah bukannya dengan menunggangi unta, melainkan dengan mengunakan kereta api, dan unta-unta betina akan ditinggalkan.<br /><br />Selebihnya adalah, apa hubungan kabar-kabar gaib itu dengan kata Masih Mau'ud (Al-Masih yang dijanjikan)? Sebab di dalam Quran Syarif tidak ada disebutkan tentang nama Masih Mau'ud? Jadi, untuk itu hendaknya diingat bahwa saya mendakwakan diri sebagai Khaatamul- Khulafaa, sedangkan di dalam Quran Syarif terdapat janji tentang kedatangan Khatamul Khulafaa pada saat mendekatnya kiamat. <br /><br />Kemudian, kepada saya berkali-kali melalui ilham telah diberitahukan bahwa Allah Ta’ala telah menamakan saya sebagai Masih Mau'ud, yang mengenai kedatangannya telah dijanjikan di dalam hadits-hadits. Ingatlah, seseorang yang mencampakkan hadits-hadits seperti sampah belaka, dia sama-sekali tidak dapat dianggap Muslim, sebab banyak sekali bagian Islam yang tidak akan lengkap tanpa bantuan hadits-hadits. Orang yang mengatakan bahwa dia tidak membutuhkan hadits-hadits, dia sama­ sekali tidak dapat dianggap Muslim. Dia pasti suatu hari juga akan meninggalkan Al-Quran.<br /><br />Jadi, orang yang telah dinamakan Khaatamul Khulafaa di dalam Quran Syarif, orang itulah yang di dalam hadits-hadits telah dinamakan Masih Mau'ud, dan dengan demikian sekian banyak kabar gaib mengenai kedua nama itu, semuanya adalah mengenai diri saya. <br /><br />Khalifah adalah orang yang datang menyusul belakangan, dan yang kamil (sempurna) itu adalah datang paling belakangan. Dan jelaslah bahwa yang akan datang pada saat mendekati kiamat dia itulah yang paling belakang, oleh karena itu dia merupakan yang paling sempurna dan paling afdhal (utama). Perbedaannya hanya pada kata-kata saja, yakni Quran Syarif menyebutnya dengan kata khalifah, sedangkan di dalam hadits ia dinamakan Masih Mau'ud.<br /><br />Selanjutnya adalah, apa bukti [kebenaran] pendakwaan saya ini? Nah, hendaknya diingat, bukti kebenaran saya adalah sama seperti yang selalu dibawa oleh para nabi dan para rasul. Suatu bukti yang dipaparkan oleh seseorang mengenai kenabian Rasulullah saw., melalui dalil itu juga saya dapat memaparkan kebenaran pendakwaan saya. <br /><br />Orang-orang yang datang dari Allah Ta’ala, mereka hanya dapat dinyatakan benar melalui kesaksian Allah Ta’ala semata. Pendakwaan dapat saja dilakukan oleh orang yang benar maupun oleh orang yang berdusta. Dan dari segi jiwa pendakwaan keduanya bisa saja sama, namun antara keduanya pasti terdapat perbedaan.<br /><br />Baiklah, jika diumpamakan bahwa mengenai Masih Mau'ud tidak ada keterangan di dalam Al-Quran, dan di dalam Hadits pun tidak ditemukan, lalu apa jadinya? Tetap saja, seseorang yang benar itu dikenali melalui tanda­-tandanya. Lihat, apakah ada keterangan tentang Hadhrat Musa a.s. di dalam suatu kitab sebelumnya? Apa ada yang dapat mernberitahukan, di kitab mana terdapat kabar gaib mengenai kedatangan Hadhrat Musa as.? Lalu, bagaimana sampai Hadhrat Musa a.s. telah diimani? <br /><br />Ingatlah, kesaksian-­kesaksian yang baru dari Allah Ta’ala itu sendiri merupakan bukti kebenaran. Sekedar pendakwaan tanpa bukti, sama-sekali tidak dapat dijadikan dalil kebenaran. Seorang pendakwa palsu, Allah sendiri yang membinasakannya dan dia tidak diberi waktu penangguhan, sebab dia berdusta atas nama Allah dan ingin menimbulkan kekacauan antara haq (kebenaran) dan kebatilan (kedustaan).<br /><br />Saya tidak membawa perkara baru, dan tidak pula saya membawa syariat baru. Saya datang untuk mengkhidmati dan melakukan tajdid (pembaharuan) pada syariat yang dibawa oleh Rasulullah saw.. Sebagai bukti kebenaran pendakwaan saya terdapat tanda-tanda dalam tata-cara kenabian. Saya sudah menyinggung hal itu di dalam buku-buku saya. <br /><br />Baru-baru ini saya telah menulis sebuah buku baru, Haqiqatul Wahiy. Telaah dan simaklah buku itu, yakni betapa banyaknya Tanda yang telah diperlihatkan oleh Allah Ta’ala untuk mendukung saya. Apakah hal-hal semacam, itu juga diperlihatkan untuk seorang pendusta?<br /><br />Lihat, sebagian nabi telah diterima kebenarannya hanya berdasarkan satu mukjizat saja, namun di sini terdapat ribuan Tanda (mukjizat). Lalu, jika saya mendakwakan suatu agama baru, memaparkan suatu hukum baru dari diri saya sendiri yang bertentangan dengan Kitab Allah, mengubah-ubah Sunnah Rasul saw., atau saya mengaku memansukhkannya (menghapuskannya), saya mengubah-ubah shalat, puasa, dan haji, maka wajarlah jika timbul kebimbangan dan keraguan semacam ini. <br /><br />Namun saya justru mengatakan bahwa kafirlah orang yang sedikit saja mengubah-ubah syariat Rasulullah saw.. Tatkala menurut saya orang yang ingkar mengikuti Rasulullah saw. saja adalah kafir, maka bagaimana kedudukan orang yang mengaku membawa syariat baru? Atau, yang mengubah-ubah Al-Quran dan Sunnah Rasul saw.? Atau, yang memansukhkan (menghapuskan) suatu hukum?<br /><br />Menurut saya, orang Mukmin adalah yang mengikuti Quran Syarif secara benar, serta yang meyakini bahwa Quran Syarif-lah Khaatimul Kutub, dan yang mempercayai bahwa syariat yang dibawa oleh Rasulullah saw. ke dunia inilah yang merupakan syariat yang berlaku untuk selamanya, yang sedikit pun tidak mengadakan perubahan di dalamnya, dan yang fana (larut) dalam mengikutinya, lalu melenyapkan dirinya sendiri, dan yang mengerahkan setiap partikel wujudnya di jalan itu, serta yang secara amalan tidak menentang syariat itu. Nah, barulah dia merupakan Muslim sejati.<br /><br />Ada pun Kalaam Ilahi yang turun kepada saya, jangan dianggap bahwa saya telah mendakwakan suatu kenabian tasyri' (syariat) dan kenabian baru, melainkan karena mengalami mukaalamah mukhaatabah (percakapan) yang sangat banyak -- secara kuantitas maupun kualitas -- sebab itu dikatakan (disebut) nabi. <br /><br />Sekarang, di dalam majlis ini, jika ada yang tahu bahasa Ibrani atau Arab, dapat mengetahui bahwa kata nabi itu muncul dari nabaa-a, dan nabaa-a itu artinya mengabarkan, sedangkan nabi adalah yang memberi kabar. Yakni dia memperoleh suatu kalaam (firman) dari Allah Ta’ala, lalu memberitahukan kepada manusia nubuatan-nubuatan kuat yang mencakup hal-hal gaib. Berdasarkan istilah Islam dia disebut nabi. Di dalam Quran Syarif dikatakan: "Anbi-unii bi asmaa-i haa­ulaa-i – (beritahukanlah kepada-Ku nama-nama mereka itu" - Al‑Baqarah, 32).<br /><br />Para penentang saya, jika tidak meninggalkan ketakwaan dan kesucian, serta tidak dengki dan bersikap memusuhi tentu semuanya mengetahui, bahwa para tokoh suci terdahulu dan para waliullah dengan jelas menuliskan bahwa: "Wallaahu bi-awliya-ihii mukaalimaatun wa mukhaathibaatun (dan Allah itu bercakap-cakap dengan wali-wali-Nya)." <br /><br />Di dunia ini tidak hanya ratusan, bahkan terdapat ribuan dan jutaan orang yang memperoleh mimpi-mimpi benar. Bahkan mimpi benar itu kadang-kadang juga dialami oleh orang baik dan orang yang tidak baik, serta orang Muslim dan orang kafir, tanpa beda. Kadang-kadang para perempuan pezina dan laki-laki pelaku zina, serta para pencuri dan perampok pun mengalami mimpi benar. Lalu, mengapa keberadaan mimpi benar atau kasyaf-kasyaf serta ilham-ilham bagi orang Mukmin – yang lebih banyak berhak atas hal itu karena iman mereka yang benar – tidak dipercayai? Justru hal-hal itu dapat dialami oleh orang Mukmin dalam jumlah yang sangat banyak.<br /><br />Dari hal itu jangan pula beranggapan bahwa dengan demikian terjadi pengurangan nilai (kadar) pada rukya, kasyaf, dan ilham-ilham para utusan, para nabi dan para rasul. Atau, terjadi pengurangan nilai kemuliaan pada diri mereka. Tidak. Justru hal-hal ini merupakan tashdiq (pembenaran) terhadap mukaalamaat mukhaathabaat (wawancakap) Allah Ta’ala yang telah diangerahkan kepada para nabi dan rasul-Nya. Dan itu merupakan dalil kuat yang membuktikan kebenaran mereka. Sebab jika benihnya itu memang tidak ditemukan di kalangan orang-orang [awam] itu, maka sangat mungkin bahwa orang-orang yang fasiq (durhaka), penjahat dan yang tak beragama itu akan mengingkari keberadaan wahyu serta ilham, sehingga kemudian keberatan (kritik/celaan) mereka pun menjadi kuat. <br /><br />Oleh karena itulah, melalui hikmah-Nya yang kamil (sempurna) Allah Ta’ala sendiri telah menciptakan suatu keahlian (kemampuan ?) pada setiap lapisan orang sebagai penyemaian benih bagi mukaalamaat mukhaathabaat (wawancakap) dan wahyu nubuwwat para nabi serta para wali, sehingga tidak ada lagi jalan pelarian yang tersisa bagi manusia untuk mengingkari, dan [manusia] akan dikecam dari dalam dirinya sendiri.<br /><br />Merupakan suatu kaidah, jika kepada manusia tidak diberikan contoh suatu barang, maka dia akan ragu terhadap barang itu. Hal ini hanya terdapat di dalam Islam semata, dan ini merupakan dalil paling tinggi tentang kebenaran agama, yang tidak ditemukan pada agama lainnya. Hanya Islam sajalah suatu agama yang diridhai (disukai) oleh Allah dan yang dekat serta diterima [di sisi] Allah Ta’ala. Untuk itu semata-mata dengan kasih-sayang-Nya, Dia telah menganugerahkan di dalam Islam karunia-karunia paling sempurna yang selalu berkesinambungan berupa untaian mukaalamaat dan mukhaatabaat (wawancakap Ilahiyah) untuk menghindarkan orang-orang Islam dari ketergelinciran dan keraguan.<br /><br />Di dalam hati orang-orang sering timbul pemikiran-pemikiran bahwa, "Aku juga seorang manusia, dan si pendakwa ilham ini pun seorang manusia seperti aku juga. Maka spa sebabnya kepadaku tidak terjadi ilham dan mukaalamah Ilahiah, sedangkan kepadanya hal itu terjadi?" Untuk itulah, guna menghilangkan keraguan-keraguan semacam itu, Allah Ta’ala sebagai contoh telah memberikan suatu percikan cahaya dari karunia tersebut di dalam diri setiap manusia. <br /><br />Lihatlah, seperti halnya uang satu sen merupakan dalil (bukti) tentang adanya uang seratus atau dua ratus ribu, dan satu rupee merupakan dalil tentang adanya satu atau dua juta rupees dan khazanah-khazanah [lainnya]. Demikian pula sebuah mimpi benar merupakan dalil (bukti) yang shahih akan keberadaan ilham. <br /><br />Mimpi benar telah ditanamkan di dalam fitrat manusia sebagai contoh, supaya dari titik itu keberadaan karunia-karunia yang sangat sempurna tersebut dapat diyakini. Ketika suatu mimpi dimungkinkan bagi manusia biasa dan berderajat rendah, maka apa pula sebabnya sehingga di kalangan manusia suci yang sempurna dan berderajat tinggi tidak ada jenis tertinggi dari mimpi itu, yakni yang dinamakan ilham? Sebab mimpi benar pun merupakan suatu bagian terendah dari ciri-ciri kesempurnaan suatu kenabian (nubuwwat).<br /><br />Ingatlah, rangkaian mukaalamah mukhaatabah merupakan ruh Islam. Jika tidak, seandainya kemuliaan ini tidak dimiliki oleh Islam maka pasti Islam juga akan menjadi sebuah agama mati seperti agama-agama lainnya. Pahamilah hal ini benar-benar, jika Islam hampa dari karunia Ilahi dan berkat ini, maka pasti dalam Islam juga tidak akan ada faktor yang membuktikan keunggulannya.<br /><br />Ini merupakan fadhl (karunia) khusus Allah Ta’ala, bahwa contoh hidup semacam itu selalu Dia utus di penghujung setiap abad di dalam Islam, dan dengan demikian untuk selamanya Dia terus menerus membuktikan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang hidup.<br /><br />Pada suatu waktu Islam pernah menjadi suatu agama yang apabila satu orang saja murtad maka terjadi kiamat. Namun sekarang Islam itu juga ada, tatkala jutaan orang murtad darinya dan menjadi tidak beragama. Melalui serangan-serangan para musuh dari dalam maupun dari luar telah dilakukan upaya-upaya untuk menghancurkan Islam. Dan Islam telah dihinakan, Islam telah diinjak-injak di bawah telapak kaki. Orang-orang Islam sendiri yang mengaku Islam (Muslim) ternyata tidak tahu menahu sedikit pun mengenai hakikat diin (agama/ruhani), sehingga dengan demikian terbukti bahwa mereka adalah musuh diin.<br /><br />Sekarang, katakanlah, kesesatan apa lagi yang masih tersisa, yaitu kesesatan yang masih dinanti-nanti sampai sekarang? Simaklah buku-buku Pendeta Pander di kalangan orang Kristen. Dia menuliskan bahwa tidak ada satu pun nubuatan kabar-gaib) di dalam Islam yang telah terbukti sempurna. Nubuatan tentang penaklukan Roma pun dia katakan sebagai khayalan dan impian kosong. Yakni — na'udzubillaah — Rasulullah saw. hanya menebak-nebak saja hal itu dari perkembangan peristiwa yang berlangsung saat itu, sehingga dengan demikian beliau telah menubuatkannya.<br /><br />Selain itu terdapat ratusan ribu buku dan majalah lainnya yang telah ditulis untuk menentang Islam. Seorang Muslim tidak sanggup berdiri di hadapan seorang Kristen, dan tidak ada seorang pun yang dapat memberikan jawaban telak membungkam kepada para musuh Islam. <br /><br />Jika Islam dan kehidupan Islam hanya bertumpu pada kisah-kisah kuno belaka, maka ingatlah bahwa Islam hari ini tidak akan ada dan besok pun tidak akan ada. Ingatlah bahwa sebagaimana sejak permulaan Allah Ta’ala telah mendukung Islam dan selalu mendukungnya, demikian pula pada saat ini pun Dia dapat memperlihatkan Tanda-tanda baru dalam mendukung Islam. Dan bagi setiap orang Mukmin -- dengan syarat bahwa dia sungguh seorang Mukmin — Dia dapat memberikan furqaan (pembeda). <br /><br />Namun orang-orang yang menamakan diri mereka mullah dan pendukung agama kokoh [Islam] ini, mereka sendiri di mimbar dan dengan suara keras mengatakan bahwa sekarang di dalam Islam tidak ada orang yang dapat memperlihatkan Tanda (mukjizat).<br /><br />Demikianllah, Maulvi Muhammad Hussein sendiri di dalam acara pertemuan Dharm Mahutsu, di mana orang­-orang dari segala agama berkumpul, mengakui bahwa disayangkan pada zaman sekarang ini di dalam Islam tidak ada orang yang mampu memperlihatkan Tanda. Seakan-akan ia mengikrarkan sendiri, bahwa agama kita pun adalah sebuah agama mati seperti agama-agama lainnya, dari tanda-tanda kehidupan sekarang sudah tidak ada lagi di dalamnya.<br /><br />Sekarang renungkanlah, apakah kehormatan Islam terletak pada hal-hal itu? Tidak! Bahkan kehinaan apa lagi yang lebih buruk ini, yakni bahwa Islam itu kosong dari orang-orang yang dengannya Allah Ta’ala melakukan mukallamah dan mukhaathabah? Kosong dari orang-orang yang sebagai bukti kebenaran mereka terdapat Tanda-tanda kokoh yang mencakup gaib yang menyertai mereka?<br /><br />Ingat, seandainya -- mudah-­mudahan Allah Ta’ala tidak menjadikannya demikian – tiba suatu zaman dimana berkat-berkat tersebut tidak ada lagi di dalam Islam, maka yakinilah bahwa Islam juga telah mati seperti agama-agama lainnya, sebab tanda-tanda kehidupan yang dahulunya ada ternyata kini sudah tidak ada lagi, maka bagaimana mungkin ia dapat dikatakan hidup? <br /><br />Lihat, orang Brahmu juga mengakui Laa ilaaha illallaah. Jika mereka bertanya kepada kalian: "Apa kekuatan dan kekhususan yang kalian peroleh dengan melebihkan Muhammad Rasulullah?" Nah, katakan, apa jawaban yang akan kalian berikan? Umat Islam hendaknya memegang suatu yang kokoh sedemikian rupa serta menampakkan suatu dasar sedemikian rupa, sehingga dapat mengalahkan pihak lain.<br /><br />Baiklah, jika demikian halnya maka katakanlah, apa perbedaan antara kalian dengan orang-orang lain [di luar Islam]? Sedangkan orang-orang Brahmu juga mengakui Tauhid. Orang Kristen juga memiliki pemikiran-pemikiran Tauhid. Orang Ariya juga. menjadi pendukung Tauhid. Yahudi juga pendukung Tauhid.<br /><br />Saya menulis sepucuk surat kepada seorang ulama Yahudi [menanyakan]: "Apa akidah kalian tentang Tauhid?" Sebagai jawabannya dia menuliskan, "Ajaran kami adalah Tauhid. Tuhan kami adalah sama dengan Tuhan Al-Quran." Sekarang, yang perlu dipahami dan dicermati adalah, tatkala orang-orang ini juga mendakwakan Tauhid maka apa keistimewaan umat Islam?<br /><br />Sekarang yang tinggal adalah tukar-pendapat dan perdebatan-­perdebatan mendalam. Itu adalah hal-hal yang bersifat menyembelih, sebab melalui perdebatan tidak ada satu pun yang percaya. Lihat, terjadi perlawanan Lekhram dengan saya. Dia memberikan kabar-gaib untuk saya, yakni dalam tiga tahun saya akan mati. <br /><br />Saya menerima kabar dari Allah lalu memberikan kabar ­gaib mengenai dirinya bahwa dalam tempo enam tahun dia akan mati melalui pembunuhan. Buka dan simaklah buku Lekhram, Khabath Ahmadiyyah (Kegilaan Ahmad). Bagaimana dia dengan menangis-nangis telah memohon dengan penghambaan penuh di hadapan Parmesyer (Tuhan), serta telah meminta keputusan dari Allah Ta’ala berupa dukungan dan pertolongan bagi pihak yang benar, sedangkan bagi pihak pendusta berupa kebinasaan dan kehancuran. Yakni, supaya timbul perbedaan antara yang benar dengan yang batil. Dan supaya terbukti bagi dunia bahwa di antara agama Ariya dan agama Islam, jalan mana yang paling dicintai dan disukai oleh Allah, dan mana yang ditolak. <br /><br />Akhirnya, keputusan yang telah timbul itu diketahui oleh dunia, yakni pihak mana yang telah didukung oleh Allah Ta’ala, dan pihak mana yang telah mati dalam kegagalan, dan dengan demikian untuk selamanya telah terbukti dengan jelas mana yang benar dan mana yang dusta antara Islam dan agama Ariya.<br /><br />Inilah Tanda-tanda Ilahi, dan inilah yang dinamakan sebagai furqaan (pembeda). Apalah yang didapat melalui perdebatan­-perdebatan dangkal? Cobalah, apakah pernah ada yang melihat bahwa di dalam perdebatan ada yang mengakui kekalahan? Di satu sisi ambillah buku Khabath Ahmadiyyah, dan di sisi lain ambillah buku-buku saya yang di dalamnya tertera nubuatan-nubuatan dengan panjang-lebar, kemudian bandingkanlah, mana yang merupakan Kalaam Allah dan mana yang merupakan kalaam setan? <br /><br />Jika perkataan saya tidak berasal dari Allah dan bukan atas perintah Allah, maka apakah tidak mungkin bahwa sayalah yang akan mati, sedangkan dia (Lekhrarn) akan tetap hidup? Sebab sarana-sarana zahir menuntut demikian. Umur saya lebih tua dibandingkan dengannya, memudian saya juga menderita sakit, namun sebaliknya dia sehat dan kuat.<br /><br />Tidak hanya dia (Lekhram), bahkan selainnya pun siapa-siapa saja yang telah melakukan mubahalah telah mengalami kehinaan, telah mengalami kebinasaan. Ghulam Dastagir Qashuri. Muhyiddiin Lakhoke Waalaa. Orang­-orang ini telah melakukan mubahalah, dan mereka sendiri yang telah binasa, lalu untuk selamanya telah menjadi cap (stempel) kebenaran bagi diri saya­.<br /><br />Maulwi Charagh Diin Jammu Waalaa telah menubuatkan tentang diri saya bahwa saya akan mati akibat wabah pes, dan dia telah melakukan mubahalah. Namun lihatlah, ternyata dia sendiri yang telah mati akibat pes. <br /><br />Ada satu orang lagi bernama Faqir Mirza. Dia juga telah mengumumkan bahwa, "Mirza (Hadhrat Masih Mau'ud a.s. – pent.) akan mati di bulan Ramadhan, dan saya telah memperoleh kabar itu dari ‘Arasy." Akhirnya, ketika tiba bulan Ramadhan teryata dia sendiri yang mati. Babu Ilahi Bakhs Sahib juga telah menubuatkan di dalam bukunya mengenai saya bahwa saya akan mati akibat pes, namun kalian mengetahui bagaimana dia telah mati.<br /><br />Sekarang katakanlah, mukjizat­-mukjizat itu memiliki tanduk di kepalanya. [Alexander] Dowie yang tinggal di seberang lautan, ketika dia tampil untuk melawan saya, dan saya memperoleh kabar dari Allah lalu menubuatkan tentang kebinasaan yang penuh penyesalan (kehinaan) baginya, maka dengan cepat mulai timbul tanda-tanda kekalahan pada dirinya, dan akhirnya dengan penuh kegagalan (kehinaan) dia terserang lumpuh, lalu mati setelah menyaksikan berbagai macam kedukaan dan kehinaan. <br /><br />Ringkasnya, jika sebuah buku berisikan Tanda-tanda (mukjizat) ini ditulis maka pasti akan jadi sebuah buku yang terdiri dari 25 juz. Lihat, Abdullah Atham itu dimana sekarang?<br /><br />Orang-orang mengatakan, "Perlihatkan suatu mukjizat baru untuk kami!”. Apakah Tanda-tanda Ilahi sudah menjadi basi, dan telah menjadi sampah, sehingga Tanda-tanda itu ditolak? Dan mereka menuntut Tanda-tanda yang sesuai dengan keinginan mereka. Allah Ta’ala itu tidak ingin berjalan (bertindak) di bawah siapa pun, yakni mengikuti kehendak seseorang. Dia sedang memperlihatkan Tanda, tetapi dia perlihatkan sesuai dengan kehendak‑Nya. Apakah mereka belum puas, sehingga mereka masih menuntut [Tanda-tanda] yang lain?<br /><br />Ringkasnya, di dalam Quran Syarif, tokoh mau'ud (yang dijanjikan) di akhir zaman itu dinamakan khalifah. Dan di dalam hadits-hadits Nabawiyyah ia dinamakan Masih Mau 'ud. Demikianlah Allah Taala juga telah memberikan dua nama kepada saya, yang telah dicetak di dalam buku saya 26 tahun lalu, dan buku itu ada di tangan kawan-kawan mau pun lawan. <br /><br />Di dalam sebuah ilham yang saya terima dikatakan, "Innii jaa'ilun fil ardhi khaliifah – (Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi)." Dan di dalam ilham lain dikatakan, "Alhamdulillaahil- ladzii ja’alakal- masiihibni maryam –(segala puji bagi Allah yang telah menjadikan engkau sebagai Masih ibnu Maryam]." Ringkasnya, berdasarkan hadits dan Quran Syarif, Allah Ta’ala telah menamakan saya demikian. Dan Dia telah menetapkan saya sebagai Mau'ud yang akan datang itu.<br /><br />Al-Masih Nasrani telah wafat, dan di dalam Quran Syarif dengan sangat tegas berkali-kali telah diterangkan tentang kewafatannya. Beliau dalam bentuk bagaimana, pun tidak dapat hidup kembali. Tatkala sebagai penggantinya Allah Ta’ala telah menetapkan orang lain, maka betapa merupakan kebodohan dan ketololan besar apabila masih saja menunggu-­nunggunya. <br /><br />Maksud saya adalah, orang­-orang yang berdebat mengenai hal itu, yakni supaya kepada mereka diperlihatkan Tanda-tanda yang mereka tuntut memperhatikan, bahwa ada ratusan nabi yang telah datang kepadanya nubuatan mengenai mereka di dalam suatu kitab terdahulu.<br /><br />Hal yang sebenamya adalah, bersama nabi yang benar itu terdapat keperkasaan Allah Ta’ala. Dan orang yang datang dari Allah Ta’ala, secara pasti bersamanya terdapat Tanda Ilahi dan dukungan yang banyak. <br /><br />Lihat mukjizat-mukjizat yang diterangkan di dalam Bibel, Injil, Al-Quran, dan Hadits. Musuh dapat membuat berbagai alasan untuk tidak mengakuinya. Musuh dapat menuduh telah terjadi penghapusan dan perubahan [pada Kitab Ilahi], serta dapat memberikan Tanda lain sesuai corak yang lain lagi. <br /><br />Ringkasnya, jika hal-hal terdahulu itu saja yang dijadikan landasan untuk mengambil suatu keputusan maka dapat timbul kesulitan­-kesulitan besar. Namun Allah Ta’ala tidak suka apabila kebenaran dan kebatilan dicampur-baurkan, sehingga kebenaran itu jadi samar bagi dunia. Untuk itulah terdapat sunnah-Nya yakni melalui Tanda-tanda baru Dia selalu menzahirkan kebenaran. <br /><br />Demikianlah di zaman ini pun, tatkala Allah telah mengutus saya, dan telah menamakan saya sebagai Masih Mau'ud dan Khaatamul Khulafa, maka bersamaan dengan itu pun Dia juga berfirman, "Qul 'indii syahadatun- minallaahi fa hal antum muslimuun – (katakan, 'Padaku terdapat kesaksian dari Allah, maka apakah kamu mengakuinya?), yakni, bersamaan dengan itu Dia juga telah menganugerahkan kesaksian-Nya. <br /><br />Jadi, pada saat ini pun bersama saya terdapat kesaksian Ilahi. Apa pun kritikan (keberatan) atas masalah minhaajun- nubuwwat (jalan/cara kenabian) berdasarkan Al-Quran dan Hadits, saya setiap saat siap untuk menjawabnya. Memang ini berlaku pada setiap pendakwa, yakni padanya dimintakan bukti kebenaran pendakwaannya. Jadi, untuk pengujian itu saya setiap saat bersedia, dengan syarat sesuai minhaajun nubuwwat (jalan/cara kenabian).<br /><br />Hanya Allah yang tahu apa yang telah diletakkan (dimasukkan) dalam kisah-kisah kuno itu, sehingga orang-orang ini tidak percaya pada Tanda-tanda yang baru, dan mereka hanya menuntut kisah-kisah [lama]. Coba tanyakan kepada mereka, apa yang mereka peroleh dari kisah-kisah itu? <br /><br />Kisah orang-orang Yahudi jauh lebih mengada-­ada. Apakah kalian akan mempercayainya? Di setiap umat terdapat kisah-kisah yang menumpuk. Namun kisah-kisah kosong belaka tidak dapat memberikan manfaat untuk kekuatan iman dan untuk penyegaran ruh. <br /><br />Keimanan yang didasarkan pada kisah-kisah belaka pun adalah lemah. Orang-orang yang tidak percaya pada Tanda-tanda yang baru dan pada kesaksian Allah Ta’ala, akhirnya hukuman bagi mereka adalah mereka [tetap] menjadi pengikut kisah-kisah belaka.” <br /><br />(Malfuzat, jld. X, hlm. 261-274).<br /><br /><h3>Lampiran</h3><br /><h4 id="ayat1">Ayat #1</h4><br /><div class="arab">وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ</div><br />Artinya:&nbsp;Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dari antara kamu dan berbuat amal shaleh, bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka itu <b>khalifah</b> di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan <b>khalifah</b> orang-orang yang sebelum mereka; dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, yang telah Dia ridhai bagi mereka ; dan niscaya Dia akan menggantikan mereka sesudah ketakutan mereka dengan keamanan. Mereka akan menyembah Aku, dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan Aku. Dan barangsiapa ingkar sesudah itu, mereka itulah orang-orang yang durhaka. (QS An Nuur [245] ayat 56)<br /><br /><h4 id="hadits1">Hadits #1</h4><div class="arab">حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْمَهْرِيُّ، أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَيُّوبَ، عَنْ شَرَاحِيلَ بْنِ يَزِيدَ الْمَعَافِرِيِّ، عَنْ أَبِي عَلْقَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، فِيمَا أَعْلَمُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا ‏"‏ ‏.‏ قَالَ أَبُو دَاوُدَ رَوَاهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ شُرَيْحٍ الإِسْكَنْدَرَانِيُّ لَمْ يَجُزْ بِهِ شَرَاحِيلَ ‏.‏<br /><br />سنن أبي داود, كتاب الملاحم, باب مَا يُذْكَرُ فِي قَرْنِ الْمِائَةِ</div><br />Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Dawud Al Mahri] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Wahb] berkata, telah mengabarkan kepadaku [Sa'id bin Abu Ayyub] dari [Syarahil bin Yazid Al Mu'arifi] dari [Abu Alqamah] dari [Abu Hurairah] yang aku tahu hadits itu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:<br /><br /><i>"Setiap seratus tahun Allah mengutus kepada umat ini seseorang (<b>mujaddid</b>) yang akan memperbaharui agama ini (dari penyimpangan)."&nbsp;</i><br /><br />Abu Dawud berkata, "'Abdurrahman bin Syuraih Al Iskandarani meriwayatkan hadits ini, namun tidak menyebutkan Syarahil."<br /><br />HR. Sunan Abu Dawud, Kitabul-Malaahim, Bab maa yudzkaru fii qornil-mi-ati.Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-27896637847465079712016-12-26T20:35:00.000-08:002016-12-26T21:17:43.652-08:00Hadits tentang Isa ibnu Maryam yang DijanjikanAda beberapa hadits berkenaan dengan Al-Masihil-Mau'uud (Al-Masih yangdijanjikan Rasulullah saw). Diantaranya adalah:<br /><br /><h3 id="hadits1">Hadits 01</h3><br /><div class="arab">حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ ‏"‏‏.‏<br /><br />روه البخاري,&nbsp;كتاب البيوع, باب قَتْلِ الْخِنْزِيرِ</div><br />Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari [Ibnu Syihab] dari [Ibnu Al Musayyab] bahwa dia mendengar [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] berkata; Bersabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Demi Dzat yang jiwaku dalam genggamanNya, sungguh tiada lama lagi akan segera turun Ibnu Maryam (Isa Alaihissalam) yang akan menjadi hakim yang adil, menghancurkan salib, membunuh babi, membebaskan jizyah dan harta benda melimpa ruah sehingga tidak ada seorangpun yang mau menerimanya".<br /><br />(H.R. Bukhari, Kitabul-buyuu', bab qotlil-khinziir; referensi <a href="https://sunnah.com/bukhari/34/169" target="_blank">bahasa Inggris</a> | <a href="http://hadist.net/imams/bukhari/hadits/2070" target="_blank">Bahasa Indonesia</a>)<br /><br /><i>Beberapa hadits yang mirip:</i><br /><br /><div class="arab">روه المسلم,&nbsp;كتاب الإيمان,&nbsp;باب نُزُولِ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ حَاكِمًا بِشَرِيعَةِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم</div>(<a href="https://sunnah.com/muslim/1/296" target="_blank">Bahasa Inggris</a> | <a href="http://hadist.net/imams/muslim/hadits/220" target="_blank">Bahasa Indonesia</a>)<br /><br /><div class="arab">روه الترمذي, كتاب الفتن عن رسول الله صلى الله عليه وسلم,&nbsp;باب مَا جَاءَ فِي نُزُولِ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ</div>(<a href="https://sunnah.com/tirmidhi/33/76" target="_blank">Bahasa Inggris</a> | <a href="http://hadist.net/imams/tirmidzi/hadits/2159" target="_blank">Bahasa Indonesia</a>)<br /><br /><h3 id="hadits2">Hadits 02</h3><br /><div class="arab">حَدَّثَنَا ابْنُ بُكَيْرٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ يُونُسَ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ نَافِعٍ، مَوْلَى أَبِي قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ ‏"‏‏.‏ تَابَعَهُ عُقَيْلٌ وَالأَوْزَاعِيُّ‏.‏<br /><br />روه البخاري, كتاب أحاديث الأنبياء, باب نُزُولُ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ عليهما السلام</div><br />Artinya: Telah bercerita kepada kami [Ibnu Bukair] telah bercerita kepada kami [Al Laits] dari [Yunus] dari [Ibnu Syihab] dari [Nafi', maula Abu Qatadah Al Anshariy] bahwa [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bagaimana sikap kalian jika 'Isa bin Maryam 'alahis salam turun di tengah-tengah kalian dan menjadi imam kalian?". Hadits ini dikuatkan jalur periwayatannya oleh ['Uqail] dan [Al Awza'iy].<br /><br />(H.R. Bukhari, Kitab Ahaaditsul Anbiyaa, Baab Nuzuulu 'iisabni Maryama 'alayhimas-salaam; referensi Bahasa Inggris | Bahasa Indonesia)<br /><br /><br /><br /><br /><br /><br />Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-47974430875826475052016-12-26T18:44:00.000-08:002016-12-26T18:44:26.266-08:00Penghargaan rasulullah saw terhadap Abdi-abdi Peri Kemanusiaan<br />Hadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><div><br /></div>Beliau sangat menghargai mereka yang membaktikan waktunya dan harta bendanya untuk mengkhidmati umat manusia. Suku Arab, Banu Tai’, mulai mengadakan permusuhan terhadap Rasulullah saw. dan kekuatan mereka dikalahkan dan beberapa orang ditawan dalam sebuah peperangan. Seorang dari tawanan itu adalah anak perempuan Hatim Ta’i seorang yang kemurahan dan kebaikannya telah menjadi buah bibir bangsa Arab. Ketika anak Hatim menerangkan kepada Rasulullah saw. mengenai silsilah kekeluargaannya, beliau memperlakukan wanita itu dengan penghormatan yang besar dan sebagai hasil dari perantaraannya beliau membatalkan semua hukuman yang tadinya akan dijatuhkan atas wanita itu sebagai tindak balasan terhadap serangan mereka (Halbiyya, Jilid 3, hlm. 227).<br /><br />Watak Rasulullah saw. itu begitu beraneka segi sehingga tidak mungkin menceritakan secara rinci dalam beberapa halaman. Oleh sebab buku ini tidak bertujuan semata-mata membahas peri watak beliau, dan mengingat akan keterbatasan ruang dalam buku ini, kami tidak mempunyai pilihan lain kecuali membatasi uraian ini hanya sampai disini.Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-87821973131691840172016-12-26T18:43:00.001-08:002016-12-26T18:43:26.229-08:00Akhlak Rasulullah saw dalam Menyempurnakan PerjanjianHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><div><br /></div>Rasulullah saw. sangat menaruh penting ihwal asas menyempurnakan perjanjian. Sekali peristiwa seorang duta datang kepada beliau dengan tugas istimewa dan sesudah ia tinggal beberapa hari bersama beliau, ia yakin akan kebenaran Islam dan mohon diperbolehkan baiat, masuk Islam. Rasulullah saw. mengatakan bahwa perbuatannya tidak tepat karena ia datang sebagai duta dan telah menjadi kewajibannya untuk pulang ke pusat pemerintahannya tanpa mengadakan hubungan baru. Jika sesudah pulang ia masih yakin akan kebenaran Islam, ia dapat kembali lagi sebagai orang bebas dan masuk Islam (Abu Daud, bab tentang Wafa bil-Ahd).Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-63463649771289711352016-12-26T18:41:00.004-08:002016-12-26T18:41:56.505-08:00Tenggang Rasa terhadap Orang yang Kurang SopanHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><br />Beliau sangat lunak terhadap mereka yang karena tidak punya ajaran sopan-santun maka tidak mengetahui bagaimana seyogyanya membawakan diri. Pada sekali peristiwa seorang Bedui yang baru saja masuk Islam dan sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw. di mesjid bangkit, berjalan beberapa langkah, berjongkok di sudut mesjid lalu membuang air seni. Beberapa sahabat bangkit hendak melarangnya. Rasulullah saw. menahan mereka dan menjelaskan bahwa kalau itu diganggu maka dapat menjadikan orang itu malu dan boleh jadi akan memudaratkannya. Beliau mengatakan kepada para sahabat untuk membiarkannya dan membersihkan tempat itu kemudian.Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-17768855494867366862016-12-26T18:40:00.004-08:002016-12-26T18:40:56.273-08:00Keberanian dan Kewiraan Rasulullah sawHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><br />Beberapa contoh mengenai keberanian dan kewiraan beliau telah diceritakan dalam bagian riwayat hidup beliau. Cukuplah kiranya di sini mengemukakan sebuah contoh. Pada suatu ketika, di Medinah tersebar desas-desus bahwa orang-orang Romawi sedang menyiapkan kesatuan laskar yang besar untuk mengadakan pendudukan. Pada masa itu orang-orang Muslim selalu berjaga-jaga malam. Pada suatu malam suara gaduh datang dari arah padang pasir. Orang-orang Muslim berlari-lari keluar rumah mereka dan beberapa dari antara mereka berkumpul di mesjid dan menunggu kedatangan Rasulullah saw. untuk mendapat perintah menghadapi segala kemungkinan. Segera mereka melihat Rasulullah saw. datang berkuda, kembali dari arah suara-suara itu. Kemudian mereka mengetahui bahwa pada saat awal sekali suara tanda bahaya terdengar, Rasulullah saw. telah menaiki kuda dan menuju arah datangnya suara itu untuk menyelidiki apa ada alasan kekhawatiran itu. Beliau tidak menunggu orang-orang berkumpul untuk dapat berangkat bersama-sama. Ketika beliau kembali, beliau menjelaskan kepada para sahabat bahwa tidak ada alasan untuk khawatir dan bahwa mereka dapat pulang kerumah masing-masing dan tidur lagi (Bukhari, Bab Syuja’ah fil Harb).Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-57000469509160281332016-12-26T18:40:00.000-08:002016-12-26T18:40:02.913-08:00Toleransi Rasulullah saw dalam Urusan AgamaHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><div><br /></div>Rasulullah saw. bukan saja menekankan pada kebaikan toleransi dalam urusan agama, tetapi memberikan contoh-contoh yang sangat tinggi dalam urusan ini. Suatu perutusan suku Kristen dari Najran menghadap kepada beliau di Medinah untuk bertukar pikiran mengenai masalah-masalah keagamaan. Di dalam rombongan itu terdapat tokoh-tokoh gereja. Percakapan diadakan di dalam mesjid dan berjalan selama beberapa jam. Pada suatu saat perutusan itu minta izin meninggalkan mesjid dan mengadakan upacara kebaktian di suatu tempat yang tenang. Rasulullah saw. bersabda bahwa mereka tidak perlu meninggalkan mesjid yang memang merupakan tempat khusus untuk kebaktian kepada Tuhan dan mereka dapat melakukan ibadah mereka di situ (Zurqani).Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-59833915561013292362016-12-26T18:39:00.000-08:002016-12-26T18:39:02.523-08:00Kasih Sayang Rasulullah saw terhadap Hewan-hewanHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><div><br /></div>Beliau memperingatkan kaum beliau terhadap kekejaman terhadap hewan dan memperingatkan agar memperlakukan hewan-hewan dengan baik. Beliau seringkali menceritakan contoh mengenai seorang wanita Yahudi yang dihukum oleh Allah Taala karena membiarkan kucingnya mati kelaparan. Juga beliau sering menceritakan ihwal seorang wanita yang melihat anjing kehausan dekat sebuah perigi yang dalam. Ia menanggalkan sepatunya dan dipakainya untuk mengambil air. Air itu diberikan kepada anjing yang kehausan itu. Amal saleh itu menarik pengampunan Ilahi atas semua dosa yang dilakukannya di masa lampau.<br /><br />Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan: “Tengah kami berada dalam perjalanan bersama Rasulullah saw., kami melihat dua ekor anak merpati dalam sarang dan kami menangkap dua ekor burung itu. Kedua burung itu masih kecil. Ketika induknya datang kesarangnya dan tidak didapatinya anak-anaknya, ia terbang kian-kemari dengan sangat gelisah. Ketika Rasulullah saw. datang ke tempat itu, beliau melihat merpati itu dan bersabda, “Jika salah seorang dari antara kamu telah menangkap anak-anaknya, ia harus segera melepaskannya biar si induk jadi tenang” (Abu Daud).<br /><br />Abdullah bin Mas’ud menceritakan juga bahwa sekali peristiwa mereka melihat sebuah sarang semut dan setelah mengumpulkan daun-daun kering di atasnya, daun-daun itu dibakarnya. Atas perbuatan itu mereka disesali oleh Rasulullah saw. Sekali peristiwa Rasulullah saw. melihat seekor keledai yang sedang dicap bakar di mukanya. Beliau menanyakan bahwa orang-orang Romawi berbuat serupa itu untuk menandai dan mengenal binatang-binatang trah mereka. Rasulullah saw. bersabda bahwa karena muka itu bagian badan yang sangat peka, maka binatang itu tidak boleh diberi cap bakar di mukanya dan jika pun hal itu perlu dilakukan, membakarnya harus pada pahanya saja (Abu daud dan Tirmidhi).<br /><br />Sejak itu kaum Muslim senantiasa menandai binatang-binatangnya pada pahanya dan dengan meniru perbuatan Muslim itu orang-orang Eropa juga berbuat demikian.Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-49994625809219833482016-12-26T18:36:00.002-08:002016-12-26T18:36:34.770-08:00Semangat dan Optimisme Rasulullah sawHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><br />Beliau adalah musuh pesimisme atau keputusasaan. Beliau senantiasa bersabda bahwa barang siapa menyebarkan rasa pesimis dikalangan anggota-anggota masyarakat, ia bertanggung jawab atas kemunduran bangsa, sebab pikiran-pikiran pesimis mempunyai kecenderungan mengecutkan hati dan menghentikan laju kemajuan (Muslim, Bagian II, Jilid 2).<br /><br />Beliau memberi peringatan kepada kaum beliau terhadap kesombongan dan kecongkakan pada satu pihak dan terhadap pesimis di pihak lain. Beliau memperingatkan mereka supaya menempuh jalan tengah antara kedua ekstrim itu. Orang-orang muslim harus bekerja rajin dan tekun dengan kepercayaan bahwa Tuhan akan memberkati daya-upaya mereka dengan hasil yang sebaik-baiknya. Tiap-tiap orang harus berikhtiar untuk maju dan harus berusaha memajukan kesejahteraan dan meningkatkan kemajuan masyarakat, tetapi tiap-tiap orang hendaknya bebas dari perasaan sombong atau tiap-tiap kecenderungan kepada kecongkakan.Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-44583742615188334622016-12-26T18:35:00.004-08:002016-12-26T18:35:41.872-08:00Jual Beli Rasululullah saw secara Terus TerangHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><div><br /></div>Beliau sangat mendambakan orang-orang muslim agar jangan mengikuti hati dalam melakukan segala bentuk kelicikan dalam transaksi atau jual-beli. Pada suatu waktu ketika beliau sedang lewat di pasar, beliau melihat setimbun gandum yang sedang di lelang. Beliau memasukkan tangan beliau ke dalam timbunan itu dan didapati bahwa walaupun lapisan luarnya kering, lapisan dalamnya basah. Beliau menanyakan kepada pemiliknya akan sebab-sebabnya. Orang itu menerangkan bahwa hujan yang turun tiba-tiba telah menjadikannya basah. Rasulullah saw. bersabda bahwa jika demikian ia hendaknya membiarkan lapisan yang basah gandum itu tetap ada dibagian luar sehingga para calon pembeli dapat menilai keadaan yang sebenarnya. Beliau bersabda, “Orang yang berdagang secara tidak jujur terhadap orang lain tidak akan menjadi anggota masyarakat yang berguna” (Muslim).<br /><br />Mengenai perdagangan beliau menuntut supaya sama sekali bebas dari tiap-tiap kecurigaan terhadap perbuatan serong. Beliau memperingatkan kepada tiap-tiap pembeli agar senantiasa memeriksa barang-barang yang akan mereka beli dan melarang siapa pun mengadakan rebut-tawar padahal tawar-menawar dengan pihak lain masih belum selesai. Beliau melarang juga menimbun barang dagangan untuk menaikkan harga pasar dan menuntut agar pasar senantiasa mendapat persediaan secara teratur.Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-4211529261130974782016-12-26T18:32:00.002-08:002016-12-26T18:32:22.062-08:00Prasangka Baik Rasulullah sawHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><div><br /></div>Rasulullah saw. senantiasa memperingatkan orang-orang terhadap ingin tahu yang tidak pada tempatnya dan supaya mempunyai sangka baik terhadap orang-orang lain. Abu Hurairah meriwayatkan: “Rasulullah saw. bersabda, ‘Selamatkan dirimu dari buruk-sangka terhadap orang-orang lain, sebab hal itu adalah kepalsuan terbesar dan janganlah ingin tahu yang tidak pada tempatnya atau memberi nama-nama cemoohan terhadap satu sama lain untuk menghina atau iri-hati terhadap satu sama lain, dan jangan memelihara perasaan-perasaan buruk terhadap orang lain; hendaknya tiap-tiap orang di antara kamu memandang diri sebagai hamba Tuhan dan memperlakukan orang-orang lain sebagai saudara sebagaimana telah diperintahkan oleh Allah.’ dan pula, ‘Ingatlah bahwa seorang muslim itu saudara bagi tiap orang muslim. Tidak boleh seorang muslim melanggar hak orang muslim lainnya atau menjauhi orang lain dalam masa-masa kesusahan atau menghina orang lain hanya karena tak punya barang atau ilmu atau hal apa saja yang lainnya. Kesucian adalah bersumber pada hati dan cukup mengotori hati seseorang kalau memandang hina saudaranya. Tiap-tiap muslim harus memandang jiwa, kehormatan dan milik orang muslim lainnya sebagai sesuatu yang suci dan tak boleh diganggu. Tuhan tidak memandang jasmanimu atau wajahmu atau perbuatan-perbuatan lahirmu, tetapi memandang dan melihat ke dalam hatimu” (Muslim, Kitab al-Birr wal-Sila).Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-62505971476444743412016-12-26T18:31:00.002-08:002016-12-26T18:31:28.822-08:00Kejujuran Rasulullah sawHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><div><br /></div>Seperti telah diriwayatkan, Rasulullah saw. sendiri begitu tegar dalam soal kejujuran sehingga beliau terkenal di antara kaum beliau sebagai “Orang Terpercaya” dan “Orang Besar”. Begitu pula beliau sangat berhasrat agar orang-orang muslim menjunjung tinggi nilai kebenaran seperti beliau sendiri menjunjungnya. Beliau memandang kebenaran sebagai dasar segala keluhuran budi, kebaikan, dan perilaku yang benar. Beliau mengajarkan bahwa seseorang yang mutaki adalah orang yang teguh memegang kebenaran sehingga ia terhitung bertakwa oleh Tuhan.<br /><br />Pada suatu ketika seorang tawanan yang sudah banyak berdosa membunuh orang-orang muslim dibawa ke hadapan Rasulullah saw.. Umar yang juga hadir percaya bahwa orang ini pantas sekali dihukum mati dan memandang berkali-kali kepada Rasulullah saw. mengharapkan bahwa Rasulullah saw. pada suatu saat akan mengisyaratkan supaya orang itu dihukum mati. Setelah Rasulullah saw. menyuruh pergi orang itu, Umar menyatakan bahwa orang itu harus dihukum mati, karena hanya itulah hukuman yang setimpal. Rasulullah saw. menjawab, “Jika demikian mengapa ia tidak kau bunuh?” Umar menjawab, “Ya Rasulullah! Jika Anda memberi isyarat, sekalipun hanya dengan kedipan mata, tentu aku akan melaksanakannya.” Atas itu Rasulullah saw. menambahkan, “Seorang nabi tidak bertindak dengan mendua perasaan. Betapa aku dapat memakai mataku untuk memberi isyarat menjatuhkan hukuman mati kepada orang itu, sementara lidahku sedang dipakai berbicara dengan ramah kepadanya (Hisyam, jilid 2, hlm.217).<br /><br />Pada suatu waktu seorang orang menghadap Rasulullah saw. dan berkata, “Ya Rasulullah, aku mempunyai tiga kejahatan, dusta, kecanduan minum minuman keras dam zina. Aku telah berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari kejahatan-kejahatan itu, tetapi tidak berhasil. Dapatkah Anda mengatakan apa yang harus kuperbuat?” Rasulullah saw. menjawab, “Jika kamu mau berjanji sungguh-sungguh kepadaku untuk melepaskan satu dari antaranya, aku jamin kamu akan terlepas dari kedua kejahatan lainnya.” Orang itu berjanji dan meminta kepada Rasulullah saw. untuk diberi tahu, dosa yang mana dari ketiga macam dosa itu yang harus ditinggalkan. Rasulullah saw. bersabda, “Tinggalkanlah dusta.” Beberapa waktu kemudian orang itu kembali dan mengatakan kepada Rasulullah saw. bahwa sesudah mengikuti nasihat beliau, ia sekarang bebas dari ketiga-tiga dosa itu. Rasulullah saw. bertanya kepadanya bagaimana perjuangannya mengatasi kelemahannya, dan orang itu pun berkata, “Pada suatu hari aku ingin minum arak dan hampir-hampir aku berbuat, ketika itu aku teringat akan janjiku kepada Anda dan menyadari bahwa jika salah seorang dari sahabat-sahabatku menanyakan apakah aku telah minum arak, aku akan terpaksa mengakuinya, karena aku tidak mungkin lagi mengucapkan sesuatu yang dusta. Hal itu berarti bahwa aku akan mendapat nama buruk di tengah sahabat-sahabatku dan mereka akan menjauhiku di kemudian hari. Dengan pikiran demikian kubujuk diriku untuk meninggalkan minum sampai kesempatan lain, dan aku dapat menahan keinginan pada waktu itu. Demikian pula pada waktu aku cenderung berbuat zina, aku berdebat dengan diriku sendiri bahwa mengikuti hati untuk melakukan kejahatan akan menjadikanku kehilangan penghargaan sahabat-sahabatku karena aku tidak mungkin berkata dusta jika ditanya oleh mereka dan dengan demikian membatalkan janjiku kepada Anda atau aku harus mengakui dosaku. Demikian pula aku terus berjuang antara tekad menyempurnakan janjiku kepada Anda dan keinginan nafsuku minum minuman keras dan berzina. Ketika beberapa waktu telah lewat, aku mulai terlepas dari mengikuti hawa nafsu dalam dosa itu dan bertekad untuk menjauhkan diri dari berdusta itu sekarang telah membebaskanku dari kedua kejahatan lainnya juga.”Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-53353404035090068632016-12-26T18:30:00.002-08:002016-12-26T18:30:34.088-08:00Akhlak Rasulullah saw tentang KerjasamaHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><div><br /></div>Beliau senantiasa mengajarkan bahwa salah satu ciri-ciri khas Islam yang terbaik ialah, orang hendaknya jangan mencampuri urusan yang tidak ada kaitan dengan dirinya dan jangan mengecam atau mencela orang lain dan mencampuri perkara-perkara yang tidak bertalian dengan dirinya. Itulah dasar yang jika dipakai dan dilaksanakan akan menjamin keamanan dan ketertiban di dunia. Sebagian besar kesukaran yang kita alami adalah bersumber pada kecenderungan mayoritas masyarakat menuruti hati untuk ikut campur yang tidak pada tempatnya, dan enggan memberikan kerjasama saat diperlukan dalam upaya mengurangi penderitaan orang-orang yang ada dalam kesusahan.<br /><br />Rasulullah saw. sangat menekankan pada kerjasama. Beliau menjadikan kaidah bahwa jika seseorang dituntut membayar sejumlah uang sebagai hukuman dan ia tidak mampu membayar sepenuhnya, maka tetangga-tetangga atau kawan sebangsanya atau kawan sekutunya hendaknya mengumpulkan uang dengan menarik iuran. Orang-orang kadang-kadang datang dan bermukim dekat Rasulullah saw. dan menyisihkan waktu untuk mengkhidmati Islam dengan bermacam-macam cara. Beliau selalu menasihati sanak-saudara mereka guna memikul kewajiban memenuhi kebutuhan mereka yang paling sederhana. Diriwayatkan oleh Anas bahwa sekali peristiwa dua orang bersaudara menerima Islam dan seorang diantaranya tinggal terus bersama Rasulullah saw. sedang yang seorang lagi meneruskan usaha seperti sediakala. Lama sesudah itu saudara yang disebut terakhir itu mengadu kepada Rasulullah saw. bahwa saudaranya telah mempergunakan waktunya bermalas-malasan. Rasulullah saw. bersabda, “Tuhan telah mencukupi kebutuhanmu juga berkat adanya saudaramu, dan karena itu menjadi kewajibanmu mencukupi kebutuhannya dan membiarkan dia bebas mengkhidmati agama” (Tirmidhi).<br /><br />Dalam perjalanan, ketika rombongan Rasulullah saw. sampai ke tempat berkemah, para sahabat segera sibuk dengan tugas masing-masing mendirikan kemah untuk bermalam; Rasulullah saw. bersabda, “Kamu tidak menugasiku suatu tugas. Aku akan pergi mengumpulkan bahan bakar untuk masak.” Para sahabat berkeberatan dan berkata, “Ya Rasulullah! Mengapa Anda harus repot-repot, jika kami semua siap mengerjakan segala sesuatu yang perlu?” Beliau bersabda, “Tidak. Menjadi kewajibanku mengerjakan bagianku apa saja yang harus dikerjakan,” – dan beliau mengumpulkan kayu bakar dari hutan untuk memasak makanan (Zurqani, Jilid 4 hlm.306).Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-82651093064311375412016-12-26T18:29:00.000-08:002016-12-26T18:29:01.754-08:00Kesabaran Rasulullah saw Hadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><div><br /></div>Rasulullah saw. biasa bersabda, “Untuk seorang Muslim, kehidupan ini sarat dengan kebaikan dan tidak ada orang lain kecuali orang beriman merasakan dirinya dalam keadaan ini sebab jika ia berjumpa dengan kesenangan, ia bersyukur kepada Tuhan dan menjadi orang yang menerima lebih banyak rahmat dan berkat dari Dia. Sebaliknya, jika ia menderita kesusahan atau kemalangan, dipikulnya penderitaan dengan sabar dan dengan demikian, lagi-lagi ia menjadi orang yang meraih rahmat dan berkat Ilahi.”<br /><br />Ketika wafat beliau telah mendekat dan beliau dalam puncak penderitaan, merintih-rintih, anak beliau Fatimah, menjerit karena tidak tahan melihat ayahanda dalam keadaan demikian. Beliau bersabda, “Bersabarlah, ayahmu tidak akan menderita lagi sesudah hari ini,” artinya, segala kesusahan hanya terbatas sampai di dunia ini dan dari saat beliau bebas dari kehidupan ini dan sampai di hadirat Al-Khalik, beliau tidak akan lagi menderita. Pada waktu wabah tengah berkecamuk, beliau tidak membenarkan orang-orang meninggalkan kota yang sedang dijangkiti, lalu masuk ke kota lain, sebab hal demikian akan memperluas daerah penularan wabah. Beliau biasa mengatakan bahwa pada waktu wabah berkecamuk, jika seseorang tinggal tetap di dalam kotanya sendiri dan mencegah penularan ke daerah yang belum terjangkiti lalu ia mati karena wabah itu, ia akan dimasukkan ke dalam golongan syuhada (Bukhari, Kitab-al Tibb).Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-14773411796856046822016-12-26T18:27:00.002-08:002016-12-26T18:27:40.399-08:00Rasulullah saw Menutupi Aib atau Kesalahan Orang LainHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><div><br /></div>Beliau tidak pernah mengemukakan kesalahan-kesalahan dan kelemahan-kelemahan orang lain dan menasihati orang-orang jangan mengumumkan kesalahan-kesalahan sendiri. Beliau biasa bersabda, “Jika seseorang menutupi kesalahan-kesalahan orang lain, Tuhan akan menutupi kesalahan-kesalahannya pada Hari Pembalasan.” Dan, “Tiap-tiap pengikutku dapat lepas dari akibat-akibat kesalahannya (artinya, dengan bertobat sungguh-sungguh dan membenahi diri), kecuali mereka yang menyebar-nyebar kesalahannya sendiri,” dan melukiskannya dengan perkataan. “Seseorang berbuat kejahatan di waktu malam dan membanggakan di hadapan mereka.” Aku mengerjakan ini tadi makam,’ jadi ia sendiri telah membukakan apa yang Tuhan telah menutupinya” (Bukhari dan Muslim).<br /><br />Ada sementara orang menyangka, karena kebodohannya, bahwa pengakuan dosa membantu tobat; kenyataannya ialah hal itu bahkan memelihara ketidaksenonohan. Dosa itu kejahatan dan barang siapa terjerumus ke dalamnya dan menjadi mangsa rasa malu, rasa penyesalan dapat membuka pintu harapan untuk kembali ke jalan yang suci dan ketakwaan dengan tobat. Keadaannya adalah seperti orang yang telah digoda oleh kejahatan, tetapi selalu dikejar-kejar oleh kesadaran bertakwa, dan begitu kesempatan ada, maka lenyaplah kejahatan itu dan orang berdosa itu diimbau kembali oleh ketakwaan. Tetapi orang yang menyebar-nyebarkan perbuatan dosanya dan membanggakan perbuatan itu, ia kehilangan segala rasa malu dan kehilangan pengertian akan baik dan buruk, lalu menjadi tidak mampu untuk bertobat.<br /><br />Sekali peristiwa seseorang datang menghadap Rasulullah saw. dan berkata, “Aku berdosa telah berbuat zina.” (Jika kesalahan itu dibuktikan oleh kesaksian maka merupakan pelanggaran yang dapat dikenakan hukuman menurut syariat Islam). Mendengar pengakuan orang itu, Rasulullah saw. berpaling dan menekuni kesibukan lain. Beliau bermaksud menyatakan bahwa obat yang tepat ialah tobat dan bukan pengakuan di muka umum. Tetapi, orang itu tidak mengerti dan menyangka bahwa Rasulullah saw. tidak mendengarnya, lalu pindah ke hadapan Rasulullah saw. dan mengulangi pengakuannya. Rasulullah saw. membalikkan badan lagi dan membelakanginya tetapi orang itu pindah lagi ke hadapan Rasulullah saw. dan mengulang lagi pengakuannya. Ketika ia telah berbuat serupa empat kali, Rasulullah saw. bersabda, “Aku tadinya mengharap orang ini tidak mengatakan dosanya sebelum Tuhan menunjukkan kehendak-Nya tentang dia, tetapi karena ia telah empat kali mengakui dosanya, aku sekarang terpaksa mengambil tindakan” (Tirmidhi). Kemudian beliau menambahkan, “Orang ini telah mengaku dan belum ada tuduhan dari wanita yang terlibat dalam pengakuannya. Wanita itu harus diperiksa dan jika ia menolak dosanya, wanita itu tidak boleh disiksa dan hanya &nbsp;laki-laki ini harus mendapat hukuman sesuai dengan pengakuannya, tetapi jika wanita itu juga mengaku, ia harus mendapat hukuman juga.” Memang menjadi kebiasaan Rasulullah saw. untuk mengikuti syariat Torat dalam hal-hal yang Alquran bungkam mengenainya, dan karena Torat menetapkan bahwa seorang pezina harus dirajam, beliau memutuskan terhadap orang itu sesuai dengan peraturan itu. Ketika hukuman itu akan dilaksanakan, orang itu berusaha melarikan diri, tetapi orang-orang mengejarnya dan hukuman itu dilakukan. Ketika Rasulullah saw. mendengar hal itu beliau tidak menyetujuinya. Beliau mengatakan bahwa orang itu telah dijatuhi hukuman berdasarkan pengakuannya sendiri. Percobaan melarikan diri adalah usaha membatalkan pengakuannya dan kemudian ia tidak boleh di hukum hanya atas alasan pengakuannya semata.<br /><br />Rasulullah saw. menetapkan bahwa hukum hanya berlaku atas perbuatan yang dilakukan secara terang-terangan. Dalam suatu peperangan, serombongan Muslim menjumpai seorang bukan Muslim yang biasa bersembunyi menunggu di tempat yang sunyi dan jika ia melihat seorang Muslim seorang diri ia menyerang, dan membunuhnya. Pada peristiwa itu Usama bin Zaid mengejarnya, dan setelah menyusul dan menangkapnya, Zaid menghunus pedang untuk membunuhnya. Ketika orang itu melihat bahwa tidak ada jalan melarikan diri, ia mengucapkan bagian pertama Kalimah Syahadat, ialah, “Asyhadu alla ilaha illallah” – “Tidak ada Zat yang patut disembah kecuali Allah”, dengan demikian menunjukkan bahwa ia telah menerima Islam. Usama tak menghiraukan dan membunuhnya. Ketika peristiwa itu, di antara sekian banyak peristiwa lain dalam pertempuran itu, diceritakan kepada Rasulullah saw., beliau memanggil Usama dan menanyakan hal itu. Atas pengakuan mengenai kebenaran cerita itu Rasulullah saw. bersabda, “Bagaimana halmu pada Hari Pembalasan jika pernyataan imannya membenarkan dia? Usama menjawab, “Ya Rasulullah, orang itu membunuh orang-orang Muslim dan syahadatnya hanya tipu muslihat belaka untuk melepaskan diri dari pembalasan.” Tetapi Rasulullah saw. mengulangi lagi. “Usama, bagaimana hal kamu jika syahadat orang itu menjadi saksi terhadapmu pada Hari Pembalasan?” Artinya, Tuhan akan menuntut pertanggungjawaban dari Usama atas kematian orang itu, sebab walaupun ia telah berdosa membunuh orang-orang Muslim, pembacaan syahadatnya adalah bukti bahwa ia telah betobat dari kejahatan-kejahatannya. Usaha menyangkal dan mengatakan bahwa pembacaan Kalimah Syahadat itu hanya karena ia takut mati dan bukan ciri bertobat. Atas itu Rasulullah saw. bersabda, “Adakah kamu melihat ke dalam hatinya untuk mengetahui bahwa apa ia berkata benar atau tidak,” dan melanjutkan, “Bagaimana kamu akan menjawab pada Hari Pembalasan, jika syahadatnya dibacakan sebagai bukti terhadap kamu?” Usama berkata, “Mendengar Rasulullah begitu sering mengatakan hal itu aku berharap bahwa aku masuk Islam baru sesudah saat itu sehingga aku tidak berdosa atas apa-apa yang dituduhkan terhadapku” (Muslim Kitab al-Iman).<br /><br />Rasulullah saw. selamanya bersedia memaafkan orang-orang dari kesalahan dan pelanggaran mereka. Seorang dari antara mereka yang terlibat dalam fitnah terhadap istri beliau, Aisyah, adalah orang yang hidupnya bergantung pada kebajikan Abu Bakar (bapak Aisyah). Ketika kepalsuan tuduhan terhadap Aisyah telah terbukti dengan sejelas-jelasnya, Abu Bakar menghentikan bantuannya kepada orang itu. Hal ini pun menjadi bukti kesabaran dan ketabahan hati Abu Bakar yang terpuji. Orang kebanyakan akan menuntut sampai sejauh-jauhnya terhadap seorang-orang bawahannya yang telah berdosa menghina anak perempuannya. Ketika Rasulullah saw. mengetahui tindakan Abu Bakar itu beliau berbicara dengan Abu Bakar dan menjelaskan bahwa walau pun orang itu bersalah, adalah tidak pantas orang seperti Abu Bakar mencabut sumber penghidupannya karena kesalahannya itu. Atas nasihat itu, Abu Bakar meneruskan lagi bantuannya terhadap orang itu (Bukhari, Kitab al-Tafsir).Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-3135164379263286882016-12-26T18:26:00.000-08:002016-12-26T18:26:27.169-08:00Rasulullah saw Sangat Menjaga Kepercayaan OrangHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><br />Rasulullah saw. sangat berhati-hati membawa diri agar tidak timbul kemungkinan adanya salah paham. Pada suatu peristiwa istri beliau, Safiyah, datang menjumpai beliau di mesjid. Ketika waktu untuk pulang tiba, hari sudah menjadi gelap dan Rasulullah saw. mengambil keputusan untuk mengantarkannya pulang. Dijalan beliau berpapasan dengan dua orang dan karena hendak menghindarkan suatu persangkaan dari mereka terhadap orang yang bersama-sama dengan beliau, Rasulullah saw. menyuruh mereka berhenti, “Lihatlah, ini istriku, Safiyah.” Mereka memprotes, “Ya Rasulullah, mengapa Anda menyangka kami akan salah paham mengenai Anda?” Rasulullah saw. menjawab, “Setan sering menjalar melalui darah manusia. Aku khawatir kepercayaanmu ditularinya.” (Bukhari, Abwab al-I’tikaf).Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-41132164437788839012016-12-26T18:25:00.001-08:002016-12-26T18:25:15.417-08:00Pergaulan Rasulullah sawHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><div><br /></div>Beliau selamanya memilih pergaulan dengan orang-orang baik dan jika beliau melihat suatu kelemahan pada salah seorang dari para sahabat, beliau menegurnya dengan ramah secara berempat mata. Abu Musa Asy’ari meriwayatkan, “Rasulullah saw. menggambarkan faedah yang dapat diraih dari teman-teman yang baik dan kawan yang saleh, dan kerugian yang dapat diterima dari sahabat-sahabat yang rawan susila dan kawan-kawan yang buruk dengan mengatakan, ‘Seorang yang mengadakan pergaulan dengan orang-orang saleh adalah serupa orang yang membawa kesturi. Jika ia mempergunakannya ia mendapat faedah, jika menjualnya ia mendapat laba dan jika ia hanya menyimpannya pun akan menikmati kaharuman. Seseorang yang bergaul dengan orang rawan susila adalah serupa dengan orang yang meniup ke dalam tungku arang, apa yang dapat diharapkan daripada dia hanya bunga api yang dapat hinggap di pakaiannya dan membakarnya atau asap yang keluar dari tungku itu akan memusingkan kepalanya.” Beliau biasa mengatakan bahwa watak seseorang dibentuk serupa dengan sifat pergaulannya dan bahwa oleh karena itu seseorang hendaknya berhati-hati dan mempergunakan waktunya bergaul dengan orang-orang baik (Bukhari dan Muslim).Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-66382696240064967802016-12-26T18:24:00.000-08:002016-12-26T18:24:17.692-08:00Perlakuan Rasulullah saw terhadap Sanak-saudaraHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><br />Kebanyakan orang mengalami kegagalan bahwa jika mereka menikah dan mendirikan rumah tangga sendiri, mereka berangsur mengabaikan orang tua. Oleh karena itu Rasulullah saw. sangat menekankan ihwal pahala berbakti dan mengkhidmati orang tua serta memperlakukan mereka dengan baik lagi kasih sayang. Abu Hurairah meriwayatkan, “Seorang laki-laki datang menghadap kepada Rasulullah saw. dan menanyakan siapakah yang paling berhak atas perlakuan baik dari dia. Rasulullah saw. menjawab: ‘Ibumu.’ Orang itu menanyakan lagi. ‘Dan sesudah itu?’ Rasulullah saw. mengulangi lagi, ‘Ibumu.’ Orang itu bertanya untuk ketiga kalinya, ‘Dan sesudah ibuku?’ dan Rasulullah saw. menjawab lagi, ‘Masih ibumu juga’ dan ketika orang itu bertanya untuk ke empat kalinya, beliau bersabda, ‘Sesudah ibumu bapakmu dan sesudah dia keluarga terdekat dan sesudah itu keluarga yang lebih jauh.”<br /><br />Orang tua dan kakek Rasulullah saw. meninggal dunia ketika beliau masih kecil. Tetapi beberapa orang tua istri-istri beliau masih hidup dan beliau senantiasa memperlakukan mereka dengan kasih-sayang dan takzim. Pada peristiwa jatuhnya Mekkah, ketika Rasulullah saw. memasuki kota sebagai panglima yang gagah perkasa, Abu Bakar membawa ayahnya menghadap. Beliau bersabda kepada Abu Bakar, “Mengapa Anda menyusahkan ayah Anda untuk datang kepadaku. Aku sendiri akan merasa berbahagia menghadap kepada beliau” (Halbiyya, Jilid 3 hlm.99). Salah satu sabda Rasulullah saw. ialah, “Malang benar orang yang orang tuanya mencapai usia lanjut tapi ia gagal meraih surga juga,” artinya, mengkhidmati orang tua, terutama saat mereka mencapai usia lanjut, menarik rida dan karunia Ilahi dan oleh karena itu seseorang yang terbuka kepadanya kesempatan mengkhidmati orang tuanya yang lanjut usia dan berusaha menggunakan kesempatan itu sepenuhnya, pasti akan menjadi kuat dalam jalan takwa dan menjadi penerima karunia Ilahi.<br /><br />Seorang orang pada suatu ketika mengeluh kepada Rasulullah saw. bahwa makin baik ia berbuat baik kepada sanak-saudaranya, makin tidak bersahabat pula mereka terhadap dirinya, dan makin mereka diperlakukan dengan kasih sayang, makin mereka aniaya terhadap dirinya, dan makin ia memperlihatkan cinta kepada mereka, makin benci juga mereka terhadap dia. Rasulullah saw. bersabda, “Jika apa yang kau katakan itu benar maka kamu sangat beruntung, sebab kamu senantiasa akan menjadi orang yang menerima perlindungan dan pertolongan Ilahi” (Muslim, Kitab al-Birr wal Sila).<br /><br />Pada suatu waktu ketika Rasulullah saw. sedang menasihati orang-orang agar memberi sedekah, seorang dari pada sahabat, Abu Talha Ansari, menghadap kepada beliau dan menyerahkan sebuah kebun guna dipergunakan untuk tujuan menolong orang-orang miskin. Rasulullah saw. sangat gembira dan berseru, “Alangkah bagusnya sedekah ini! Alangkah bagusnya sedekah ini!” dan menambahkan, “Setelah menyerahkan kebun itu untuk mengkhidmati orang-orang miskin, aku minta kamu sekarang membagi-bagikannya diantara sanak saudaramu yang miskin.” (Bukhari, Kitab al-Tafsir).<br /><br />Pada suatu waktu seseorang datang menghadap kepada beliau dan berkata, “Ya Rasulullah, aku bersedia berjanji akan berhijrah dan aku bersedia janji akan ikut berjihad, sebab aku sangat menghendaki rida Ilahi.” Rasulullah saw. bertanya, apakah salah seorang dari orang tuanya masih hidup dan orang itu menjawab bahwa kedua-duanya masih hidup. Maka beliau bertanya, “Apakah kamu sungguh-sungguh ingin mendapatkan rida Ilahi?” Dan, atas jawaban orang itu bahwa ia sungguh-sungguh mendambakan hal itu, Rasulullah saw. bersabda, “Kembalilah kepada orang tuamu dan khidmatilah mereka, dan khidmati mereka dengan sungguh-sungguh.” Beliau menegaskan bahwa sanak-saudara seseorang yang belum masuk Islam sama-sama berhak atas perlakuan baik dan kasih-sayang seperti halnya sanak-saudaranya yang sudah menjadi muslim. Salah seorang dari istri-istri Abu Bakar yang bukan muslim mengunjungi anaknya, Asma dan anaknya itu bertanya kepada Rasulullah saw., apakah boleh ia mengkhidmati ibunya dan memberi hadiah kepadanya; dijawab oleh Rasulullah saw. “Tentu saja, sebab ia ibumu” (Bukhari, Kitab al-Adab).<br /><br />Beliau tidak saja memperlakukan sanak-saudara yang dekat dengan kasih sayang, bahkan kerabat yang sudah jauh pun dan siapa pun yang mempunyai pertalian dengan mereka diberi perlakuan sangat baik. Bilamana beliau menyembelih korban seekor ternak, beliau biasa mengirimkan sebagian dagingnya kepada sahabat-sahabat Khadijah (istri beliau yang telah wafat) dan berpesan kepada istri-istri beliau agar tidak melupakan mereka dalam peristiwa-peristiwa semacam itu. Beberapa tahun sesudah wafat Khadijah ra. ketika beliau bercengkerama dengan para sahabat, saudara perempuan Khadijah, Halah, datang berkunjung dan meminta izin masuk. Suaranya sampai ke telinga Rasulullah saw. layaknya seperti suara Khadijah ra. dan ketika beliau mendengar beliau bersabda, “Ya Allah, itulah Halah, saudara Khadijah.” Sesungguhnya cinta yang sejati senantiasa menjelmakan diri demikian bahwa seseorang mencintai juga segala sesuatu yang ada pertaliannya dengan orang yang dicintai dan dihormati.<br /><br />Anas bin Malik meriwayatkan bahwa dalam suatu perjalanan, tahu-tahu ia sudah ada bersama-sama dengan Jarir bin Abdullah dan dirasakan olehnya bahwa kawannya ini menjaga dia seperti seorang budak menjaga tuannya. Karena Jarir bin Abdullah lebih tua daripada Anas, Anas menjadi malu dan menegurnya supaya Jarir tidak bersusah payah. Jarir menjawab, “Aku biasa melihat bagaimana patuh dan rajinnya kaum Ansar melayani Rasulullah saw. dan karena sangat terkesan oleh bakti dan cinta mereka terhadap Rasulullah saw. aku telah mengambil keputusan dalam diriku sendiri bahwa bilamana aku kebetulan ada bersama-sama seorang Ansar, aku akan melayani sebagai pelayannya. Oleh karena itu, aku hanya melaksanakan keputusanku sendiri dan Anda tidak usah melarang” (Muslim).<br /><br />Peristiwa itu menandakan bahwa kalau seseorang benar-benar mencintai orang lain, cintanya meliputi juga mereka yang sungguh-sungguh mengkhidmati sesuatu yang disayang orang itu. Begitu juga mereka yang benar-benar mencintai orang tua senantiasa menunjukkan hormat dan perhatian penuh terhdap mereka yang sedikit banyak ada hubungan dengan orang tua mereka dalam bentuk ikatan kasih-sayang atau kekeluargaan. Pada suatu peristiwa Rasulullah saw. menekankan bahwa menghormati sahabat-sahabat ayah merupakan kebajikan yang utama. Di antara orang-orang yang mendengar, terdapat Abdullah bin Umar. Beberapa tahun kemudian, pada masa ibadah Haj, ia berjumpa dengan seorang Bedui dan Abdullah bin Umar menyerahkan keledainya sendiri kepadanya dan juga memberikan serbannya. Seorang dari antara kawannya mengatakan bahwa Abdullah bin Umar terlalu royal, padahal seorang Bedui akan gembira dan puas dengan pemberian sekedarnya. Abdullah bin Umar berkata, “Ayah orang itu adalah sahabat ayahku dan aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda bahwa suatu amal utama seseorang yang saleh ialah menghormati dan memuliakan sahabat ayahnya.”Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-40045993498660027242016-12-26T18:22:00.001-08:002016-12-26T18:22:19.985-08:00Perlakuan Rasulullah saw terhadap TetanggaHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><br />Beliau senantiasa memperlakukan tetangga-tetangga beliau dengan ramah dan penuh pengertian sekali. Beliau sering mengatakan bahwa Malaikat Jibril telah menekankan begitu seringnya supaya kasih-sayang terhadap tetangga-tetangga sehingga beliau kadang-kadang mulai menyangka bahwa seorang tetangga barangkali harus dimasukkan ke dalam kalangan ahliwaris yang telah digariskan. Abu Dharr meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda kepadanya, “Abu Dharr, jika kuah daging sedang dimasak untuk keluargamu, tambahkanlah lebih banyak air kepada masakan itu agar tetanggamu juga mendapat bagiannya.” Hal itu tidak berarti bahwa tetangga jangan diundang untuk menikmati masakan-masakan lain, tetapi oleh karena kaum Arab pada umumnya adalah kaum kelana dan makanan yang paling digemari adalah gulai daging. Rasulullah saw. menyebut makanan itu sebagai makanan istimewa, dan mengajarkan bahwa seseorang hendaknya jangan begitu lebih mementingkan kelezatan makanan daripada kewajiban mengikutsertakan salah seorang tetangganya.<br /><br />Abu Hurairah meriwayatkan: “Sekali peristiwa Rasulullah saw. berseru, ‘Aku bersumpah dengan nama Tuhan bahwa ia bukan orang beriman! Aku bersumpah dengan nama Tuhan bahwa ia bukan orang beriman! Aku bersumpah dengan nama Tuhan bahwa ia bukan orang beriman!’ Para sahabat menanyakan, ‘Siapakah yang bukan orang beriman itu, ya Rasulullah?’ dan beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak selamat terhadap kemudaratan dan perlakuan buruk dari tangan mereka. Sekali peristiwa ketika beliau berbicara kepada kaum wanita, beliau bersabda, ‘Jika seseorang hanya punya kaki kambing untuk dimasak, ia hendaknya membagi tetangganya.’ Beliau meminta orang-orang supaya jangan menaruh keberatan terhadap tetangganya memasang pasak ke dalam dinding rumahnya atau mempergunakan dinding untuk sesuatu keperluan lain yang tidak menimbulkan kerugian atau kerusakan.’ Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang beriman kepada Tuhan dan Hari Pembalasan hendaknya jangan mendatangkan kesusahan kepada tetangganya, orang yang beriman kepada Tuhan dan Hari Pembalasan hendaknya jangan mendatangkan kesusahan kepada tamunya dan orang yang beriman kepada Tuhan dan Hari Pembalasan hendaknya mengucapkan kata-kata baik lagi berfaedah atau ia hendaknya tutup mulut saja” (Muslim).Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-83054254177204689622016-12-26T18:21:00.000-08:002016-12-26T18:21:07.663-08:00Sikap Rasulullah saw terhadap Orang Yang MeninggalHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><br />Beliau memerintahkan tiap-tiap orang supaya membuat surat wasiat tentang cara menyelesaikan urusannya sesudah ia meninggal dunia sehingga pihak yang bersangkutan tidak akan begitu disusahkan sepeninggalnya. Beliau menetapkan bahwa orang tidak boleh membicarakan keburukan seseorang yang telah meninggal melainkan hendaknya menekankan pada kebaikan apa saja yang dimiliki almarhum, sebab tidak ada faedahnya menyebut-nyebut kelemahan atau kejahatan orang yang sudah meninggal. Tetapi dengan mengemukakan kebaikan-kebaikan almarhum orang akan cenderung mendoakan (Bukhari).<br /><br />Beliau menegaskan mengenai orang yang meninggal supaya utang-utangnya dibayar lunas sebelum ia dikuburkan. Beliau seringkali melunasi utang seseorang yang telah meninggal dari saku beliau sendiri, tetapi jika beliau tidak mampu berbuat seperti itu, beliau menganjurkan kepada para ahli-waris dan sanak saudara orang yang meninggal atau orang-orang lain untuk membereskan utang-utangnya dan beliau tidak mau mendirikan sembahyang jenazah untuk orang yang telah meninggal sebelum utang-utangnya diselesaikan.Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-31273300005630778132016-12-26T18:19:00.003-08:002016-12-26T18:19:59.888-08:00Perlakuan Rasulullah saw terhadap Para WanitaHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><br />Rasulullah saw. sangat berhasrat memperbaiki keadaan wanita di tengah masyarakat, menjamin mereka mendapat kedudukan terhormat dan perlakuan wajar lagi pantas. Islam adalah agama pertama yang memberikan hak waris kepada wanita. Alquran menjadikan anak-anak perempuan, bersama-sama dengan anak-anak lelaki, ahli waris kekayaan orang tua mereka. Demikian pula ibu menjadi ahli waris harta benda peninggalan anak laki-laki atau anak perempuan, dan seorang istri jadi ahli waris harta benda suaminya. Jika seorang saudara laki-laki menjadi ahli waris harta benda saudaranya yang meninggal, maka saudara perempuan juga jadi ahli waris harta-benda itu. Tidak ada agama sebelum Islam begitu jelas dan tegas dalam menjamin hak waris wanita dan hak memiliki harta kekayaan. Dalam Islam seorang wanita menjadi pemilik mutlak harta-bendanya sendiri dan suaminya tak dapat mempunyai hak sedikit pun mengendalikan harta-benda itu hanya semata-mata karena alasan ia suaminya. Seorang wanita bebas sepenuhnya bertindak atas harta bendanya menurut kehendaknya sendiri.<br /><br />Rasulullah saw. begitu berhati-hati mengenai perlakuan terhadap wanita sehingga mereka di sekitar beliau, yang sebelumnya tidak biasa memandang kepada wanita sebagai kawan dan mitra, merasa sukar untuk menyesuaikan diri pada standar yang Rasulullah saw. begitu menghendaki sekali supaya dilaksanakan dan dipelihara. Sayyidina Umar meriwayatkan, “Istriku kadang-kadang berusaha mencampuri urusanku dengan memberi saran dan usul dan aku biasa memarahinya dengan mengatakan bahwa bangsa Arab tidak pernah mengizinkan istrinya mencampuri urusannya.” Ia membantah, “Masa itu telah lewat. Rasulullah saw. mengizinkan istri-istri beliau memberi saran dan usul dalam urusan beliau dan beliau tidak melarangnya. Mengapa engkau tidak mengikuti contoh beliau?” Maka aku biasa menjawab: Mengenai Aisyah, Rasulullah saw. sangat senang kepadanya, tetapi mengenai anakmu (Hafsah), jika ia berbuat demikian, pada suatu hari ia akan menderita oleh kelancangannya. Telah terjadi bahwa sekali peristiwa Rasulullah saw. marah, karena suatu sebab, memutuskan untuk hidup pisah dari istri-istri beliau, untuk sementara waktu. Ketika aku mengetahui itu kukatakan kepada istriku: Apa yang kutakutkan telah terjadi. Kemudian aku pergi ke rumah anakku, Hafsah dan mendapatkannya sedang menangis. Kutanyakan apa sebab-sebabnya, dan apakah Rasulullah saw. telah menceraikan. Ia menjawab, ‘Aku tak tahu apa-apa tentang perceraian, tetapi Rasulullah saw. telah memutuskan untuk hidup pisah, untuk sementara waktu dari kami semua.’ Bukankah aku telah sering mengatakan bahwa kau jangan begitu lancang seperti Aisyah terhadap beliau, sebab Rasulullah saw. sangat mencintai Aisyah, tetapi kau agaknya telah menerima akibat yang aku khawatirkan’ Kemudian aku menghadap Rasulullah saw. dan melihat beliau sedang berbaring di atas tikar kasar. Beliau pada waktu itu tidak memakai kemeja dan pada tubuh beliau nampak kesan tapak tikar. Aku duduk dekat beliau dan berkata, ‘Ya Rasulullah! Kaisar dan Kisra tidak berhak menikmati karunia Ilahi sedikit pun, tetapi walaupun demikian, mereka hidup dalam kemewahan, sedangkan Anda, sebagai Rasul Allah, begitu sengsara. Rasulullah saw. menjawab, ‘Itu tidak benar. Dari utusan-utusan Allah tidak diharapkan akan menggunakan waktunya dalam kesenangan. Kehidupan demikian hanya pantas untuk raja-raja duniawi’. Kemudian aku menyampaikan kepada Rasulullah apa yang terjadi antara istriku dan anakku. Mendengar hal itu Rasulullah saw. tertawa dan bersabda, ‘Tidak benar aku telah menceraikan istri-istriku. Aku hanya memandang ada baiknya kalau hidup untuk sementara waktu pisah dari mereka’ (Bukhari, Kitab al-Nikah).<br /><br />Beliau begitu hati-hati mengenai perasaan wanita sehingga sekali peristiwa, ketika beliau memimpin sembahyang dan mendengar seorang anak menangis, beliau menyelesaikan salat secepat mungkin. Beliau menerangkan kemudian bahwa ketika beliau mendengar tangisan anak itu, beliau membayangkan bahwa ibu anak itu tentu amat gelisah, dan oleh karena itu beliau menyelesaikan salat itu dengan cepat sehingga ibu itu dapat pergi ke anaknya dan mengurusnya.<br /><br />Jika dalam salah satu perjalanan beliau ada pula wanita-wanita ikut serta, beliau senantiasa memberi petunjuk supaya kafilah bergerak lambat dan berhenti-henti secara bertahap. Pada suatu kesempatan serupa itu ketika orang-orang mau sekali maju cepat, beliau bersabda, “Perhatikan kaca! Perhatikan kaca!” dengan maksud mengatakan bahwa ada wanita-wanita dalam rombongan dan bahwa jika unta-unta dan kuda-kuda berlari cepat, mereka itu akan menderita dari bantingan-bantingan binatang-binatang itu (Bukhari, Kitab al-Adab).<br /><br />Pada suatu pertempuran timbul kekacauan di tengah barisan-barisan berkuda dan binatang-binatang itu pun tidak terkendalikan. Rasulullah saw. jatuh dari kuda, begitu pula beberapa wanita jatuh dari tunggangan mereka. Seorang dari antara sahabat-sahabat yang mengendarai unta dekat benar di belakang Rasulullah saw., turun dengan meloncat dan berlari-lari kepada Rasulullah saw. sambil berteriak. “Biarlah aku berkorban untuk anda, ya Rasulullah.” Kaki Rasulullah saw. masih tersangkut di sanggurdi. Beliau melepaskan dengan segera kaki itu dan bersabda, ”Jangan pedulikan aku, lekas tolong wanita-wanita itu.”<br /><br />Sesaat sebelum beliau wafat, salah satu dari perintah yang ditujukkan kepada kaum Muslimin dan sangat ditekankan oleh beliau ialah, mereka hendaknya senantiasa memperlakukan wanita dengan baik dan kasih sayang. Beliau seringkali dan berulang-ulang mengatakan, jika seseorang mempunyai anak-anak perempuan dan ia telah berusaha agar mereka mendapat didikan dan ia berusaha keras memelihara mereka, Tuhan akan menyelamatkannya dari siksaan neraka (Tirmidhi).<br /><br />Telah menjadi kebiasaan pada orang-orang Arab memberi siksaan jasmani kepada wanita atas tiap-tiap kesalahan kecil. Rasulullah saw. mengajarkan bahwa wanita itu sama seperti pria selaku makhluk Tuhan dan bukan budak kaum pria dan tidak boleh dipukul. Tatkala wanita-wanita mengetahui hal itu, ulah mereka menjadi sama sekali terbalik dan mulai berani membantah kaum pria dalam segala hal, akibatnya ialah dalam beberapa rumah kedamaian dan ketenteraman rumah tangga senantiasa terganggu. Sayyidina Umar menerangkan hal itu kepada Rasulullah saw. dan berkata bahwa kecuali jika kaum wanita kadang-kadang boleh dihukum, mereka akan menjadi susah diatur dan tidak ada yang mengendalikan lagi. Karena ajaran Islam bertalian dengan perlakuan terhadap wanita-wanita belum diturunkan, Rasulullah saw. bersabda bahwa jika seorang wanita bertindak melampaui batas, ia boleh dihukum. Hal itu pada gilirannya menjadikan kaum pria, dalam beberapa hal, kembali kepada kebiasaan-kebiasaan Arab kuno. Sekarang datang lagi giliran kepada kaum wanita untuk mengeluh dan mereka membentangkan kesusahan kepada istri-istri Rasulullah saw. Akibatnya Rasulullah saw. menyesali kaum pria dan mengatakan kepada mereka bahwa siapa yang memperlakukan wanita-wanita secara tidak baik, tidak mungkin dapat menarik keridaan Ilahi. Kemudian hak-hak wanita ditetapkan, dan untuk pertama kalinya wanita mulai diperlakukan sebagai pribadi-pribadi yang mandiri dengan hak mereka masing-masing (Abu Daud, Kitab al-Nikah).<br /><br />Mu’awiyah Al Qusyairi meriwayatkan, “Aku menanyakan kepada Rasulullah saw. hak apa istriku dapat menuntut daripadaku?” dan beliau menjawab, “Berilah dia makan dari apa-apa yang Tuhan telah merezekikan kepadamu dalam urusan makan, dan berilah ia pakaian yang Tuhan telah menganugerahkannya kepadamu dalam urusan pakaian, dan janganlah menyiksa atau memaki-maki atau mengusirnya dari rumahmu.”<br /><br />Beliau begitu berhati-hati tentang perasaan wanita sehingga beliau senantiasa menganjurkan kepada orang-orang yang harus melakukan perjalanan supaya menyelesaikan urusan secepat-cepatnya dan pulang selekas mungkin sehingga wanita-wanita dan anak-anak mereka tidak akan menjadi resah karena pisah lebih daripada yang benar-benar diperlukan. Jika beliau pulang dari perjalanan, beliau biasa datang siang hari. Jika beliau kembali dari perjalanan sedang hari hampir malam, beliau biasa berkemah dahulu di luar Medinah pada malam itu sebelum masuk kota di waktu pagi esok harinya. Beliau mengatakan juga kepada pada sahabat bahwa jika mereka pulang dari suatu perjalanan, mereka hendaknya tidak pulang secara tiba-tiba tanpa memberi khabar lebih dahulu tentang kedatangan mereka kembali (Bukhari dan Muslim). Dalam memberikan petunjuk-petunjuk, beliau ingat akan kenyataan bahwa perhubungan antara dua jenis kelamin itu bagian besar dipengaruhi oleh perasaan. Dalam waktu suami tidak ada di rumah seorang wanita mungkin sering mengabaikan mengurus badan sendiri dan pakaiannya, dan jika suaminya tiba-tiba pulang tanpa diduga-duga, maka perasaan halus wanita mungkin akan tersinggung. Dengan memberi petunjuk bahwa jika seseorang pulang dari perjalanan hendaklah berusaha datang ke rumah pada siang hari dan lebih dahulu memberi kabar kepada anggota-anggota keluarga tentang kedatangannya, beliau meyakinkan bahwa anggota-anggota keluarga akan siap menerima anggota keluarga yang pulang itu dengan cara yang layak.<br /><br />Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-14166096841207730262016-12-26T18:18:00.006-08:002016-12-26T18:18:59.790-08:00Perlakuan Rasulullah saw terhadap Para BudakHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><br />Beliau senantiasa menganjurkan kepada mereka yang mempunyai budak-budak supaya memperlakukan mereka dengan baik serta kasih sayang. Beliau menetapkan bahwa jika si pemilik memukul budaknya atau memaki-makinya, maka satu-satunya perbaikan yang dapat dilakukannya ialah memerdekakannya (Muslim, Kitab al-Iman). Beliau membuat sarana untuk, dan mendorong, memerdekakan budak pada tiap-tiap kesempatan. Beliau bersabda, “Jika seseorang mempunyai budak-budak lalu memerdekakan mereka, Tuhan akan membalasnya dengan menyelamatkan tiap-tiap bagian tubuhnya sesuai dengan tiap-tiap bagian tubuh budak itu dari siksaan neraka.” Pula, beliau menetapkan bahwa seorang budak hendaknya disuruh hanya melaksanakan tugas-tugas yang ia dengan mudah dapat melakukannya dan bahwa jika ia telah diberi tugas, tuannya hendaknya membantu melakukannya sehingga budak itu tidak boleh mengalami perasaan dihina atau direndahkan (Muslim). Jika tuannya bepergian dan diikuti oleh seorang budaknya, maka menjadi kewajiban bagi tuannya untuk menaiki tunggangan baik bersama-sama atau bergantian. Abu Hurairah yang biasa mengisi semua waktunya, setelah ia masuk Islam, dengan ikut bersama Rasulullah saw. dan acapkali mendengarkan fatwa Rasulullah saw. mengenai perlakuan terhadap budak-budak; ia berkata, “Aku bersumpah dengan nama Tuhan yang ditangan-Nya terletak kehidupanku bahwa seandainya tidak ada kesempatan ikut berjihad dan naik haji dan seandainya tidak mempunyai kesempatan mengkhidmati ibuku yang sudah tua aku ingin mati sebagai budak, karena Rasulullah saw. senantiasa menuntut supaya budak-budak diperlakukan dengan baik dan kasih-sayang (Muslim).<br /><br />Ma’rur bin Suwaid meriwayatkan, “Aku melihat Abu Dharr Ghaffari (seorang sahabat) mengenakan pakaian yang betul-betul sama dengan pakaian yang dikenakan oleh budak-budaknya. Aku menanyakan kepadanya alasan tentang itu dan ia berkata, ‘Di zaman Rasulullah saw. sekali peristiwa aku memaki-maki seorang laki-laki dan menghinanya karena ibunya seorang budak. Menyaksikan hal itu Rasulullah saw. menyesaliku dan bersabda, ‘Kamu agaknya masih terbiasa dengan tingkah-laku jahiliyah. Apakah budak itu? Mereka saudaramu dan sumber kekuatanmu. Tuhan Yang Mahabijaksana telah memberikan kepadamu, untuk sementara waktu, kekuasaan di atas mereka. Yang mempunyai kekuasaan terhadap saudaranya, hendaknya memberi makan seperti ia makan sendiri, memberi pakaian seperti yang dipakai sendiri dan hendaknya tidak memberi tugas di luar kemampuannya dan membantunya dalam melaksanakan tugasnya.” Pada peristiwa lain Rasulullah saw. bersabda, “Jika pelayanmu memasak makanan untuk kamu dan menghidangkannya kepadamu, kamu hendaknya mengajaknya makan dan duduk bersama atau sekurang-kurangnya ikut makan sebagian makanan itu bersama kamu, sebab ia telah membuat dirinya berhak atas itu dengan bekerja menyiapkannya” (Muslim).<br /><br />Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-14572303749430069122016-12-26T18:17:00.000-08:002016-12-26T18:17:43.203-08:00Perhatian Rasulullah saw kepada Orang Miskin Hadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><br />Rasulullah saw. senantiasa prihatin memikirkan untuk memperbaiki keadaan golongan yang miskin dan mengangkat taraf hidup mereka di tengah-tengah masyarakat. Sekali peristiwa, ketika beliau sedang duduk-duduk dengan para sahabat, lalulah seorang kaya. Rasulullah saw. menanyakan kepada salah seorang dari para sahabat, apa pendapatnya tentang orang itu. Ia menjawab, “Ia seorang berada lagi terkenal. Jika ia meminang seorang gadis idamannya akan diterima baik dan jika ia menjadi perantara untuk kepentingan seseorang, perantaraannya itu akan diterima.” Tak lama kemudian, lalulah seorang orang lain yang nampaknya miskin dan tidak mampu. Rasulullah saw. menanyakan kepada sahabat tadi, bagaimana orang itu menurut pendapatnya. Ia menjawab, “Ya Rasulullah! Ia seorang orang miskin. Jika ia meminang seorang gadis, permintaannya tidak akan diterima dengan baik dan jika ia menjadi perantara untuk seseorang perantaraannya akan ditolak dan jika ia berusaha mengajak bercakap-cakap dengan seseorang, ia tidak akan mendapat perhatian.” Setelah mendengar jawaban itu, Rasulullah saw. bersabda, ”Nilai orang miskin itu jauh lebih tinggi dari nilai sejumlah emas yang cukup untuk mengisi sekalian alam” (Bukhari, Kitabal-Riqaq).<br /><br />Seorang wanita Muslim biasa membersihkan Mesjid Nabi di Medinah. Rasulullah saw. tidak melihatnya lagi di mesjid sudah beberapa hari dan beliau menanyakan ihwalnya. Disampaikan kepada beliau bahwa ia sudah meninggal. Beliau bersabda, “Mengapa aku tidak diberi tahu kalau ia meninggal? Aku pasti akan ikut dalam sembahyang jenazahnya,” dan menambahkan “Barangkali kalian tidak memandangnya cukup penting karena ia miskin. Anggapan itu salah. Bawalah aku ke kuburannya.” Kemudian beliau pergi ke sana dan mendoa untuk dia (Bukhari, Kitabal-Salat). Beliau biasa bersabda bahwa ada orang-orang dengan rambut kusut-masai, tubuhnya tertutup dengan debu, dan mereka tidak disambut oleh orang-orang berada, tetapi begitu tinggi dihargai Tuhan sehingga jika dengan bertawakal kepada Tuhan mereka bersumpah atas nama Allah bahwa suatu hal akan mengalami perubahan, Tuhan akan membantu mereka” (Muslim, Kitabal-Bir wal Sila). Sekali peristiwa beberapa sahabat, bekas budak-budak tapi sudah dimerdekakan, bersama-sama duduk ketika Abu Sufyan (seorang pemimpin Kuraisy yang memerangi kaum Muslim sampai jatuhnya Mekkah dan baru masuk Islam pada peristiwa itu) lalu ke situ. Para sahabat menegurnya dan mengingatkannya kembali kepada kemenangan yang dianugerahkan Tuhan kepada Islam. Abu Bakar mendengarnya dan tidak berkenan di hatinya bahwa seorang pemimpin Kuraisy diperingatkan kepada penghinaan yang dideritanya, lalu kumpulan sahabat itu ditegurnya. Ia menghadap Rasulullah saw. dan menceritakan peristiwa itu kepada beliau. Rasulullah saw. bersabda, “Hai Abu Bakar! Aku khawatir engkau telah melukai hati hamba-hamba Allah itu. Jika demikian, Tuhan akan murka terhadapmu.” Abu Bakar segera kembali kepada para sahabat itu dan bertanya, “Wahai saudara-saudarku! Apakah saudara-saudara sakit hati atas apa yang kukatakan tadi? Mereka menjawab, “Kami tidak mendendam atas perkataan anda. Semoga Tuhan memaafkan anda” (Bukhari, Kitab al-Fada’il).<br /><br />Tetapi, sementara Rasulullah saw. menuntut supaya kaum miskin dihargai dan perasaan mereka tidak dilukai dan memenuhi segala kebutuhan mereka, beliau berusaha juga meresapkan rasa harga diri ke dalam hati mereka dan mengajarkan agar tidak meminta-minta. Beliau biasa mengatakan bahwa tidak pantas bagi seorang orang miskin merasa puas dengan sebutir atau dua butir kurma atau sesuap atau dua suap makanan, tetapi ia harus menghindarkan diri dari meminta-minta, betapa beratnya juga percobaan yang dihadapinya (Bukhari, Kitab al-Kusuf). Sebaliknya, beliau biasa mengatakan juga bahwa tidak ada suatu kenduri mendapat berkah selama beberapa orang miskin juga tidak diundang. Aisyah ra. menceritakan bahwa seorang wanita miskin pada suatu ketika datang kepada beliau disertai oleh dua anak perempuannya yang masih kecil. Aisyah ra. tak punya apa-apa pada saat itu kecuali sebutir kurma yang dapat diberikan oleh beliau kepada wanita itu. Wanita itu membagikannya kepada dua anaknya yang kecil itu dan kemudian mereka itu berlalu. Ketika Rasulullah saw. tiba di rumah, Aisyah ra. menceritakan hal itu kepada beliau dan Rasulullah saw. bersabda, “Jika seorang orang miskin mempunyai anak-anak perempuan dan ia memperlakukannya dengan baik, Tuhan akan menyelamatkan dia dari api neraka,” dan menambahkan, “Tuhan akan menyediakan surga kepada wanita itu disebabkan oleh perlakuan baiknya terhadap anak-anak perempuan” (Muslim). Sekali peristiwa diceritakan kepada beliau bahwa seorang sahabat bernama Said, seorang yang berada, membanggakan diri tentang hasil usahanya kepada orang-orang lain. Ketika Rasulullah saw. mendengar hal itu, beliau bersabda, “Janganlah seorang menyangka bahwa kekayaan atau kedudukan atau kekuasaannya adalah semata-mata buah usahanya sendiri. Keadaannya tidak demikian. Kekuasaanmu, kedudukanmu dan kekayaanmu, semuanya diperoleh dengan perantaraan si miskin.”<br /><br />Salah satu doa beliau ialah, “Ya Tuhan! Buatlah hamba ini tetap merendahkan diri selama hamba hidup, dan buatlah hamba merendahkan diri jika hamba mati dan bangkitkanlah hamba pada Hari Pembalasan bersama mereka yang merendahkan diri” (Tirmidhi, Abwab al-Zuhd).<br /><br />Sekali peristiwa di musim panas, ketika beliau berjalan melalui suatu jalan raya dilihat beliau seorang muslim yang sangat miskin sedang memikul barang-barang berat dari suatu tempat ke tempat yang lain. Ia seorang dengan paras amat sederhana dan nampak lebih tidak menarik lagi dengan baju kotor oleh keringat dan debu. Pandangannya sayu. Rasulullah saw. mendekatinya dengan diam-diam dari belakang dan beliau seperti anak-anak kadang-kadang berbuat dalam senda gurau, menjulurkan tangan beliau ke muka dan menutup mata kuli itu agar ia menerka siapa beliau. Orang itu menjulurkan tangannya ke belakang dan sambil meraba-raba badan Rasulullah saw. ia mengetahui bahwa Rasulullah saw. lah yang ada di belakangnya. Barangkali ia dapat menerka juga bahwa tak ada seorang orang lain yang memperlihatkan kecintaan yang begitu mesra terhadap orang seperti dia. Karena hatinya senang dan padanya timbul keberanian, ia merapatkan dirinya ke tubuh Rasulullah saw. serta menggosok-gosokkan badannya yang berdebu dan berkeringat itu ke pakaian Rasulullah, barangkali hendak meyakinkan dirinya sampai di mana Rasulullah saw. mau membiarkan dirinya diperlakukan serupa itu. Rasulullah saw. tetap mengulum senyum dan tidak menyuruhnya berhenti dari perbuatan itu. Ketika orang itu telah merasa puas dan juga merasa terharu, Rasulullah saw. bertanya, “Aku mempunyai seorang budak. Adakah, menurut pendapatmu, orang yang mau membelinya?”<br /><br />Orang itu menyadari bahwa barangkali tak ada seorang pun di seluruh dunia kecuali Rasulullah saw. sendiri yang berminat kepadanya dan dengan menghela nafas sedih ia menjawab, “Ya Rasulullah. Tidak ada seorang pun di bumi ini yang bersedia membeliku.”<br /><br />Rasulullah saw. bersabda, “Tidak! Tidak! Kamu jangan berkata demikian. Kamu sangat berharga dalam pandangan Ilahi” (Syarh al-Sunnah).<br /><br />Bukan saja beliau sangat prihatin akan kesejahteraan si miskin, tetapi beliau senantiasa menganjurkan pula kepada orang-orang lain untuk berbuat serupa.<br /><br />Abu Musa Asy’ari meriwayatkan bahwa jika seorang miskin menghadap Rasulullah saw. dan mengajukan permintaan, beliau biasa bersabda kepada orang di sekitar beliau, “Kamu juga hendaknya memenuhi permintaannya itu sehingga mendapat pahala sebagai orang yang berperan serta dalam menggalakkan perbuatan baik” (Bukhari dan Muslim), dengan tujuan membangkitkan rasa cenderung untuk menolong si miskin di satu pihak dalam hati para sahabat, dan di pihak lain menimbulkan kesadaran dalam hati kaum fakir-miskin adanya cinta dan rasa kasih saudara-saudara mereka yang kaya.<br /><br /><h4>Rasulullah saw Menjaga Kepentingan Si Miskin</h4><br />Ketika Islam berangsur diterima secara umum oleh bagian terbesar bangsa Arab, Rasulullah saw. sering menerima barang dan uang berlimpah-limpah, beliau segera membagi-bagikan hadiah-hadiah itu di antara mereka yang sangat membutuhkan. Sekali peristiwa anak beliau, Fatimah, datang mendapatkan beliau dan sambil memperlihatkan telapak tangannya yang tebal dan keras akibat pekerjaan menepung gandum dengan batu, memohon agar diberi seorang budak untuk meringankan pekerjaannya. Rasulullah saw. menjawab, “Aku akan menceritakan kepadamu sesuatu yang nanti akan terbukti jauh lebih berharga daripada seorang budak. Jika engkau mau tidur pada malam hari, engkau hendaknya membaca Subhanallah tiga puluh tiga kali, Alhamdulillah tiga puluh tiga kali dan Allahu Akbar tiga puluh empat kali. Hal itu akan jauh lebih banyak menolongmu daripada memelihara seorang budak” (Bukhari).<br /><br />Sekali peristiwa tengah membagi-bagikan uang, sekeping mata uang terjatuh, meluncur, dan menghilang. Sesudah selesai membagi-bagikan uang itu beliau pergi ke mesjid untuk memimpin sembahyang. Beliau biasa duduk-duduk sejenak selepas sembahyang berzikir Ilahi. Sesudah itu orang-orang diberi kesempatan untuk menghadap dan bertanya atau mengajukan permohonan. Tapi kali itu, begitu usai sembahyang, beliau bangkit dan cepat-cepat pulang. Beliau mencari mata uang yang hilang tadi dan sesudah ditemukannya kembali, beliau kembali dan memberikan uang itu kepada seorang-orang yang membutuhkannya. Beliau menerangkan bahwa mata uang itu jatuh ketika membagi-bagikan uang dan hal itu kemudian beliau lupakan, tetapi ketika dengan tiba-tiba pada waktu mengimami sembahyang teringat kembali maka beliau menjadi gelisah karena di usik pikiran bahwa jika beliau wafat sebelum menemukan kembali uang itu dan memberikannya kepada orang yang membutuhkan, beliau akan dituntut pertanggungjawaban di hadapan Tuhan. Itulah sebabnya beliau meninggalkan mesjid begitu tergesa-gesa untuk menemukan kembali uang tersebut (Bukhari, Kitab al-Kusuf).<br /><br />Karena besarnya minat beliau menjaga kepentingan kaum fakir-miskin beliau begitu jauh sehingga beliau menetapkan bahwa untuk selama-lamanya sedekah tidak boleh diberikan kepada keturunan beliau, karena khawatir jangan-jangan orang-orang muslim, karena cinta dan bakti terhadap beliau, pada suatu waktu akan mengutamakan sedekah kepada keturunan beliau dan dengan demikian merampas hak kaum fakir-miskin. Sekali peristiwa seseorang membawa kepada beliau sejumlah kurma dan mempersembahkannya sebagai sedekah. Cucu beliau, Imam Hassan, yang pada saat itu baru berusia dua setengah tahun, kebetulan duduk-duduk bersama Rasulullah saw. Ia mengambil sebutir kurma dan memasukkan ke dalam mulut. Rasulullah saw. segera memasukkan jari ke dalam mulut si anak dan mengeluarkan kurma itu dengan paksa sambil bersabda, “Kita tidak berhak atas ini. Ini hak orang-orang miskin dari antara makhluk Tuhan” (Bukhari, Kitab al-Kusuf).Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-41691228242380696512016-12-26T18:10:00.006-08:002016-12-26T18:10:54.382-08:00Keadilan & Perlakuan Adil Rasulullah sawHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><br />Bangsa Arab sangat suka mengagumi pribadi-pribadi tertentu dan menerapkan berbagai patokan kepada berbagai orang. Bahkan di antara bangsa-bangsa yang disebut beradab dewasa ini kita menyaksikan adanya keengganan mengadakan tuntutan terhadap orang-orang terkemuka atau yang mempunyai kedudukan atau jabatan yang tinggi atas perbuatan mereka, walaupun hukum diberlakukan secara ketat terhadap warganegara biasa. Tetapi, Rasulullah saw. adalah mandiri dalam menerapkan keadilan dan perlakuan adil. Sekali peristiwa suatu perkara dihadapkan kepada beliau tatkala seorang bangsawati terbukti telah melakukan pencurian. Hal itu menggemparkan, karena jika hukuman yang berlaku dikenakan terhadap wanita muda usia itu, martabat suatu keluarga sangat terhormat akan jatuh dan terhina. Banyak yang ingin mendesak Rasulullah saw., demi kepentingan orang yang berdosa itu, tetapi tidak mempunyai keberanian. Maka Usama diserahi tugas melaksanakan itu. Usama menghadap Rasulullah saw. tetapi serenta beliau mengerti maksud tugasnya itu, beliau sangat marah dan bersabda, “Kamu sebaiknya menolak. Bangsa-bangsa telah celaka karena mengistimewakan orang-orang kelas tinggi tapi berlaku kejam terhadap rakyat jelata. Islam tidak mengizinkan dan aku pun sekali-kali tidak akan mengizinkan. Sesungguh-sungguhnya, jika Fatimah, anakku sendiri, melakukan kejahatan, aku tidak akan segan-segan menjatuhkan hukuman yang adil” (Bukhari, Kitab-al-Hudud).<br /><br />Telah diriwayatkan bahwa ketika paman Rasulullah saw. Abbas, menjadi tawanan Perang Badar, ia diikat erat-erat seperti tawanan-tawanan lainnya dengan tali untuk mencegah usaha melarikan diri. Tali itu begitu eratnya sehingga ia mengerang kesakitan sepanjang malam. Rasulullah saw. mendengar erangan itu dan karenanya beliau tidak dapat tidur. Para sahabat mengetahui hal itu dan melonggarkan ikatan Abbas. Ketika Rasulullah saw. mengetahuinya, beliau memerintahkan supaya semua tawanan diperlakukan sama seperti paman beliau dengan mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk menunjukkan keistimewaan kepada keluarga beliau sendiri. Beliau menuntut mereka supaya melonggarkan ikatan semua tawanan atau kebalikannya memperkuat lagi ikatan Abbas seperti tawanan-tawanan lain. Karena para sahabat tidak menghendaki beliau gundah hanya karena paman beliau, mereka memutuskan untuk menjaga tawanan-tawanan itu lebih keras lagi dan melonggarkan ikatan semua tawanan (Zurqani, Jilid 3, hlm.279).<br /><br />Bahkan dalam keadaan bahaya perang pun beliau sangat cermat dalam melaksanakan peraturan-peraturan dan kebiasaan-kebiasaan yang baku. Sekali peristiwa beliau mengirim serombongan sahabat pada sebuah ekspedisi penyelidikan. Mereka bertemu dengan beberapa orang musuh pada hari akhir bulan suci Rajab. Berpikir bahwa akan sangat berbahaya melepaskan mereka itu sehingga akan membawa berita ke Mekkah tentang rombongan penyelidik yang begitu dekat, musuh itu disergap oleh mereka dan dalam perkelahian itu seorang di antaranya terbunuh. Setelah rombongan penyelidik itu kembali ke Medinah, kaum Mekkah mengajukan protes bahwa penyelidik-penyelidik Muslim telah membunuh salah seorang dari orang-orang mereka. Orang-orang Mekkah sendiri sering melanggar bulan suci dalam menghadapi orang-orang muslim bila hal itu dipandang mereka itu baik, dan sebenarnya telah menjadi jawaban yang layak terhadap tuduhan mereka itu untuk mengatakan bahwa karena kaum Mekkah sendiri telah melanggar perjanjian tentang bulan suci maka mereka itu tidak berhak menuntut supaya dipatuhi oleh kaum muslimin. Tetapi, Rasulullah saw. tidak memberikan jawaban demikian. Beliau sangat menyesali anggota-anggota rombongan itu, menolak menerima harta rampasan perang dan menurut beberapa riwayat malah membayar uang darah untuk orang yang terbunuh itu, sehingga ayat 2:218 menjernihkan seluruh keadaan (Tabari dan Halbiyyah).<br /><br />Orang-orang pada umumnya berhati-hati supaya jangan menyakiti perasaan sahabat-sahabat mereka dan sanak-saudara mereka, tapi Rasulullah saw. sangat memperhatikan asas itu malah terhadap orang-orang yang memusuhi beliau sekalipun. Sekali peristiwa seorang-orang Yahudi datang kepada beliau dan menerangkan bahwa Abu Bakar telah melukai perasaannya dengan mengatakan bahwa Tuhan telah memberi kedudukan kepada Nabi Muhammad saw. lebih tinggi di atas Nabi Musa as. Rasulullah saw. memanggil Abu bakar dan menanyakan kepadanya, apa yang telah dikatakannya. Abu Bakar menerangkan bahwa orang Yahudi itu mulai lebih dahulu menyatakan bahwa ia bersumpah dengan nama Musa as. yang Tuhan, menurut kata orang itu, telah memuliakannya di atas seluruh umat manusia dan bahwa Abu Bakar menyambutnya dengan bersumpah atas nama Muhammad saw. yang Tuhan telah mengangkatnya di atas Nabi Musa as. Rasulullah saw. bersabda, “Anda seharusnya tidak mengatakan itu, karena perasaan orang-orang lain harus diperhatikan juga. Siapa pun tidak boleh mengangkatku di atas Nabi Musa as.” (Bukhari, Kitab al-Tauhid). Hal itu tidak berarti bahwa Rasulullah saw. menurut kenyataannya tidak mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada Nabi Musa as. tetapi menyatakan hal itu kepada orang Yahudi mudah menyakiti perasaannya dan hal itu harus dihindarkan.Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0tag:blogger.com,1999:blog-5936287697624927576.post-31988051035916755992016-12-26T18:09:00.003-08:002016-12-26T18:09:37.790-08:00Rasulullah saw Sempurna Menguasai DiriHadhrat H. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. beliau menuliskan:<br /><br />Beliau senantiasa dapat menguasai diri. Bahkan ketika beliau sudah menjadi orang yang paling berkuasa sekalipun selalu beliau mendengarkan dengan sabar kata tiap-tiap orang, dan jika seseorang memperlakukan beliau dengan tidak sopan, beliau tetap melayaninya dan tidak pernah mencoba mengadakan pembalasan. Kebiasaan orang timur dalam menunjukkan penghormatan terhadap orang lain yang diajak bicara ialah dengan tidak memanggil dengan nama pribadinya. Kaum Muslimin biasa memanggil Rasulullah saw. dengan kata-kata, “Ya Rasulullah” dan kaum bukan-muslim memanggil beliau, Abul Qasim (artinya bapak si Wasim, karena salah seorang anak beliau bernama Qasim).&nbsp;Sekali peristiwa seorang orang Yahudi datang kepada beliau di Medinah dan mulai bertukar pikiran dengan beliau. Dalam percakapan itu ia berulang-ulang memanggil, “Hai Muhammad, hai Muhammad.” Rasulullah saw. sendiri tidak menghiraukan cara sapaan itu dan terus dengan tenangnya menerangkan soal yang dipercakapkan. Tetapi para sahabat menjadi marah atas panggilan kurang sopan yang dipergunakan oleh orang itu sampai akhirnya seorang di antara mereka tidak dapat menguasai dirinya lagi dan memperingatkan agar tidak menyebut Rasulullah saw. dengan &nbsp;nama asli beliau, tetapi dengan sebutan Abul Qasim. Orang Yahudi itu mengatakan bahwa ia akan menyebut beliau dengan nama yang diberikan oleh orang tua beliau. Rasulullah saw. tersenyum dan bersabda, “Ia benar, aku diberi nama Muhammad pada saat aku dilahirkan dan sama sekali tidak ada alasan untuk marah karena ia memanggilku dengan nama itu.” Kadang-kadang orang menghentikan beliau di perjalanan dan mengajak bercakap-cakap, menerangkan kebutuhannya dan meminta pertolongan kepada beliau. Beliau selalu mendengarkan dengan penuh sabar dan membiarkan mereka terus bicara dan beliau baru meneruskan perjalanan kalau sudah urusannya selesai. Pada waktu orang-orang berjumpa dan bersalam-salaman, orang kadang-kadang memegang tangan beliau beberapa lama, dan walaupun beliau beranggapan hal itu kurang enak dan membuang percuma waktu yang berharga, tidak pernah beliau lebih dahulu melepaskan tangan. Orang bergaul bebas dengan beliau, memaparkan kesusahan dan kesukaran mereka kepada beliau serta meminta pertolongan beliau. Jika beliau mampu memberikannya, beliau tidak pernah menolak.<br /><br />Terkadang beliau diusik orang-orang dengan aneka ragam permintaan yang sangat berat dan mendesak, tetapi beliau selalu mengabulkan dan melaksanakan sejauh kemungkinan beliau. Sekali peristiwa, setelah memenuhi suatu permintaan, beliau memberi nasihat kepada orang yang bersangkutan agar lebih bertawakal kepada Tuhan dan menjauhi kebiasaan meminta kepada orang lain untuk meringankan bebannya.<br /><br />Pada suatu hari seorang orang muslim yang mukhlis minta uang untuk kesekian kalinya kepada beliau dan tiap-tiap kali permintaannya diluluskan, tetapi hari itu beliau bersabda, “Sebaiknya seseorang bertawakal kepada Tuhan dan menjauhi kebiasaan meminta-minta.” Orang tersebut seorang mutaki. Untuk menjaga perasaan Rasulullah saw. pemberian itu tidak dikembalikan tetapi ia bersumpah tidak akan meminta apa pun kepada siapa juga pada hari-hari mendatang dalam keadaan bagaimana juga. Beberapa tahun kemudian ia ikut serta dalam suatu peperangan. Ia menunggang kuda dan ketika pertempuran tengah berkecamuk, saat riuh gemerincingnya senjata dengan sejata saling beradu sampai di puncaknya dan ia dikepung musuh, cambuknya terlepas dan jatuh. Seorang prajurit muslim yang berjalan kaki melihat keadaan itu dan membungkuk untuk mengambilkan cambuk itu, tetapi orang berkendaraan itu melarangnya, lalu ia sendiri melompat dari kudanya dan mengambil cambuk itu sambil berkata bahwa ia telah lama berjanji kepada Rasulullah saw. tidak akan meminta lagi pertolongan kepada siapa pun sehingga kalau mengizinkan sang prajurit itu mengambilkan cambuknya akan sama halnya seperti meminta pertolongan secara tidak langsung dan dengan demikian telah berdosa, melanggar janjinya kepada Rasulullah saw.Isa Mujahid Islamhttps://plus.google.com/101520660425794764943noreply@blogger.com0